PKL Alun-Alun Menes Pandeglang Ditenggat Sampai 7 Juni Pindah ke PJM

  • Whatsapp
PKL Pandeglang
Petugas Satpol PP Kecamatan Menes, Pandeglang mendata PKL yang berjualan di trotoar.

PANDEGLANG, REDAKSI24.COM – Satpol PP mengingatkan para Pedagang Kaki Lima (PKL) di sepanjang trotoar Alun-alun Kecamatan Menes, Pandeglang untuk pindah ke kawasan Pusat Jajanan Menes (PJM). Sebab keberadaan PKL di kawasan itu telah melanggar Ketertiban, Keindahan dan Keamanan (K3).

Kepala Satpol-PP Kecamatan Menes, Pandeglang, Haerul mengatakan, pihaknya saat ini telah memberikan surat teguran kepada para PKL yang ada di Alun-alun Kecamatan Menes, khususnya mereka yang menempati trotoar, untuk segera pindah.

Bacaan Lainnya

“Hari ini kami kasih surat peringatan, agar pada tanggal 7 Juni nanti pindah dari trotoar ke PJM. Karena trotoar bukan tempat untuk berjualan,” ungkapnya, Kamis (4/6/2020).

Menurutnya, PKL yang ada di trotoar tersebut sudah melanggar K3. Sebab trotoar bukan untuk para PKL, tapi untuk para pejalan kaki. Sebab itu, pihaknya meminta agar para PKL pindah dari trotoar.

“Selain itu agar kawasan Alun – alun tidak kumuh dan hak pejalan kaki tidak hilang. Maka tidak boleh di trotoar, kami minta pindah ke kawasan PJM lagi,” katanya.

Menurutnya, para PKL itu pada awalnya berdagang di kawasan PJM. Namun beberapa pekan laku mereka pindah ke trotoar Alun-alun. Maka demi menjaga K3 di kawasan Alun-alun, para PKL itu harus kembali lagi ke PJM.

“Jika nanti pada waktu yang sudah ditentukan tidak pindah juga, maka kami akan bongkar paksa lapak-lapakny,” tegasnya.

Sementara, salah seorang pedagang Bilor, Eman mengaku, tadinya berjualan di kawasan PJM. Namun karena sepi pengunjung, akhirnya dia pindah ke trotoar kawasan Alun-alun. “Pada saat ada pandemi covid-19, kawasan PJM sepi pengunjung. Karena sekolah banyak yang diliburkan, pendapatan kami menurun, sebab mayoritas pengunjung PJM itu anak sekolah,” ujarnya.

Saat ditanya apakah pindah lokasi berjualan dari PJM ke trotoar itu ada yang memerintahkan, ataukah membayar sewa lahan, Eman mengaku tidak ada, hanya saja ia dibebankan biaya kebersihan sebesar Rp5 ribu perhari.

“Ini inisiatif kami sendiri, karena di PJM sepi. Kami juga bayar biaya kebersihan.setiap hari dan yang biasa memungut biaya kebersihan itu pengelola PJM,” tuturnya.

Saat ditanya lagi apakah setelah diberi surat peringatan, ia mengaku akan pindah dari trotoar jika pedagang lain juga semua pindah. “Kalau semua pedagang di sini (trotoar) pindah, saya juga pindah. Tapi kalau semuanya tidak, saya juga akan bertahan,” tandasnya. (Samsul Fathoni/Difa)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.