Pemkab Banyumas Belajar Tangani Stunting ke Pandeglang

oleh -
Pejabat Banyumas, JAwa Timur berbagi cinderamata dengan Bupati Pandeglang, Banten, Irna Narulita.

PANDEGLANG, REDAKSI24.COM – Jajaran Pemkab Banyumas, Jawa Timur berkunjung ke Kabupaten Pandeglang, Banten, Kamis (19/9/2019). Kunjungan sejumlah pejabat tinggi Kabupaten Banyumas tersebut, ingin melakukan kaji banding pengentasan kasus stunting di Pandeglang.

Assisten Pemkesra Kabupaten Banyumas, Sri Yono mengatakan, kedatangannya bersama rombongan ke Pandeglang ingin mengetahui bagaimana cara penurunan kasus stunting. Karena Kementrian Kesehatan (Kemenkes) RI menyarankan agar pihaknya belajar ke Pandeglang.

“Mulanya kami konsultasi ke Kemenkes untuk mendapatkan arahan terkait penurunan angka stunting. Namun dari pihak Kemenkes menyarankan kami agar berkunjung ke Pandeglang,” ungkapnya,

Menurutnya, di Kabupaten Banyumas angka stunting cukup memprihatinkan. Pada tahun 2018, kasusnya mencapai 20 persen dari jumlah penduduk Banyumas. “Meskipun kami sudah berupaya semaksimal, namun belum mendapatkan hasil maksimal, makanya kami datang Pandeglang ingin tahu cara menurunkan kasus stunting,” katanya.

BACA JUGA:

. Wah, Kasus Stunting Pandeglang Tertinggi di Banten

. Kasus Stunting Pandeglang Jadi Target Pembahasan Pelatihan SDM

Sementara, Bupati Pandeglang, Irna Narulita mengatakan, di Kabupaten Pandeglang ada sebanyak 10 desa dari 6 kecamatan yang menjadi lokasi khusus (Lokus) penurunan angka stunting.

Dalam melakukan upaya penurunan stunting, kata Irna, pihaknya melibatkan semua Organisasi Perangkat Daerah (OPD). “Kami melakukan cross cutting program, jadi setiap OPD harus ikut serta dalam program pengentasan masalah stunting,” tuturnya.

Diakuinya, tidak hanya Pemkab Pandgelang, namun ada sejumlah pihak yang ikut serta dalam mengatasi kasus stunting. “Seperti dari pihak PT Danon Indonesia dan RSCM ikut tangani kasus stunting di Pandeglang. Karena hal ini harus dilakukan secara kroyokan,” ujarnya.

Ditambahkannya, terjadinya kasus stunting itu karena kurangnya asupan gizi bagi si janin dari sejak dalam kandungan. Bahkan kata Irna, kasus stunting terjadi bukan karena keterbatasan ekonomi, melainkan pola makanan dan asupan gizi yang tidak seimbang.

“Faktanya ada keluarga mapan yang tidak kekurangan apapun mengalami stunting. Maka pada intinya, harus ada asupan gizi yang cukup bagi ibu – ibu hamil dan anak dalam 1000 hari  masa kehidupan,” jelasnya. (Samsul Fatoni/Difa)