Polri Harus Tetap Profesional Dalam Menangani Kasus Novel

  • Whatsapp
Direktur Lemkapi, Edi Hasibuan (tengah) bersama Kapolri Jenderal Idham Azis (kiri)- istimewa.

JAKARTA, REDAKSI24.COM– Keberhasilan Polri menangkap dua tersangka penyiraman air keras terhadap penyidik senior KPK, Novel Baswedan, mendapat apresiasi banyak kalangan. Namun tak sedikit pula yang mempertanyakan penangkapan tersebut karena dinilai kurangnya transparansi pihak polisi.

Ditengah perbedaan persepsi publik, polisi tetap diminta untuk bekerja sesuai kapasitasnya sebagai aparat yang menjalankan penyidikan. Publik diharapkan memberi ruang dan waktu kepada Kepolisian untuk menuntaskan penyelidikan kasus Novel.

Bacaan Lainnya

Lembaga Kajian Strategis Kepolisian Indonesia atau Lemkapi, turut memberi suara yang sama. Lembaga itu meminta Polri mengedepankan profesionalisme dalam menangani kasus penyiraman Novel. Polri harus konsisten terhadap hasil penyidikannya walau harus berbeda pandangan dengan opini sebagian publik.

“Kami meminta Polri tetap profesional dan memegang teguh apapun hasil penyidikanya. Fiat justitia ruat caelum (keadilan harus ditegakkan walau langit akan runtuh),” ujar Direktur Eksekutif Lemkapi, Edi Hasibuan saat diwawancari redaksi24.com, Selasa (31/12/2019).

Edi menilai perbedaan penafsiran pada proses hukum pengungkapan Novel di tengah masyarakat merupakan sesuatu biasa. Hal pokok yang mesti dipegang Polri menurutnya adalah tetap profesional sesuai dengan fakta hukum di lapangan.

Oleh karenanya, Edi mengingatkan Polri agar bekerja tanpa merasa tersandera oleh tekanan publik yang menduga kuat adanya ada orang lain di balik dua tersangka penyiram Novel.

“Harus diingat. Apa yang dilakukan penyidik Polri saat ini, tentu akan diuji di pengadilan. Kinerja penyidik polri akan dinilai jaksa dalam membuat tuntutan dan hasil penyidikan Polisi akan dijadikan Hakim dalam memberikan putusan. Semua masyarakat bisa mengawasi proses hukum di pengadilan,” tegas mantan Komisioner Kompolnas RI ini.

Sehubungan dengan penetapan pasal 170 KUHP subsider pasal 351 ayat 2 KUHP tentang Pengeroyokan dan Penganiayaan Berat oleh Polri, dinilai Edi sudah tepat. Pasalnya, hal itu sesuai dengan ketetapan hukum terhadap tindak pidana yang dilakukan lebih dari satu orang.

BACA JUGA:

Polri Tegaskan 2 Tersangka Penyiram Novel Ditangkap Sesuai Prosedur

Tersangka berinisial RB, disebut oleh Kepolisian berperan sebagai penyiram Novel menggunakan air keras. Sementara tersangka berinisial RM adalah yang mengendarai sepeda motor dengan membonceng RB. “Kami memberikan analisa hukum, penetapan pasal pengeroyokan dan penganiayaan Novel sudah cocok,” kata Edi yang juga mantan wartawan itu.

Sedangkan penambahan pasal 55 KUHP tentang penyertaan dalam tindak pidana (medepleger), yang meliputi pelaku yang melakukan, yang menyuruh melakukan, dan yang turut serta melakukan dinilai Edi tidak meniliki unsur yang tepat untuk diterapkan. Hal itu, lanjut Edi, mengingat belum adanya fakta hukum yang dapat dibuktikan.

“Jika dalam perkembangan nanti ada fakta hukum baru, yakni ada keterlibatan pihak lain, saya kira sangat bisa ditambahkan,” pungkas Edi. (Alfin/Aan)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.