Penyidik KPK Ngaku Bertemu Wali Kota Tanjungbalai Hanya 30 Menit

oleh -
dprri, azis, syamsuddin, mSyahrial, kota, tanjungbalai
Penyidik KPK mengaku bertemu Wali Kota Tanjungbalai hanya 30 menit di Rumah Dinas Wakil Ketua DPR RI Azis Syamsuddin. Foto: Tersangka Penyidik KPK Stepanus Robin Pattuju (kiri) berjalan usai menjalani pemeriksaan perdana di Gedung Merah Putih KPK, Jakarta, Senin (26/4/2021)/Antara.

JAKARTA, REDAKSI24.COM–Penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Stepanus Robin Pattuju (SRP) mengaku bertemu Wali Kota Tanjungbalai M Syahrial (MS) di Rumah Dinas Wakil Ketua DPR RI Azis Samsyuddin  hanya berlangsung 30 menit.

Stepanus menyebut dalam pertemuan tersebut, M Syahrial sempat menceritakan masalah adanya penyelidikan yang sedang dilakukan oleh KPK di Pemkot Tanjungbalai.

“Setengah jam, ya dia cerita masalah dia saja,” kata Stepanus di Gedung KPK, Selasa (27/4/2021).

 

KPK gali peran Azis Syamsuddin

Sebelumnya, Ketua KPK Firli Bahuri pada Sabtu (24/4) menyampaikan bahwa akan melakukan upaya-upaya untuk mengungkap seterang-terangnya perkara ini, termasuk peran  Azis Syamsuddin sebagai Wakil Ketua DPR RI dalam kasus tersebut.

Menurut Firli, untuk menggali peran Azis Syamsuddin, KPK terlebih dahulu mengumpulkan bukti dan keterangan dari para saksi yang terkait dengan kasus.

“Setelah itu, baru kami akan lihat perbuatannya apa, keterangan saksinya bagaimana, bukti lain apa, petunjuknya apa, dokumennya apa karena unsur pemidanaan harus dipenuhi,” ucapnya.

Dia menjelaskan, dalam konstruksi perkara disebut bahwa pada bulan Oktober 2020 M Syahrial menemui Wakil Ketua DPR RI Azis Syamsuddin di rumah dinasnya, Jakarta Selatan, dan menyampaikan permasalahan adanya penyelidikan yang sedang dilakukan oleh KPK di Pemerintahan Kota Tanjungbalai, Sumatera Utara.

Kemudian Azis memerintahkan ajudannya menghubungi Stepanus yang merupakan penyidik KPK dari Polri, untuk datang ke rumah dinas Azis, dan selanjutnya Azis langsung memperkenalkan Syahrial  dengan Stepanus.

Dalam pertemuan itu M Syahrial meminta Stepanus membantu agar penyelidikan yang sedang dilakukan oleh KPK di Pemerintahan Kota Tanjungbalai tersebut tidak ditindaklanjuti oleh KPK.

Setelah pertemuan, Stepanus mengenalkan Maskur Husain (MH) selaku pengacara melalui telepon kepada M Syahrial untuk membantu permasalahannya tersebut.

Kemudian Stepanus bersama Maskur sepakat untuk membuat komitmen dengan M Syahrial dengan menyiapkan uang sebesar Rp1,5 miliar.

“MS menyetujui permintaan SRP dan MH tersebut dengan mentransfer uang secara bertahap sebanyak 59 kali melalui rekening bank milik RA (Riefka Amalia/swasta) teman dari saudara SRP. Dan MS juga memberikan uang secara tunai kepada SRP hingga total uang yang telah diterima SRP sebesar Rp1,3 miliar,” ungkap Firli.

Dari uang yang telah diterima oleh Stepanus dari M Syahrial, kata Firli, lalu diberikan kepada Maskur sebesar Rp325 juta dan Rp200 juta.

Selain itu, KPK menduga Stepanus dan Maskur tidak hanya menerima uang dari M Syahrial.

“MH juga diduga menerima uang dari pihak lain sekitar Rp200 juta, sedangkan SRP dari Oktober 2020 sampai April 2021 diduga menerima uang dari pihak lain melalui transfer rekening bank atas nama RA sebesar Rp438 juta,” katanya.(ejp)

Sumber: Antara

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.