Polisi Temukan Fakta Baru Atas Meninggalnya Gadis Dibawah Umur Yang Diperkosa di Tangsel

  • Whatsapp
Kasat Reskrim Polres Tangerang Selatan, AKP Muharam Wibisono (Kiri) bersama Kapolsek Pagedangan, AKP Efri sedang berikan keterangan pers.

TANGERANG SELATAN, REDAKSI24.COM – Sejumlah fakta baru terungkap dalam kasus pencekokan pil hexymer dan pemerkosaan yang dialami gadis dibawah umur, warga Kelurahan Pondok Jagung, Kecamatan Serpong Utara, Tangerang Selatan. Mulai dari adanya bukti dua kali diperkosa secara bergilir hingga bertambahnya jumlah tersangka.

Kasat Reskrim Polres Tangerang Selatan AKP Muharam Wibisono mengatakan, dari hasil pembongkaran makam tersebut, ditemukan adanya bekas persetubuhan.

Bacaan Lainnya

“Hasil sementara, ada bekas persetubuhan di tubuh korban. Sehingga sementara dapat disimpulkan intinya persetubuhan dilakukan oleh para pelaku telah terjadi,” katanya setelah proses pembongkaran makam di Tempat Pemakaman Bukan Umum (TPBU) Tanjung Priyang, Pondok Jagung, Kecamatan Serpong Utara, Tangerang Selatan, Rabu (17/6/2020).

Sementara itu, pihaknya masih menunggu hasil uji laboratorium dari tim forensik RS Kramat Jati Mabes Polri. “Kita masih menunggu hasil lab selama 14 hari kedepan. Apakah korban meninggal karena pil hexymer atau lainnya,” terangnya.

Di tempat yang sama, Kapolsek Pagedangan AKP Efri mengungkapkan, ada penambahan jumlah pelaku dari semula 7 orang, kini menjadi 8 orang. Saat ini, pihaknya pun sudah berhasil mengamankan 6 orang pelaku pemerkosaan bergilir itu.

“Hasil dari penyelidikan tersangka kini bertambah menjadi 8 orang dan 6 orang diantaranya sudah berhasil diamankan,” kata Efri.

Bahkan, Efri menuturkan, ada fakta baru, bahwa aksi persetubuhan bergilir tersebut terjadi dua kali. Pertama terjadi pada 10 April dan 18 April 2020 di tempat yang sama di RT 04 RW 004, Desa Cihuni, Kecamatan Pagedangan, Kabupaten Tangerang.

“Ada dua aksi pemerkosaan, rangkaian pertama dilakukan 8 orang pelaku, nyambung lagi dilakukan 7 orang pelaku. Para pelaku satu kampung dan berusia dari 18-24 tahun,” tuturnya.

Dari kedelapan pelaku tersebut, Efri menyebut ada yang merupakan kakak beradik pemilik rumah yang dijadikan tempat aksi memerkosa OR (16)  secara bergilir. “Pelaku yang merupakan kakak pemilik rumah ini sudah punya tiga orang anak,” sebutnya.

Efri menegaskan, para pelaku aksi pencekokan pil hexymer dan pemerkosaan gadis di bawah umur itu, dikenakan sanksi ancaman pidana sesuai Undang-undang Perlindungan Anak nomor 17 tahun 2016 pasal 81 subsider pasal 81 dengan ancaman hukuman maksimal 15 tahun penjara. (wvyh/Aan)

 

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.