Peringatan Satu Dekade Padepokan Kebangsaan Karang Tumaritis: Menjadi Tempat Untuk Menjadi Manusia Lebih Baik

  • Whatsapp
Anggota DPR RI Komisi VI Ananta Wahana
Anggota DPPR RI Komisi VI, Ananta Wahana (tengah) saat merayakan 10 tahun berdirinya Padepokan Kebangsaan Karang Tumaritis, Minggu, (1/11/2020).

TANGERANG SELATAN, REDAKSI24.COM,– Tak terasa sudah genap satu dekade keberadaan Padepokan Kebangsaan Karang Tumaritis. Padepokan yang didirikan Ananta Wahana, anggota Komisi VI DPR RI dari Fraksi PDI Perjuangan di Bojong Nangka, Kecamatan Kelapa Dua, Kabupaten Tangerang, Banten ini dibangun dengan semangat untuk membuat manusia menjadi lebih baik.

“Semangat yang ditumbuhkan lewat Padepokan Kebangsaan ini, adalah membuat manusia menjadi lebih baik. Bagaimana membuat orang dalam kondisi minus menjadi plus,” ujar Ananta saat menghadiri acara syukuran 10 Tahun Padepokan Kebangsaan Karang Tumaritis, Minggu (1/11/2020). 

Bacaan Lainnya

Ananta menjelaskan,  nama padepokan ini, diambil dari kisah pewayangan. Dimana, Karang Tumaritis merupakan tempat persinggahan Semar Badranaya. Selain itu, Tumaritis dikisahkan menjadi bagian dari kerajaan Amarta di bawah kekuasaan Yudhistira.

Disamping itu, Tumaritis secara etimologi diartikan sebagai tempat mitologis, yakni kampung atau negeri yang menjadi rumah kalangan Punakawan. Di dalam pewayangan Sunda maupun Jawa, biasanya diawali dengan ‘Karang’ yang memiliki makna Kebun.

Sebagai rumah bagi punakawan, maka Tumaritis wajib menjadi tempat yang menghidupkan harmoni bagi semua makhluk, tanpa saling merugikan satu sama lain. Sementara padepokan dipilih karena, tidak mencerminkan segmentasi keagamaan tertentu, atau lebih Nasionalis.

Padepokan ini memiliki ragam upaya dalam melestarikan kebudayaan. Sembari merintis, Tumaritis juga mencari jalan terang kemanusiaan.

Menurut Ananta Wahana, Padepokan Kebangsaan Karang Tumaritis ini berdiri sejak 2010 silam, berada di lahan seluas 3000 meter persegi. Tempat tersebut tak pernah sepi dari aktivis.

Menurut  Ananta salah satu cara untuk membuat manusia menjadi lebih baik adalah  dengan memperbanyak silaturahmi dan diskusi yang diinisiasi padepokan.

“Kita mengumpulkan elemen-elemen mahasiswa untuk diskusi. Lalu ada taman baca. Ini, kerja sama dengan perguruan tinggi sekitar, misalnya UPH (Universitas Pelita Harapan),” jelas Ananta, 

Pembangunan rumah budaya, lanjut Ananta, dimulai sejak padepokan kebangsaan itu tak pernah sepi dari kalangan mahasiswa dan intelektual. Berada di lingkungan Padepokan, tempat tersebut sering menampilkan musik dan kesenian yang beragam.

ananta wahana

Fasilitas Padepokan

“Ada gamelan dan keroncong, tapi tidak menutup kemungkinan musik dan kesenian lain juga ditampilkan,” papar Ananta.

Tidak hanya itu, terang Ananta, padepokan ini rutin menggelar pementasan gamelan tiap malam minggu. Satu set gamelan serta alat musik tradisional lainnya, menghiasi rumah budaya ini.

Bahkan lebih dari itu, padepokan ini menyediakan sekolah dini bagi warga sekitar. Sedangkan untuk biaya, sekolah tersebut digratiskan untuk seluruh warga Kelapa Dua. Bahkan Padepokan Tumaritis ini beberapa waktu terakhir, pernah dijadikan tempat pengungsian warga dari Vietnam, Afganistan dan Iran. Di sini, anak-anak mereka juga banyak yang disekolahkan.

“Disini dulu anak-anak tidak sekolah, kita bikin Paud gratis. Karena, anak-anak sudah tidak masa paud lagi, jadi kita bikin Sekolah Dasar (SD),” jelas Ananta.

Selain fasilitas pendidikan dan kebudayaan, padepokan kebangsaan ini juga memiliki fasilitas rumah ibadah, seperti musala dan air bersih. Masyarakat sekitar, juga diikutsertakan dalam pengelolaan dan pemanfaatannya.

Terkait air bersih, padepokan ini juga ikut mengatasi kelangkaan air, bagi masyarakat sekitar. Saat kemarau tiba, hampir 300 kepala keluarga menggantungkan kebutuhan air bersih di padepokan ini.

“300 KK juga bergantung air dari sini. Karena, di sini sumurnya satelit, 125 meter,” katanya. Karena pendiriannya ‘hanya’ bermodal semangat yang tulus, tutur Ananta, maka cukup banyak bantuan yang berdatangan. Salah satunya, Corporate Social Responsibility (CSR) dari Hutama Karya (HK).

Karena menarik, maka HK datang ke sini dan ikut CSR,” ujarnya. Perkiraan awal, pembangunan ini ditaksir membutuhkan anggaran sekitar 450 juta. Namun Ananta mengaku, dirinya mampu menekan biaya dengan material berkualitas, tapi harganya murah. Selain itu, Ia mempekerjakan warga sekitar pada proses renovasi. Alhasil, ia menghabiskan CSR dari HK hanya sekitar 250 juta.

“Kita juga membuka lapangan pekerjaan bagi warga sekitar saat sedang membangun ini,” tutup Ananta.(ejp/hendra)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.