Peluncuran Buku ‘Angin dan Air Danau Toba’ karya Sitor Situmorang

oleh -
Mengenang Sastrawan, Sitor Situmorang.

Hutan, suaka, flora dan fauna
Tempat rusa berkumpul, gajah, harimau, kijang, dan simawang,
Kini tak jumpa

Berita sandi hari ini
Untuk para ahli dan pakar ekonomi_
Pesan ibu pertiwi
Untuk pecinta alam dan perencana Modernisasi

Sajak di atas adalah gubahan sang maestro sastrawan dari tanah Batak Toba, Sitor Situmorang. Lantunan puisi dengan judul “Ziarah” itu ditulisnya pada akhir tahun 1980 dengan membawa pesan tersirat bagi generasi mendatang. Pengaruh modernisme terhadap kondisi alam di tanah kelahirannya membuatnya masygul.

Terbukti, selang hampir 30 tahun kemudian, kawasan danau Toba dan hutan Lintong Tele yang dikunjungi serta mengilhaminya menulis sajak itu semakin rusak. Danau Toba sebagai danau terbesar di Indonesia dan Asia Tenggara itu dikatakan oleh staf ahli Kementeriaan Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) Prof. Winarni Monoarfa termasuk dalam kategori danau yang pencemarannya paling parah di Indonesia.

Sementara hutan Lintong Tele yang merupakan hutan bersejarah, tempat perang gerilya Sisingamangaraja XII melawan Belanda, penggundulan berlangsung dengan agresif, baik oleh perusahaan berizin maupun yang tidak berizin. Bahkan beberapa koran pada pertengahan Mei 2019 menyiarkan kekhawatirkan hutan Lintong Tele akan segera menuju kepunahan, sehingga bencana alam pun tidak akan terelakkan di daerah bawahannya, seperti Kecamatan Sianjurmula, Harian dan Sitiotio.

Hutan Lintong Tele dan Harian adalah kampung asal dan desa kelahiran penyair Sitor Situmorang. Ia lahir di Harianboho pada 2 Oktober 1924. Sitor memang telah meninggal pada 21 Desember 2014, tetapi ia telah mewariskan sejumlah karya puisi
yang menggambarkan sejarah budaya ekologi Batak Toba dan sekitarnya.

Ditulis dalam periode 1948-2008, melalui sajak-sajak yang ada di dalamnya kita bisa bertamasya merasakan keindahan, kekayaan sekaligus bahaya yang menimpa kawasan Batak dalam perjalanan sejarahnya. Tetapi, sebagai pujangga pemikir, Sitor menyajikan juga tawaran pemikiran yang menyatu sebagai renungan berharga atas masalah tersebut.

Pada 2019 ini, tepat 95 tahun sastrawan Sitor Situmorang, atau 5 tahun setelah ia wafat, Yayasan Sitor Situmorang menggelar acara “Peringatan 95 Tahun Sitor Situmorang”. Acara diselenggarakan pada Rabu (24/10/2019) di Auditorium Perpustakaan Nasional Jakarta dari pukul 13.00-17.00 WIB. Acara dimulai dengan peluncuran dan bedah buku “Angin dan Air Danau Toba”. Tampil sebagai pembicara penyair Afrizal Malna dan pengajar filsafat ekologi dari FIB UI, Embun Kenyowati.

“Angin dan Air Danau Toba adalah kumpulan sajak Sitor Situmorang harus diapresiasi dan tetap harus dibaca karena meskipun dari geografi yang terbatas kawasan Batak Toba, tetapi telah menceritakan masalah besar luas kita paling aktual, yaitu bagaimana
perkembangan ilmu pengetahuan dan peningkatan kesejahteraan manusia dalam konteks pembangunan telah mengorbankan alam dan manusia sebagai ongkos besarnya,” kata Embun Kenyowati dalam keterangan tertulisnya yang diterima Redaksi24.com.

Sementara ketua Yayasan Sitor Situmorang, Logo Situmorang menyatakan peluncuran dan diskusi buku ini bertujuan untuk menghidupkan kembali kesadaran masyarakat tentang perlunya menjaga dan merawat alam dalam skala nasional, terutama kawasan Danau Toba yang kini menjadi objek wisata utama di Indonesia. Pendekatan yang dilakukan tentu dengan memantik sadar masyarakat lewat karya sastra.

“Perayaan 95 Tahun Sitor Situmorang terutama memang untuk merespon kawasan Toba yang mengalami begitu banyak kerusakan lingkungan. Kami berharap puisinya yang merupakan pemikirannya tentang ekologi dan manusia Batak yang terkumpul dalam buku Angin dan Air Danau Toba akan membantu membangun kesadaran kita akan bahaya bencana ekologi yang harus distop segera, bukan hanya di kawasan toba tetapi seluruh Indonesia.” tuturnya.

BACA JUGA:

Warisan Amarzan Loebis Bagi Dunia Jurnalistik Indonesia

Kosada Babel Buka Kelas Menulis Ilmiah dan Jurnal Perjalanan

Di samping itu, acara akan disusul dengan peluncuran dan diskusi buku kedua tentang “Mitos dari Lebak: Telaah Kritis Peran Revolusioner Multatuli”, adalah buku terjemahan Sitor Situmorang atas
karya sahabatnya Rob Nieuwenhuys. Dikerjakannya selepas bebas penjara pada 1975.

Selain peluncuran dan diskusi buku pada 24 Oktober juga akan tampil musik gondang dan serune Batak yang dimainkan Martahan Sitohang anak sekaligus pelanjut Guntur Sitohang, maestro musik Batak. Ada juga musikalisasi puisi-puisi Sitor oleh Sasina IKSI UI. Makan khas Batak seperti Lapet dan ombus-ombus akan juga tersedia yang bisa dinikmati bersama kopi Sidikalang dan durian Parogil yang diracik oleh tukang kopi Jaringan Advokasi Tambang (Jatam).

Selain di Jakarta acara Peringatan 95 Tahun Sitor Situmorang juga akan dilaksanakan di Bandung di Rumah Baca Budaya Sunda pada 26 Oktober 2019 jam 14.00-17.00 WIB, membahas buku Mitos dari Lebak: Telaah Kritis Peran Revolusioner Multatuli dengan narasumber budayawan Sunda, Hawe Setiawan.

Kemudian di Malang pada 4 November 2019 jam 19.00-21.00 WIB di Kafe Pustaka Perpustakaan Pusat Universitas Negeri Malang membahas buku Mitos dari Lebak: Telaah Kritis Peran Revolusioner Multatuli dengan nara sumber Anton Novenanto (Sosisolog Universitas Brawijaya) dan JJ Rizal (Sejarawan).

Selanjutnya di Yogyakarta pada 6 November 2019 jam 19.00-21.00 WIB di Pusat Pastoral Mahasiswa Katolik Yogyakarta, JL. Doktor Wahidin No.54, Klitren, Kec. Gondokusuman. Narasumbernya adalah Katrin Bandel (Kritikus sastra), Yoshi Fajar
Kresno Murti (Arsitek Ugahari), dan Gunretno (Sedulur Sikep pendiri JMPPK) untuk buku Angin dan Air Danau Toba. Juga pembahasan buku Mitos dari Lebak: Telaah Kritis Peran Revolusioner Multatuli di Bentara Budaya Yogyakarta pada 7 November jam 19.00-21.00 WIB dengan narasumber JJ Rizal (Sejarawan). (Alfin/Aan)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.