Penderita Kanker Payudara di Indonesia Mayoritas Usia Produktif

  • Whatsapp
Penderita,Kanker,Payudara,di,Indonesia,Mayoritas,Usia Produktif,Kementerian Kesehatan,dr. Sonar Soni Panigoro,Spesialis Bedah Onkologi,JKN
Ilustrasi-kanker payudara (Antara)

JAKARTA, REDAKSI24.COM–Berdasarkan data riset penyakit tidak menular Kementerian Kesehatan pada tahun 2016 menunjukan, dari  sampel berusia 25-64 tahun di perkotaan, sebanyak 90 persen pasien kanker payudara di Indonesia mayoritas berusia produktif antara 25-55 tahun.

Mayoritas penderita kanker usia produktif tersebut berdampak tidak hanya menjadi beban pada tingkat keluarga tetapi juga pada sistem kesehatan secara umum.

Bacaan Lainnya

Namun, jika ditangani secara komprehensif sejak stadium dini, kanker ini memiliki peluang kesembuhan yang lebih tinggi dan berpotensi untuk mengurangi dampak sosio ekonomi masyarakat.

Deteksi dini kanker tersebut sangat memengaruhi tingkat bertahan hidup dan kesembuhan bagi penderitanya, selain juga terhadap sosio ekonomi karena mayortias penderita adalah kelompok usia produktif.

Berdasarkan data Global Cancer Observatory 2020 dari WHO, kasus kanker yang paling banyak terjadi di Indonesia adalah kanker payudara, yakni 65.858 kasus setara dengan 16,6 persen dari total 396.914 kasus kanker.

Sementara itu, Kementerian Kesehatan menyatakan besaran angka kanker untuk perempuan yang tertinggi adalah kanker payudara yaitu sebesar 42,1 per 100.000 penduduk dengan rata-rata kematian 17 per 100.000 penduduk.

Sekitar 1 dari 5 pasien mayoritas penderita kanker tersebut di Indonesia mengidap jenis HER2-positif (Human Epidermal Growth Factor Receptor), yang merupakan salah satu jenis kanker payudara yang agresif.

HER2-positif merupakan faktor agresivitas sel kanker payudara yang diasosiasikan dengan tingkat kesintasan yang rendah.

Namun, studi menunjukkan bahwa penanganan kanker payudara HER2-positif yang optimal pada stadium dini dapat menurunkan risiko kekambuhan atau kematian dibandingkan jika mendapat kemoterapi saja, kata dr. Sonar Soni Panigoro, Sp.B(K)Onk, M.Epid, MARS, Spesialis Bedah Onkologi.

“Tujuan pengobatan kanker payudara pada stadium dini tidak hanya untuk mengontrol penyakit tetapi juga kuratif atau mencapai kesembuhan, sehingga pasien dapat kembali menjalani kehidupannya secara produktif,” ujar dr. Sonar dalam edukasi virtual forum komunitas bertajuk “Akses Penanganan Kanker Payudara HER2+ Stadium Dini: Tantangan dan Harapan”, Jumat (19/2/2021).

dr. Sonar menjelaskan, saat ini salah satu terapi yang terbukti efektif pada kanker payudara HER2-positif stadium dini adalah pemberian terapi target dengan trastuzumab dan kemoterapi yang dapat meningkatkan angka kesintasan dan menurunkan risiko kekambuhan pasien.

Pasien yang melakukan terapi ini disebut dapat mengurangi risiko kekambuhan dibandingkan dengan pemberian kemoterapi saja. Dengan pengobatan yang optimal pada stadium dini, hal ini berpotensi untuk meringankan beban bagi pasien atau keluarga pasien, dan sistem kesehatan.

“Kehadiran JKN (Jaring Kesehatan Nasional) telah mempermudah akses terhadap diagnosis, namun perlu juga diikuti penanganan kanker HER2-positif yang komprehensif untuk meningkatkan luaran klinis terapi,” kata  dr. Sonar.

Dari beberapa penelitian, terlihat bahwa penanganan kanker tersebut sejak stadium dini dengan tepat dan komprehensif berpotensi meringankan beban bagi pasien dan sistem kesehatan, di mana biaya total penanganan kanker itu pada stadium II, III, dan IV adalah 32 persen, 95 persen, dan 109 persen lebih tinggi dibandingkan stadium I. (Maria Cicilia/Ant/ejp)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.