Peredaran Narkotika Marak, Polresta Tangerang Ringkus 18 Pengedar

oleh -
Kapolresta Tangerang, Kombes Pol Ade Ary Syam Indradi (kedua dari kanan).

KABUPATEN TANGERANG, REDAKSI24.COM — Dalam kurun waktu dua minggu Satuan Reserse Narkoba Polresta Tangerang meringkus 18 orang pengedar narkoba. Para pengedar narkotika jenis sabu dan obat-obatan terlarang yang berhasil dibekuk itu merupakan hasil tangkapan periode 1-16 Februari 2020.

Kapolresta Tangerang Kombespol Ade Ary Syam Indradi mengatakan, para pengedar narkoba yang ditangkap itu rata-rata berprofesi sebagai buruh pabrik. Dengan dalih ingin mencari penghasilan tambahan, mereka nekat menjual narkoba dengan sasarannya adalah para pekerja hingga anak sekolah.

“Para pengedar sabu menjualnya melalui aplikasi whatsapp.mereka melakukan transaksi di rumah pengedar, parkiran, apartemen, dan tempat keramaian,” ungkap Kapolres dalam gelar perkara Kasus Narkoba di ruang Rupatama Polresta Tangerang, Senin (17/2/2020).

Kapolres Ade Ary melanjutkan, para pengedar sabu membeli dari pengedar lain seharga Rp 1,4 juta pergram, lalu mereka jual kembali dalam paket ukuran kecil dengan harga Rp 2,4 juta/gram. Sedangkan, 1 dari 18 tersangka yang menjual obat-obatan jenis tramadol dan Eximer yang ditangkap di wilayah Mauk, mengaku obat yang masuk dalam daftar G tersebut dijual Rp10 ribu dalam satu strip.

“Untuk sabu nilai jualnya sama seperti nilai beli, hanya saja takarannya mereka kurangi. Nah, kalau obat-obatan ini harganya Rp10 ribu satu strip dengan modus penjulannya melalui toko toko kosmetik,” ungkapnya.

BACA JUGA:

Kasus Penyalahgunaan Narkoba di Wilayah Hukum Polresta Tangerang Terus Meningkat

3 Orang Pembawa Sabu Senilai Rp 864 Miliar Ditembak Mati Polda Metro Jaya

Ia menambahkan, dalam pengungkapan kasus ini polisi juga turut mengamankan barang bukti narkotika narkotika jenis sabu sebanyak 13,63 gram, ganja kering 2,26 gram, tramadol 127 butir dan excimer 388 butir.

Sementara itu, para tersangka dijerat dengan Pasal 114 dan 112 KUHP, tentang penyalahgunaan narkoba serta Undang-Undang Kesehatan pasal 196 untuk penggunaan obat obatan yang dilarang, dengan ancaman hukuman maksimal 20 tahun penjara. (Ricky/Aan)