Polda Metro Jaya Tangkap 85 WNA Tingkok Yang Tipu Para Korbannya Hingga Rp 36 Milliar

oleh -
85 WNA TIongkok diciduk.

JAKARTA, REDAKSI24.COM — Polda Metro Jaya merilis pengungkapan tindak pidana penipuan informasi oleh 85 WNA asal China. Para pelaku yang sudah ditetapkan sebagai tersangka tersebut merupakan hasil penggerebekan di kawasan Jakarta dan Jawa Timur.

Kepala Polisi Daerah Metro Jaya, Irjen Pol Gatot Eddy Pramono mengatakan, sindikat kejahatan dalam jaringan (daring) tersebut memiliki modus operandi dengan menyamar sebagai jasa pelayanan instansi umum.

“Penipuan tersebut dilakukan oleh WN Tiongkok yang mengaku sebagai petugas kepolisian, Kejaksaan, dan Bank yang bisa membantu menyelesaikan setiap permasalahan yang berkaitan dengan instansi tersebut,” katanya dalam konferensi pers di Polda Metro Jaya, Selasa (26/11/2019).

Gatot menuturkan, selain berpura-pura sebagai petugas pelayanan instansi, para tersangka juga menipu dengan menawarkan produk dan menyuruh para korban mengirimkan sejumlah uang. Namun, produk yang ditawarkan tentu hanya tipu muslihat belaka.

Target korban juga warga negara yang sama dengan para pelaku. Modus operandi yang paling krusial adalah dengan meyakinkan para korban memiliki masalah hukum yang membutuhkan pelayanan berbayar.

“Cara mencari korban dengan cara menelpon satu persatu, dan meyakinkan bahwa para korban memiliki masalah atau pelanggaran hukum atau menawarkan produk yang apabila uang telah ditransfer, barang tidak akan kunjung datang,” tutur Gatot.

BACA JUGA:

24 WNA asal China Digrebek Polda Metro Jaya Atas Kasus Penipuan Telekonferensi

Para tersangka, lanjut Gatot, juga memiliki jaringan di Malaysia dan Kamboja. Namun, untuk perekrutan pelaku penipuan dilakukan di negara China.

“Para pelaku direkrut di Tiongkok dan dikirim ke Indonesia dengan menggunakan visa wisata dan akan pulang kembali ke Tiongkok dalam waktu tiga bulan, setelah itu digantikan pelaku baru,” jelas Gatot.

Adapun pelaku yang beraksi di kawasan hukum Polda Metro Jaya, antara lain beralamatkan:

1. Blok S Perumahan Griya Loka, Jalan Rawa Buntu Utara Nomor 9, Rawa Buntu, Kecamatan Serpong, Kota Tangerang Selatan, Banten.

2. Perum Emeral Town House, Nomor 11, Pantai Indah Kapuk, Jakarta Utara.

3. Perumahan Taman Kebun Jeruk Nomor H 11, RT. 004, RW. 011, Srengseng, Kembangan, Jakarta Barat.

4 Jalan Bandengan Utara 2, RT. 11 RW. 08 Rekoja, Tambora, Jakarta Barat.

5. Mega Kebon Jeruk, RT. 10, RW. 09 Nomor 5A, Joglo, Kembangan Jakarta Barat.

6. Jalan Anggrek Eli Murni, RT. 10 RW. 01, Kemanggisan, Oalmerwh, Jakarta Barat.

Sedangkan wilayah Jakarta Timur yang digrebek polisi beralamatkan Perumahan Istana Dieng Selatan No. 14, Malang, Jawa Timur.

Gatot mengatakan jumlah kerugian korban akibat penipuan sindikat tersebut mencapai sekitar Rp 36 miliar.

Lebih jauh Gatot menjelaskan, para tersangka telah beroperasi di Indonesia sejak empat bulan lalu. Namun ia mengatakan perkara tersebut masih terus dilakukan pendalaman Polda Metro Jaya dan Divisi Hubungan Internasional (Divhubinter) Polri yang bekerjasama dengan polisi Tiongkok.

Polisi juga memeriksa enam warga negara Indonesia (WNI) yang membantu pelaku menyiapkan kebutuhan sehari-hari seperti makan, membersihkan rumah, dan lain-lain. Namun Gatot mengatakan keenam WNI itu tidak terlibat langsung dengan tindak penipuan para WNA China.

Polisi berhasil mengamankan barang bukti puluhan laptop, ratusan handphone, sejumlah Paspor tersangka serta puluhan perangkat lainnya yang digunakan sebagai media para tersangka melakukan penipuan.

Atas perbuatannya, para tersangka dikenakan Pasal 30 Jo Pasal 46 dan/atau Pasal 32 Jo Pasal 48 dan/atau Pasal 35 Jo Pasal 51 UU RI No. 19 Tahun 2016 Tentang ITE dan/atau Pasal 378 KUHP.

Sebelumnya diberitakan, jajaran Polda Metro Jaya menggerebek sebuah rumah mewah yang beralamat di Blok C/13, Jalan Anggrek Neli Murni II, Slipi, Jakarta Barat. Saat kejadian, polisi mengamankan puluhan warga negara China.

Kabid Humas Polda Metro Jaya, Kombes Pol Yusri Yunus menjelaskan, saat kejadian, tak hanya WNA asal Cina yang diamankan, polisi juga mengamankan 2 orang WNI. Para pelaku diamankan karena tersandung kasus penipuan telecommunication fraud atau penipuan dengan menggunakan media telekomunikasi.

Yusri mengatakan, jaringan penipuan ini sudah diintai oleh petugas kepolisian selama 3 bulan terakhir. Kemudian, pada 25 November 2019 polisi melakukan penggerebekan.

“Jaringan ini kerap menipu korbannya dengan cara seolah-olah dapat membantu korban yang sedang mengalami masalah. Diantaranya mengurus permasalahannya hingga mengurus administrasi pajak korban,” pungkasnya. (Alfin/Aan)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

No More Posts Available.

No more pages to load.