Penyanyi Anji Dipolisikan Atas Dugaan Sebar Hoaks Obat COVID-19

  • Whatsapp
Muannas Alaidid
Ketua Umum Cyber Indonesia, Muannas Alaidid, menunjukkan surat dari SPKT Polda Metro Jaya setelah melaporkan penyanyi dan musisi Anji.

JAKARTA,REDAKSI24.COM– Penyanyi dan musisi Erdian Aji Prihartanto alias Anji dilaporkan oleh Cyber Indonesia (CI) dipolisikan karena ditengarai menyebar berita bohong atau hoaks obat COVID-19 melalui kanal You Tube Duniamanji

Selain Anji, CI juga melaporkan Hadi Pranoto atas dugaan perkara tersebut. “Kami melapor ke kepolisian di SPKT Polda Metro Jaya berkaitan  dugaan tindak pidana menyebarkan berita bohong di channel You Tube milik Anji,”ungkap  Ketua Umum CI, Muannas Alaidid di Mako Polda Metro Jaya, Senin.

Bacaan Lainnya

Di Polda Metro Jaya laporan CI terdaftar dengan nomor LP/4538/VIII/YAN.2.5/2020/SPKT PMJ, tanggal 3 Agustus 2020, sedangkan  pasal yang dipersangkakan adalah Pasal 28 ayat (1) Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE) Jo Pasal 45a Undang-Undang RI Nomor 19 tahun 2016 dan atau Pasal 14 dan Pasal 15 Undang-Undang RI Nomor 1 Tahun 1946 tentang Peraturan Hukum Pidana.

Menurut  Muannas, pihaknya juga mempolisikan Hadi Pranoto yang mengklaim sebagai pembuat herbal antibodi COVID-19 dalam wawancara di Youtube Anji. “Dua-duanya kita laporkan. Pertama Anji, karena sebagai pemilik akun yang menyebarkan dan Hadi Pranoto yang menyatakan berita bohong itu,” katanya.

Dijelaskan,  konten yang ditayangkan di kanal Duniamanji  pada Sabtu, 1 Agustus 2020 itu  telah memicu polemik di tengah masyarakat. Muannas menilai klaim Hadi Pranoto yang dihadirkan dalam konten mendapat banyak tentangan oleh akademisi, ilmuwan, ikatan dokter Indonesia (IDI), Menteri Kesehatan Terawan Agus Putranto, influencer dan masyarakat luas.

BACA JUGA:Penyanyi Irwansyah Dipolisikan Rekan Bisnis Terkait Dugaan Penipuan

Muannas pun mencatat beberapa pernyataan Hadi yang dinilai menuai polemik. Di anataranya  soal tes cepat dan dan tes usap COVID-19 dimana Hadi mengaku memiliki metode uji yang jauh lebih efektif dengan harga Rp10,000 hingga Rp20,000 menggunakan teknologi digital.

“Tentu  ini  sangat merugikan pihak rumah sakit, yang sebagaimana kita ketahui bahwa rapid dan swab itu bisa menyentuh ratusan ribu bahkan jutaan. Itu menyebabkan berita bohong dan menimbulkan kegaduhan, polemik dari berbagai kalangan. Nah itu yang saya kira profesor Hadi Pranoto itu dapat diminta pertanggungjawaban berdasarkan Pasal 14, Pasal 15 Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1946 tentang larangan berita bohong,” ungkap Muannas.

Atas hal itu, menurutnya, Anji bisa saja dijerat dengan Pasal 28 ayat (1) Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE) lantaram konten Youtube Anji yang diduga mengandung berita bohong.

Kemudian klaim Hadi soal penemuan obat COVID-19 kontraproduktif dengan upaya pemerintah untuk menekan pandemi COVID-19 di tanah Air. “Jangan sampai masyarakat percaya bahwa obatnya sudah dianggap ketemu, kemudian  tidak menggunakan masker, tidak physical distancing atau tidak mengikuti protokol kesehatan,”katanya.

Dalam laporan tersebut Cyber Indonesia menyertakan barang bukti berupa transkrip percakapan wawancara Anji dengan Hadi Pranoto, tangkap layar wawancara di youtube dan satu buah flashdisk berisi video.(Fianda/Ant/Jaya)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.