Permukaan Tanah Makin Menurun, Industri Didorong Gunakan Air Perpipaan

oleh -
DISKUSI MEDIA : Direktur Utama PT Aetra Air Tangerang (kedua dari kiri) dan Peneliti Geoteknologi LIPI Rachmat Fajar Lubis pada diskusi bertema Ancaman Dibalik Eksploitasi Air Tanah, beberapa waktu lalu. Foto : Hendra Wijaya/Redaksi24.com.

TANGERANG,R24—Ancaman kian menurunnya permukaan tanah di Indonesia termasuk di Tangerang semakin mengkhawatirkan. Menurut peneliti Geoteknologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Rachmat Fajar Lubis, hal tersebut salah-satunya disebabkan oleh semakin masifnya eksploitasi air tanah oleh kalangan industri
“Penyedotan air tanah oleh kalangan industri beresiko menurunkan permukaan tanah,” ungkap pria yang akrab disapa Fajar ini pada diskusi bersama kalangan media yang digelar PT Aetra Air Tangerang bertema Ancaman Dibalik Eksploitasi Air Tanah, baru-baru ini.
Menurut Fajar, berkembangnya pembangunan yang tidak diimbangi dengan sarana prasarana memadai terhadap penyediaan air baku menyebabkan eksploitasi air tanah semakin intensif, tidak seimbang secara siklus hidrologis. Padahal Menurutnya, hujan, sungai, danau dan air tanah merupakan satu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan. Artinya, kata dia, bila salah satu terabaikan, bisa menimbulkan bahaya bagi seluruhnya.
Fajar mengatakan, berkurangnya daerah imbuhan, bertambahnya zona air tanah kritis dan rusak di beberapa cekungan. Banyaknya titik sumur tidak berizin. Ketidakmampuan air permukaan sebagai penyedia air baku/air bersih.
Berbagai dampak negatif eksploitasi air tanah berlebih, seperti turunnya muka air tanah, penurunan kualitas air, intrusi air laut di kawasan pantai, land subsidence atau penurunan muka tanah.
“Karena itu kami mengajak masyarakat, terutama kalangan industri untuk stop menggunakan air tanah. Lebih baik gunakan air perpipaan untuk mencegah kerusakan permukaan tanah,” ujarnya.
Sementara Direktur Utama PT Aetra Air Tangerang Hari Yudha Hutomo menilai, dampak eksploitasi air tanah tidak akan berhenti pada sebatas habisnya air di dalam tanah. Banyak runtutan kerusakan lingkungan yang menyertainya, seperti intrusi air laut dan tanah amblas.
“Menyelamatkan lingkungan salah satunya dengan cara menghentikan penggunaan air tanah secara berlebihan. Dan mulai beralih ke sumber air yang terbarukan dan ramah lingkungan,” katanya.
Hari menyebut, Kabupaten Tangerang terkena dampak eksploitasi air tanah. Hal itu ditandai dengan semakin buruknya kualitas air tanah, berkurangnya volume air tanah dan terjadinya intrusi atau rembesan air laut.
“Informasinya intrusi air laut sudah mencapai Balaraja dan Cikupa yang berjarak 30-40 KM dari laut. Kondisi itu menyebabkan air tanah di beberapa lokasi tidak bisa dikonsumsi,” jelasnya.
Karena itu, kata Hari, pihaknya bersinergi dengan Pemkab Tangerang serta elemen lainnya untuk terus melakukan sosialisasi sekaligus edukasi terkait konservasi air tanah. “Kami bersama dinas terkait terus mendorong industri di Kabupaten Tangerang untuk beralih menggunakan air perpipaan,” tandas Hari.(hdr)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *