Penyakit Thalassemia Yang Disebabkan Oleh Faktor Gen Harus Transfusi Darah Seumur Hidup

  • Whatsapp
Rsu tangerang
Sejumlah pengidap Thalassemia melakukan transfusi darah di RSU Tangerang.

KOTA TANGERANG, REDAKSI24.COM – Masyarakat Indonesia mungkin sudah banyak mengetahui penyakit-penyakit berbahaya, seperti kanker, liver, Aids, TBC, Stroke atau lainnya. Yang terbaru, dunia disibukkan oleh wabah virus corona, yang mudah menular ke semua orang, yang akibatnya bisa berujung pada kematian. 

Tetapi tahukah Anda, bahwa ada penyakit bernama Thalassemia? Penyakit ini mungkin terdengar asing di tengah-tengah masyarakat Indonesia, khususnya di Tangerang, Banten. 

Bacaan Lainnya

Dokter Spesialis Anak yang bertugas di Thalassemia RSU Tangerang, dr. Udjiani Edi Pawitro menjelaskan, Thalassemia merupakan kelainan darah yang diakibatkan oleh faktor genetika, sehingga menyebabkan protein yang ada di dalam sel darah merah (hemoglobin) tidak berfungsi secara normal. 

Penyakit ini merupakan penyakit yang diturunkan oleh orang tua kepada anaknya. Mereka yang mengidap thalassemia memiliki sedikit kadar hemoglobin yang berfungsi kurang baik. Karena itu  tingkat oksigen dalam tubuh pengidap thalassemia sangat rendah. 

BACA JUGA: Meski Rumah Sakit Rujukan Covid-19, RSUD Kabupaten Tangerang Tetap Layani Pasien Umum

Penyakit ini terjadi akibat kelainan pada faktor genetika, tetapi penyebab pasti mutasi gen ini bisa terjadi belum diketahui. Risiko terkena komplikasi thalassemia juga bisa dikurangi dengan melakukan pemeriksaan kesehatan secara rutin. 

“Thalassemia bisa diobati dengan dua metode perawatan, yaitu dengan transfusi darah tali pusat dan transplantasi sumsum tulang. Transfusi darah secara rutin sangat diperlukan bagi pengidap thalassemia. Namun, hal ini bisa berakibat menumpuknya zat besi di dalam tubuh. Perawatan yang bertujuan menyingkirkan zat besi berlebih di dalam tubuh juga bisa dilakukan dengan terapi khelasi,” papar dr. Udjiani kepada Redaksi24.com, Jumat (24/7/20). 

Ia mengungkapkan, di RSU Tangerang, terdapat 540 pengidap thalasemia, yang mayoritas adalah anak-anak. Masing-masing pengidap thalasemia melakukan transfusi darah seumur hidupnya secara terus menerus, kurang lebih setiap satu bulan sekali. 

 Dr. Udjiani melanjutkan, sejauh ini, sulit untuk mencegah mata rantai penyakit thalasemia. Skrining thalassemia bisa menjadi pemutus mata rantai pengidap thalasemia. Akan tetapi hal itu bukan merupakan program nasional. 

“Untuk mencegah bayi yang baru lahir mengidap thalasemia, terdapat beberapa langkah pencegahan yang bisa dilakukan, antara lain. Pasangan yang ingin merencanakan kehamilan perlu menjalani tes darah untuk melihat nilai hemoglobin dan melihat profil sel darah merah di dalam tubuh mereka. Bisa melakukan konsultasi genetik, atau pemeriksaan prenatal,” pungkasnya. (Haris/Aan)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.