Pengamat: Kuartal III Kontraksi Ekonomi Indonesia Diprediksi Menurun

  • Whatsapp
Moekti memprediksi pada kuartal III 2020 pertumbuhan ekonomi masih kontraksi namun menurun
Pengamat yang juga Chief Economist Danareksa Research Institute Moekti Prasetiani Soejachmoen, di Jakarta, Minggu, menyatakan, pihaknya memprediksi di kuartal III 2020 pertumbuhan ekonomi masih mengalami kontraksi, namun menurun atau tidak sebesar kuartal sebelumnya

JAKARTA, REDAKSI24.COM– Pengamat yang juga Chief Economist Danareksa Research Institute, Moekti Prasetiani Soejachmoen, memprediksi pada kuartal III 2020 pertumbuhan ekonomi masih akan mengalami kontraksi (minus), namun menurun atau tidak sebesar kuartal sebelumnya.

“Sepertinya pada kuartal III ini minus kembali, masih mengalami kontraksi. Namun, menurun  tidak sebesar kuartal II lalu yang pertumbuhan tumbuh negatif 5,32 persen,” ujar Moekti dalam pernyataan di Jakarta, Minggu.

Bacaan Lainnya

Kata Moekti, potensi resesi secara teknis kian dekat, terlebih beberapa indikator juga menunjukkan kondisi perekonomian nasional masih dalam kondisi tertekan akibat pandemi Covid-19. Seperti turunnya Purchasing Managers Index (PMI) pada September yang hampir empat poin, dari 50,8 pada Agustus, menjadi 47,2.

“Padahal, PMI kita sempat ke level 50 yang artinya sudah aman,”tutur Moekti.

BACA JUGA:Legislator: Pertumbuhan Ekonomi Minus 5,32 Kwartal II, Indonesia Secara Teknis Sudah Resesi

Indikator lainnya, menurut dia, yaitu semakin marak perusahaan melakukan tindakan pemutusan hubungan kerja (PHK) terhadap pegawainya, hingga turunnya minat investor untuk menanamkan modalnya di Indonesia selama masa pandemi.

“Kondisi ini lantaran situasi ekonomi global dan Indonesia masih penuh ketidakpastian. Kan ekspor dan impor juga masih mengalami pelemahan, belum tumbuh normal,”urainya.

Dikemukakan, bantalan ekonomi nasional hingga akhir tahun ialah dari pengeluaran pemerintah. “Karenya perlu didorong adanya peningkatan belanja pemerintah untuk percepatan pemulihan ekonomi nasional di tengah situasi pandemi,”jelas Moekti.

Dia melanjutkan, “Satu-satunya komponen yang bisa menggenjot PDB adalah belanja pemerintah. Itu sebabnya negara harus member stimulus fiskal dengan melakukan pengeluaran lebih besar dari biasanya.”

Pihaknya berharap, pertumbuhan ekonomi kembali normal atau malah lebih baik dari sebelumnya apabila vaksin C0vid-19 berhasil ditemukan atau dibuat.

Jika belum ditemukan, masyarakat tetap harus menaati protokol kesehatan dengan 3 M (Memakai Masker, Menjaga Jarak, Mencuci Tangan) agar ekonomi normal kembali.(Citro/ANATARA/Jaya)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.