Pemerintah Dinilai Perlu Lebih Prioritaskan Perdagangan Pangan Dalam Negeri

  • Whatsapp
bayu menilai pada masa pandemi Covid-19 ini pemerintah perlu lebih memprioritaskan perdagangan pangan dalam negeri dibanding ekspor
Mantan Wakil Menteri Perdagangan RI Bayu Krisnamurthi dalam webinar "Peningkatan Daya Saing Produk Pangan dalam Perdagangan Global", Sabtu (7/11), menilai pada masa pandemi Covid-19 ini pemerintah perlu lebih memprioritaskan perdagangan pangan dalam negeri yang nilainya lebih besar dibanding perdangangan ekspor.

BOGOR, REDAKSI24.COM— Pengamat dari IPB yang juga mantan Wamendag (Wakil Menteri Perdagangan) RI, Bayu Krisnamurthi, menilai pada masa pandemi Covid-19 saat ini pemerintah perlu lebih memprioritaskan perdagangan pangan dalam negeri yang nilainya 10 kali lipat lebih besar dibanding perdagangan ekspor.

Bayu Krisnamurthi mengatakan hal itu pada webinar “Peningkatan Daya Saing Produk Pangan dalam Perdagangan Global”, Sabtu (7/11). Disebutkan, perdagangan pangan di Indonesia pada tahun 2019 mencapai 255 miliar dolar AS atau sekitar Rp375 triliun.

Bacaan Lainnya

Kata Bayu, dari jumlah tersebut, sekitar 35 persen di antaranya atau sekitar Rp1.300 triliun adalah perdagangan makanan olahan.

“Ini menunjukkan bahwa perdagangan pangan di dalam negeri sangat besar. Namun, dari perdagangan dalam negeri ini, sekitar 31 persen di antaranya adalah impor,” kata dosen Institut Pertanian Bogor (IPB) ini.

Menurut Bayu, jika mencermati produk ekspor dari Indonesia pada tahun 2019 totalnya 170 miliar dolar AS. Dari jumah tersebut, sekitar 18 miliar dolar AS adalah ekspor minyak goreng.

Dia mengingatkan, “Indonesia memang harus melakukan ekspor. Akan tetapi, jangan melupakan perdagangan dalam negeri yang nilainya jauh lebih besar.

“Bahkan Bayu menilai ekspor dari Indonesia relatif stagnan selama 15 tahun terakhir. Hal itu, lanjutnya, lantaran negara tujuan ekspor hanya itu-itu saja, relatif tidak bertambah, yakni Jepang, Amerika Serikat, Tiongkok, Korea, Singapura, dan India.

Bayu yang juga mantan Wakil Menteri Pertanian RI ini menyampaikan beberapa catatan soal ke mana arah perdagangan dalam negeri mendatang.

Dijelaskan, perdagangan pangan adalah bagian sangat penting dari ketahanan pangan dan gizi masyarakat, baik dilihat dari rantai pasok, rantai nilai, perdagangan, maupun pendapatan, karena pasar global dan pasar lokal saling berinteraksi.

Dia juga mengingatkan, pada masa pandemi COVID-19 saat ini agar jangan terlalu bersemangat untuk memperbesar perdagangan global.

“Kalau mencermati langkah negara-negara lain yang terlalu besar perdagangan globalnya, saat ini mengalami kesulitan,” tutur Bayu.

Karena itu, Bayu menambahkan, Indonesia hendaknya jangan terlalu semangat memperbesar perdagangan global. Namun sebaliknya mencari titik temunya dengan perdagangan dalam negeri.(Jay De Menes/ANTARA)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.