Pemukiman Warga Grogol Cilegon Porak Poranda Akibat Banjir

  • Whatsapp
banjir cilegon
Kampung Tegal Wangi Kruwuk, RT 03/04 RW 07, Kelurahan Rawa Arum, Kecamatan Grogol, Kota Cilegon, kondisinya memprihatinkan setelah terendam banjir.

CILEGON, REDAKSI24.COM — Banjir yang merendam sejumlah kawasan telah menimbulkan kerugian materi yang cukup besar bagi warga Kampung Tegal Wangi Kruwuk, RT 03/04 RW 07, Kelurahan Rawa Arum, Kecamatan Grogol, Kota Cilegon. Banyak harta benda warga hanyut dan rusak, mulai kerusakan ringan, sedang, hingga berat.

Pantauan Redaksi24.com, kawasan yang sebelumnya terendam, kini kondisinya kumuh. bekas material bawaan banjir nampak porak poranda di setiap halaman rumah warga. Kondisi warga juga memprihatinkan karena sebagian besar barang yang mereka miliki rusak parah, bahkan tidak bisa digunakan kembali.

Bacaan Lainnya

“Mau mandi aja susah, karena mesin pompa air rusak, kulkas rusak dan perabotan rumah tangga hanyut,” kata salah satu warga, Wahyu kepada Redaksi24.com, Kamis (7/5/2020).

Selain itu, lanjutnya, kendaraan roda dua milikinya pun rusak parah karena terendam air selama hampir 12 jam. Perabotan, seperti kasur, televisi, dan alat elektronik lainnya juga ikut terendam sehingga kini tidak bisa digunakan sama sekali.

“Kami hanya bisa pasrah. Bukan di rumah saya saja yang kayak gini, tapi semua rumah warga lain juga sama, atau mungkin lebih parah,” ujarnya.

Fenti, seorang ibu rumah tangga mengaku sangat terpukul dengan peristiwa banjir bandang tersebut. Pasalnya, bukan hanya perkakas rumah tangga dan alat elektronik yang rusak, melainkan barang dagangan berupa pakaian beserta kelengkapan lainnya ikut terendam.

“Kalau ditotal kerugian bisa sampai Rp47 jutaan,” katanya.

Sementara itu, Ketua RT 03/07, Kelurahan Rawa Arum, Nasehudin mengatakan, banjir tersebut merupakan banjir terbesar yang pernah dialami warga Kampung Tegal Wangi Kruwuk selama ini. Pasalnya, ketinggian air mencapai hampir dua meter atau setinggi leher orang dewasa.

“Korban jiwa sih gak ada, tapi kerugian material yang dialami warga sangat luar biasa,” keluhnya.

Dia menyebut, hasil verifikasi data ada sekitar 70 rumah yang terkena dampak dari banjir dengan estimasi total kerugian Rp505 juta. Hingga kini, warga yang mengeluhkan kerusakan barang dan rumahnya,  berharap ada pihak yang bertanggungjawab atas bencana tersebut.

“Bukan cuma kebutuhan logistik, warga juga butuh uang untuk memperbaiki rumah dan barang-barang yang rusak,” tuturnya.

Nasehudin menambahkan, warga telah berupaya meminta pertanggungjawaban kepada salah satu perusahaan yang selama ini diduga menjadi salah satu penyebab utama terjadinya banjir rutin di permukimannya.

“Kami sudah ajukan, tapi gak ada respon. Kami harap perusahaan tersebut dapat memberikan bantuan, juga termasuk dari pemerintah,” harapnya.

Berdasarkan informasi yang diterima Redaksi24.com, di sekitar pemukiman warga ada sebuah perusahaan yang melakukan aktivitas pengurukan lahan untuk dibangun pabrik kimia berskala besar di kota baja.

Dalam aktivitasnyanya, saluran air yang berfungsi mengalirkan air dari permukiman warga menuju laut, ternyata tersumbat akibat tanah urugan perusahaan tersebut. Warga menuding aktivitas pengurugan dari perusahaan tersebut yang memicu terjadinya banjir di pemukiman mereka.(Firasat/Difa)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.