Penyertaan Modal Bank Banten yang Dijanjikan Gubernur Ternyata Catatan Piutang

  • Whatsapp
bank banten
Bank Banten

KOTA SERANG, REDAKSI24.COM – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) telah mengunci posisi Bank Banten dalam pengawasan khusus, ketika Pandemi covid-19 melanda. Untuk mencabut status tersebut, perseroan diperkirakan membutuhkan suntikan dana sekitar Rp2,8 triliun.

Ditengah kondisi likuiditas yang dialami, Bank Banten membutuh fresh money atau dana segar agar kembali bisa beroperasi seperti biasa. Belakangan Pemprov Banten bukan memberikan dana segar, tapi hanya catatan piutang sebesar Rp1,9 triliun yang tidak bisa ditarik di Bank Banten karena peningkatan status dari OJK.

Bacaan Lainnya

Komisaris Bank Banten, Media Warman ketika dikonfirmasi membenarkan dana Kasda yang dikonversi menjadi penyertaan modal untuk Bank Banten hanya dalam bentuk catatan piutang yang masuk dalam pembukuan Bank Banten. “Fresh money-nya gak ada, karena dana itu dalam catatan piutang,” katanya kemarin.

Mantan Sekretaris DPD Demokrat Provinsi Banten itu menambahkan, status dana Kasda yang sebesar Rp1,9 triliun itu, sudah digunakan perseroan untuk modal fasilitas kredit yang diberikan kepada nasabah.

BACA JUGA: Gubernur Banten Pastikan Rencana Marger Bank Banten Terus Berlanjut

“Jadi karena core bisnis perbankan itu keuangan, setiap dana yang masuk ke Bank Banten kami putar untuk fasilitas kredit. Hal itu dilakukan karena keuntungan perbankan salah satunya dari perputaran uang tersebut. Tapi karena banyak terjadi kredit macet, perputaran uang akhirnya tidak bisa berjalan dengan baik,” katanya.

Selain dari sektor kredit, lanjutnya, karena Bank Banten merupakan Perseroan Terbatas (PT), maka bisa mencari dukungan dana publik melalui proses right issue yang akan dilakukan dalam waktu dekat setelah status dari OJK itu dicabut. “Saya minta doanya agar proses ini berjalan lancar,” harapnya.

Berdasarkan data PT Banten Global Development (BGD) selaku induk usaha Bank Banten, pada saat hearing dengan komisi III DPRD Banten beberapa waktu lalu menyebutkan, total kredit macet yang dialami Bank Banten mencapai Rp225 miliar.

Kredit macet itu terdiri dari kredit komersial bermasalah sebesar Rp188 miliar dari total dana outstanding sebesar Rp742 miliar dan kredit konsumer bermasalah sebesar Rp37 miliar dari total dana outstanding sebesar Rp2,7 triliun.

Pandemi covid-19, menurut Media, memberikan dampak yang cukup besar terhadap likuiditas keuangan perseroan. Tercatat pada saat sebelum dilakukan pemindahan RKUD oleh Gubernur Banten ke BJB, telah terjadi rush money yang dilakukan nasabah Bank Banten.

“Bahkan ada salah satu nasabah yang dalam sehari melakukan penarikan sebesar Rp900 miliar. Ini tentu sangat berdampak pada kondisi keuangan Bank Banten,” katanya.

Media mengakui, dana cadangan  jumlahnya tidak sampai sebesar itu. Sehingga pada saat itu pihaknya mencari harus dana untuk dicairkan kepada nasabah yang menarik dananya. Setelah proses pencairan itu dilakukan, kemudian Pemprov Banten mengajukan penarikan dana, salah satunya untuk kebutuhan penyaluran JPS Covid-19.

“Namun pencairan itu tidak bisa dilakukan karena kami tidak punya dana yang stanby pada saat itu,” ujarnya.

BACA JUGA: Pakar Hukum Tata Negara Sebut Krisis Bank Banten Akibat Sistem

Sementara itu Gubernur Banten Wahidin Halim (WH) mengatakan, langkah konversi ini dilakukan berdasarkan perintah OJK selaku lembaga pengawas tertinggi perbankan. Perintah itu dilakukan setelah Pemprov Banten melakukan koordinasi bersama Aparat Penegak Hukum (APH) lainnya, seperti Kejagung, KPK dan Kepolisian.

“Sehingga diharapkan setiap langkah yang kami ambil itu selalu berada pada koridor hukum yang berlaku,” katanya.

Pengamat ekonomi Untirta Serang Elvin Bastian saat dihubungi mengatakan, yang dibutuhkan Bank Banten dalam proses penyehatan sekarang itu adalah fresh money. Jika fresh money itu tidak bisa segera dilakukan sampai waktu 21 Juli seperti yang diberikan OJK, kemungkinan besar likuditas Bank Banten tidak bisa diselamatkan. Artinya Bank Banten sudah dinyatakan failed.

“Sebagai ekonom, saya melihatnya realistis saja berdasarkan data dan realita yang ada, itu akan terasa sulit untuk menyelamatkan Bank Banten, kecuali ada politikal will dari Gubernur Banten untuk menyuntikan fresh money dalam jumlah yang cukup besar,” katanya.(Luthfi/Difa)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.