Polri Harus Tangkap Penyebut Bom Katedral Makasar Rekayasa

oleh -
polri, bom bunuh diri, teroris, gereja katedral, makasar, densus 88, ridlwan habib,
Peneliti Terorisme, Ridlwan Habib.

JAKARTA, REDAKSI24.COM – Peneliti terorisme Ridlwan Habib mengatakan polisi harus menangkap pihak-pihak yang menyebut aksi bom bunuh diri di Gerbang Gereja Katedral Makassar, Sulawesi Selatan, adalah rekayasa.

Ridlwan Habib di Jakarta, Rabu, mengatakan hal itu pascaserangan teroris di gereja Katedral Makassar, dimana Densus 88 saat ini terus melakukan pengembangkan penyidikan atas peristiwa tersebut.

Hasilnya, kata dia, jaringan teroris yang sudah menyiapkan bom juga berhasil ditangkap Densus 88 di Bekasi, Jawa Barat. Namun, masih ada saja yang menyebut terorisme adalah rekayasa.

“Densus 88 harus menangkap dan memeriksa pihak yang menyebut bom Makassar rekayasa atau konspirasi. Sebab, provokator itu bisa mempengaruhi penyidikan yang sedang berlangsung,” ujar Ridlwan.

Menurut dia, dalam JAD memang ada anggota kelompok teroris yang beroperasi di media sosial (Medsos). Tujuannya, untuk mengaburkan penyidikan polisi sekaligus mempemgaruhi masyarakat untuk tidak percaya.

BACA JUGA: Ulama Banten Minta Umat Beragama Tidak Terprovokasi Bom Bunuh Diri Gereja Katedral Makasar

“Karena itu, pihak-pihak yang tidak percaya dan menyebut terorisme adalah rekayasa harus ditangkap dan dicek jangan-jangan dia adalah anggota teroris,” kata alumni S2 Kajian Intelijen UI tersebut.

Penangkapan teroris di Bekasi ditemukan atribut dan identitas bekas ormas yang sekarang sudah dilarang. Ridlwan menyebut semuanya akan terbuka di pengadilan.

“Data pengadilan memang ada 35 mantan anggota ormas yang sekarang dilarang itu yang menjadi anggota JAD, termasuk Zainul Anshori mantan pengurus di Lamongan, mereka sudah dipenjara,” tutur Ridlwan.

Orang-orang itu biasanya tidak puas dengan organisasi lamanya, dan memilih JAD yang secara langsung membolehkan melakukan serangan teror.

“Mereka ingin berjihad dengan kekerasan, dan kelompok JAD menghalalkan itu, karena itu mereka pindah ke JAD,” ungkapnya.

Ridlwan menyebut, aliran JAD adalah salafi jihadis yang memperbolehkan serangan kepada orang kafir. Latar belakang salafi jihadis memang aliran wahabi.

“Meski begitu, tidak semua pengikut wahabi yang menjadi ‘salafi jihadis’, ada juga salafi dakwah yang pro-pemerintah,” tandas Ridlwan.(ANT/DIFA)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

No More Posts Available.

No more pages to load.