Pengamat Nilai Konten Medsos Bisa Picu Aksi Gangster Pelajar

oleh -
Pengamat Nilai Konten Medsos Bisa Picu Aksi Gangster Pelajar
Pengamat Budaya dan Komunikasi Digital Universitas Indonesia (UI), Firman Kurniawan menilai, konten YouTube seperti milik Katak Bhizer atau lainnya yang berisi tentang tawuran dapat memotivasi para pelajar melakukan aksi kriminal.

KABUPATEN TANGERANG, REDAKSI24.COM – Sejumlah kalangan menilai maraknya konten tentang tawuran antar kelompok menggunakan senjata tajam (Sajam) di media sosial (Medsos), menjadi salah satu pemicu munculnya tindak kriminal gangster di kalangan pelajar, tak terkecuali di Kabupaten Tangerang.

Penilaian itu salah satunya datang dari Pengamat Budaya dan Komunikasi Digital Universitas Indonesia (UI), Firman Kurniawan. Dia menilai konten YouTube seperti milik Katak Bhizer atau lainnya yang berisi tentang tawuran dapat memotivasi para pelajar melakukan aksi kriminal.

“Media sosial adalah medium relasi sosial, saat ini banyak yang ingin menunjukkan identitas kejagoannya di medsos, misalnya seperti tawuran dengan senjata tajam, itu bisa jadi pemicu,” ungkap Firman Kurniawan kepada Redaksi24.Com, Kamis (10/2/2022).

Dikatakan Firman, gangster sebenarnya sudah muncul sejak lama. Namun, kata Firman, di era Medsos saat ini segala aktifitas atau eksistensi suatu kelompok lebih mudah ditampilkan, sehingga dapat menciptakan persaingan antar kelompok lainnya.

“Eksistensi kelompok di Medsos itu bisa menjadi bahasa kepada kelompok lainnya untuk merespon, seolah berkata ini loh kelompok kami,” tuturnya.

BACA JUGA: Bawa Sajam, Ratusan Anggota Gangster Serang Warga Cikupa Tangerang

Sebagai upaya meminimalisir hal itu, menurut Firman, perlu membangun ekosistem yang baik bagi peserta didik, seperti melakukan dialog sebagai bentuk penerimaan kepada mereka.

Dengan begitu, lanjut Firman, orang tua atau guru di sekolah dapat mengetahui segala keresahan dan keinginan para anak remaja tanggung ini.

“Jangan malah ditekan, atau dicap sebagai pembuat onar, dengan segala bentuk penekanan malah membuat mereka pusing, karena mereka saat ini masih dalam fase pencarian identitas diri,” tandasnya.(Deri/Difa)