Polisi Bongkar Jaringan Narkoba Antar Provinsi di Pelabuhan Merak

  • Whatsapp
bareskrim polri
Wakil Kepala Polri, Komjen Pol Gatot Eddy Pramono menunjukan barang bukti sabu yang hendak disleundupkan di Pelabuhan Merak, Banten.

CILEGON, REDAKSI24.COM – Direktorat Tindak Pidana Narkoba Bareskrim Polri mengungkap jaringan narkoba antar provinsi pada masa Pandemi corona virus disease atau Covid-19. Dari hasil pengungkapan tersebut, polisi mengamankan dua tersangka berikut barang bukti narkoba jenis sabu sebanyak 71 kilogram (Kg).

Wakil Kepala Polri, Komjen Pol Gatot Eddy Pramono mengatakan, selain barang bukti narkoba jenis sabu yang diamankan dari dua tersangka, pihaknya juga mengamankan barang bukti berupa 3 unit handphone, 1 unit komputer serta 1 unit Daihatsu Grand Max yang digunakan mafia narkoba antar provinsi dalam menjalankan aksinya.

Bacaan Lainnya

“Awalnya tersangka ditangkap petugas Polsek yang ada di Pelabuhan Bakauheni, Lampung,” kata Komjen Pol Gatot Eddy Pramono di Pelabuhan Merak, Rabu (20/5/2020).

Menurutnya, mereka mengubah modus penyelundupan narkoba. Karena diketahui, dalam operasi ketupat pihaknya memprioritaskan kelancaran distribusi barang. “Nah, mereka memanfaatkan ini. Mereka memasukkan sabu ke dalam safety boks, dan dibawa dengan kendaraan truk agar seolah barang tersebut adalah sembako,” katanya.

Setelah petugas mendapati barang bukti sabu sebanyak 66 Kg pada pos chek points di Pelabuhan Bakauheni Jumat (8/5/2020), kemudian petugas melakukan pengembangan yang akhirnya mendapatkan tambahan barnag bukti narkoba sebanyak 5 Kg sabu di SPBU Jambi.

“Sabu 5 Kg dimasukin ke dalam tepung, sehingga jika petugas tidak jeli, dikira paket sembako,” ujarnya.

Dari pengembangan tersebut, pihaknya mengamankan 2 tersangka berinisial RR (25) dan EA (22). Sebanyak 3 tersangka lainnya masuk dalam Daftar Pencarian Orang (DPO). “Dua orang tersangka ini pengendalinya, jadi masih ada 3 orang tersangka yang masih dalam proses pencarian,” tegasnya.

Kedua tersangka bakal dijerat pasal 112 dan 114 ayat (2) juncto pasal 132 UU RI Nomor 35 tahun 2009 tentang narkotika. Keduanya terancam hukuman maksimal 20 tahun penjara. “Atau denda minimal Rp800 juta dan paling banyak Rp8 Miliar,” tandasnya.(Firasat/Difa)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.