Perputaran Uang di ‘Lebaran Online’

  • Whatsapp
Dosen umt, hamdani

Oleh: Hamdani

MENJADI fenomena menarik pada setiap perayaan lebaran, dimana terjadi perpindahan uang THR yang berasal dari kota menuju desa. Sesampainya di desa, uang tersebut dibelanjakan untuk kebutuhan pokok, pakaian dan tamasya ala kampung, membuat aktivitas ekonomi di desa semakin bergairah. Larangan mudik tahun ini, membuat uang THR mengendap di kota, sehingga sirkulasi uang tersendat dan ekonomi di pedesaan melemah.

Bacaan Lainnya

Lonjakan pemudik memicu perputaran uang di masyarakat. Sebagaimana yang terjadi pada lebaran tahun lalu, uang yang dibawa oleh pemudik Jabodetabek yang dibelanjakan mencapai Rp10,3 triliun, di Jawa Barat mencapai Rp2,05 triliun, Jawa Timur mencapai Rp1,3 triliun dan sisanya tersebar. Setiap pemudik menghabiskan dananya di lokasi mudik rata-rata Rp500 ribu sampai Rp1,5 juta (https://mediaindonesia.com, 17/05/20).

Lebaran tahun ini, diperkirakan perputaran uang di daerah menurun hingga Rp 3.09 triliun (https://www.merdeka.com/17/05/20). Selain karena ada larangan mudik, pandemi virus Corona dan efisiensi dunia usaha menjadi penyebab penuruanan predaran uang di lokasi pemudik. Beberapa perusahaan yang terdampak Corona, melakukan pengurangan jatah THR untuk karyawannya. Diperparah dengan gelombang PHK yang terjadi secara besar-besaran.

Jika perputaran uang berkurang akibat Corona, tentu akan berdampak pada menurunnya gairah ekonomi di daerah atau pedesaan. Hal ini bisa menekan daya beli masyarakat. Sejatinya lebaran itu bukan saja momen untuk meningkatkan ketakwaan, namun lebih luas memiliki dimensi sosial dan pemerataan ekonomi bagi masyarakat pedesaan.

Sepertinya lebaran tahun ini akan terasa berbeda. Selain bersukacita, tentunya ada kewaspadaan kepada siapa saja yang dijumpai. Menjadi tradisi yang unik saat lebaran tiba, masyarakat di perkampungan saling berkunjung, bersalaman, saling sapa, dalam suasana penuh keakraban. Lebaran tahun ini akan terasa hambar dan berubah karena pandemi virus Corona.

Masyarakat cenderung menjaga jarak aman, bahkan mencoba menghidar untuk sekedar bersalaman, berpelukan, cipika dan cipiki diantara keluarga. Bagi yang merayakannya, akan lebih aman memilih lebaran bergaya online melalui sambungan telepon. Namun ada negatifnya, lebaran gaya baru ini bisa mendekatkan yang jauh dan menjauhkan yang dekat.

Larangan mudik dan social distancing saat pandemi virus Corona, memicu lonjakan pemanfaatan data dan aplikasi layanan berbasis streaming hingga mencapai 60 persen. Instant messaging 16 persen, social network 11,5 persen, dan lain-lain sekitar 6,5 persen. Selama diberlakukan Work From Home (WFH) tarif layanan seluler juga mengalami lonjakan hingga 18 persen dari kondisi normal (https://gizmologi.id, 12/05/20).

Sebagaimana diprediksikan oleh Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo), lebaran tahun ini akan terjadi kenaikan traffic seluler atau lalu lintas data mencapai 30 persen sampai dengan 40 persen. Kenaikan tersebut meningkat 10 persen dari hari raya biasa saat tidak adanya wabah Covid-19. Pemanfaatan internet selama pandemi virus Corona harus tetap bijak dengan tidak menyebar atau memproduksi hoaks.
Suasana haru akan menyelimuti, terlebih bagi mereka tidak bisa pulang kampung. Untuk mengobati kerinduan, cukup hallo via online. Tapi sayang semua serba online, hanya terlihat di layar kaca. Tidak merasakan langsung berlebaran di kampung halaman. Bagi yang sudah pulang kampung, tentu menjadi kebahagian tersendiri bisa berjumpa dengan orang tua dan sanak saudara.

Ketika kita bisa memilih, apakah Lebaran online atau lebaran offline? Tentu, lebih memilih lebaran offline. Alasannya beragam, tapi semua sepakat dengan lebaran offline, yaitu lebaran melalui perjumpaan dalam dunia nyata pada suasana kampung yang dirindukan. Bagi perantau yang hanya berkesempatan mudik setahun sekali, suasana kebatinannya bergejolak penuh kerinduan, karena teringat kampung halaman yang sudah lama ditinggalkannya.

Lebaran online akan berdampak pada semakin kecilnya perputaran uang di daerah. Agar aktivitas ekonomi terus menggeliat, sebaiknya THR ditransfer saja via online. Semoga lebaran menjadi akhir dari pandemi virus Corona. Sejatinya, masyarakat tidak ingin hidup penuh ketakutan, apalagi harus berdampingan dan bersahabat dengan Corona.(*)

*Penulis adalah Dosen, Peneliti dan Kaprodi S1 Manajemen Fakultas Ekonomi dan Bisnis di Universitas Muhammadiyah Tangerang (UMT).

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.