Penggunaan Bahasa Indonesia di Masyarakat Dalam Kondisi Gawat Darurat

  • Whatsapp
Peneliti dari Kantor Bahasa Provinsi Banten
Anita, Peneliti dari Kantor Bahasa Provinsi Banten saat memberikan materi di acara Penyuluhan Bahasa Indonesia untuk Pelaku Media yang digelar di Sekretariat Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Kabupaten Tangerang di Cikokol Tangerag, Jumat, (11/10/2019).

TANGERANG,REDAKSI24.COM—Kesadaran masyarakat Bahasa Indonesia di ruang-ruang publik dalam kondisi gawat darurat. Pasalnya saat ini kebanyakan masyarakat lebih bangga menggunakan bahasa asing dibanding Bahasa Indonesia.

Anita, Peneliti dari Kantor Bahasa Provinsi Banten, mengatakan fenomena kurang bangganya masyarakat  akan Bahasa Indonesia dapat dilihat pada banyaknya istilah-istilah asing digunakan. Bahkan yang lebih parah hal tersebut juga dilakukan oleh aparat di pemerintahan maupun para akademisi yang seharusnya menjadi pelindung dan pelestari Bahasa Indonesia.

Bacaan Lainnya

“Banyak orang yang merasa keren jika berkomunikasi menggunakan istilah asing, padahal kata-kata yang ia sebutkan tersebut telah ada padanan katanya di Bahasa Indonesia,” ujar anita saat menjadi pembicara dalam acara Penyuluhan Bahasa Indonesia untuk Pelaku Media yang digelar di Sekretariat Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Kabupaten Tangerang di Cikokol Tangerag, Jumat, (11/10/2019).

BACA JUGA :

Media Massa Harus Menggunakan Bahasa Indonesia Yang Benar

Anita mencontohkan , istilah visitasi kerap digunakandalam berbagai acara termasuk di berbagai sekolah atau kampus. Padahal istilah visitasi dapat diganti dengan kata kunjungan yang merupakan Bahasa Indonesia.

“Kami bukan antibahasa asing tapi harus tahu kedudukan dan fungsinya. Kalau sasarannya orang asing, gunakan bahasa asing. Kalau sasarannya orang Indonesia, pakai Bahasa Indonesia, dan kita harus bangga menggunakannya” ujar Anita.

Untuk itu Anita berharap melalui kegiatan Penyuluhan Bahasa Indonesia untuk Pelaku Media, para wartawan melalui berita yang dibuatnya bisa menyebarluaskan  sekaligus menjadi contoh penggunaan istilah-istilah  Bahasa Indonesia kepada masyarakat.  Terlebih sesuai UU No 24 Tahun 2019 Pasal 39 ayat 1 B Tentang Bendera, Bahasa, dan Lambang Negara, serta Lagu Kebangsaan, disebutkan bahwa Bahasa Indonesia wajib digunakan dalam informasi media massa.

“Seperti yang diungkapkan Anton M. Moeliono salah seorang ahli bahasa mengatakan bahwa pers adalah pandita masyarakat, karena pengaruhnya sangat besar dan dapat mempengaruhi masyarakat,” jelasnya.

Selain itu lanjut Anita, dalam upaya memperkuat pengutamaan Bahasa Indonesia, khususnya di ruang publik, pihaknya akan mengusulkan Perda dan Pergub penggunaan bahasa Indonesia di ruang publik. Perda dan pergub juga bertujuan untuk melestarikan bahasa daerah di Banten, yang juga semakin lama makin berkurang penuturnya.

“Jadi nanti kita akan menggunakan jalur pemerintah baik pemerintah provinsi dan kota/kabupaten agar membuat Perda atau Pergub untuk menggunakan Bahasa Indonesia,” pungkasnya. (Hendra)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.