Penanganan Limbah Medis RSU dan Puskesmas di Kabupaten Tangerang Belum Optimal

  • Whatsapp
Kepala Seksi Kesehatan Lingkungan, Kesehatan Kerja dan Olah Raga Dinkes Kabupaten Tangerang, Deden Suharya.

KABUPATEN TANGERANG, REDAKSI24.COM — Sebagian besar rumah sakit umum dan Puskesmas di Kabupaten Tangerang, Banten, belum memiliki mesin Incinerator yang digunakan untuk penghancur limbah medis padat (B3). Hal ini menyebabkan penanganan limbah infeksius di tiap-tiap rumah sakit umum dan Puskesmas belum dapat dikelola secara optimal.

Dari 3 rumah sakit umum dan 44 Puskesmas, baru RSU Tangerang saja yang memiliki Incinerator. Itupun sudah tidak berfungsi karena kondisinya sudah lama rusak.

Bacaan Lainnya

Kepala Seksi Kesehatan Lingkungan, Kesehatan Kerja dan Olah Raga Dinkes Kabupaten Tangerang, Deden Suharya mengatakan, karena belum memiliki mesin Incinerator, pihak rumah sakit umum dan Puskesmas hanya bisa menampung sampah-sampah medis tersebut di TPS masing-masing. Sedangkan untuk pemusnahannya, sambung dia, pihaknya meminta bantuan kepada pihak ketiga dari luar daerah.

“Kalau rumah sakit umum Tangerang sudah punya tapi tidak berfungsi jadi dibawa oleh pihak ketiga. RSUD Balaraja dan Pakuhaji juga sama belum punya. Semua diserahkan ke pihak ketiga termasuk limbah medis yang dari Puskesmas,” kata Deden kepada Redaksi24.com, Rabu (9/6/2020).

Menurutnya, belum tersedianya mesin Incinerator di rumah sakit dan seluruh puskesmas di Kabupaten Tangerang itu dikarenakan terbatasnya jumlah anggaran dan SDM yang dimiliki Dinkes Kabupaten Tangerang.

Selain itu, lanjut dia, proses perizinan yang tidak mudah dari Kementerian Lingkugan Hidup (KLH) menjadi salah kendala kenapa rumah sakit dan Puskesmas di Kabupaten Tangerang ini belum memiliki Incinerator untuk mengelola limbah medisnya sendiri.

“Kendalanya memang karena harga yang lumayan mahal. Apalagi untuk yang skala besar seperti rumah sakit dan kemudian itu tadi proses perizinan juga nggak mudah,” ungkap Deden

Meski demikian, dalam menangani limbah medis ini setiap rumah sakit dan Puskesmas sudah memiliki anggarannya masing-masing. Untuk di Puskesmas, kata dia, dianggarkan sekira satu juta rupiah untuk sekali pengangkutan maksimal 90 hari dengan rata-rata 50-60 kilogram limbah medis.

“Sudah ada angaran masing-masing apalagi puskesmas sekarang sudah BLUD. Kalau Dinkes sebatas monitoring pengelolaannya saja,” ujarnya

Terpisah, Humas RSU Tangerang, dr Mohamad Rifki mengatakan, selama pandemi Covid-19 ini volume limbah medis di RSU Tangerang mengalami peningkatan yang cukup tajam.

Hanya saja, terkait tekhnis pengelolaannya ia tidak mengetahui secara pasti. Akan tetapi ia memastikan jika proses penanganan limbah medis di RSU Tangerang sudah dilakukan secara cermat dan sesuai standar.

“Setahu saya kami sudah punya Incinerator yah ada instalasi dan petugas khusus yang menangani limbah-limbah medis ini,” tukasnya (Ricky/Aan)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.