Pelaku Santunan Yatim Fiktif di Labuan Pandeglang Diancam 5 Tahun Penjara

  • Whatsapp
santunan yatim pandeglang
Peristiwa santunan fiktif menyisakan kekecewaan yang mendalam bagi ribuan anak yatim di Pandeglang.

PANDEGLANG, REDAKSI24.COM – Panitia santunan berinisial AA, asal Kecamatan Panimbang, Kabupaten Pandeglang, yang telah menelantarkan ribuan anak yatim di Kecamatan Labuan  hingga saat ini masih diburu petugas Polsek Panimbang.

Selain AA, polisi juga masih memburu koordinator santunan fiktif asal Kecamatan Labuan berinisial EJ. Sampai sekarang kedua orang yang telah menjanjikan santunan kepada ribuan anak yatim itu, belum diketahui keberadaannya.

Bacaan Lainnya

Kapolsek Panimbang, AKP Sugiar Alimunandar mengakui pihaknya masih menyelidiki keberadaan AA, selaku panitia santunan yatim untuk Kecamatan Panimbang. Jika nanti ditemukan, kata Kapolsek, AA bisa dipidana dengan hukuman 5 tahun penjara.

“Tindakan pelaku itu masuk katagori perbuatan tidak menyenangkan, yang menimbulkan kerugian terhadap masyarakat. Maka bisa dikenakan hukuman selama 5 tahun penjara,” ungkap Kapolsek melalui sambungan telepon, Jumat (17/7/2020).

BACA JUGA: Polisi Buru Panitia Santunan yang Menelantarkan Ribuan Anak Yatim di Labuan Pandeglang

Menurutnya, akibat perbuatan AA, warga, dalam hal ini atau ribuan anak yatim dari beberapa kecamatan sudah berbondong-bodong datang ke lokasi kegiatan, karena dijanjikan akan diberikan santunan.

“Dari informasi yang kami kumpulkan, anak-anak yatim itu dijanjikan akan mendapat santunan uang sebesar Rp500 ribu per orang,”  ungkap Kapolsek.

Untuk menuju ke lokasi santunan, lanjut Kapolsek, para anak yatim tersebut menggunakan jasa transportasi angkutan umum. Namun belakangan kegiatan santunan tersebut ternyata hanya hoax alias fiktif.

“Pelakunya kabur dan sekarang masih kami cari keberadannya,” katanya.

BACA JUGA: 10 Jam Telantar, Ribuan Anak Yatim di Pandeglang Tertipu Santunan Bodong

Terpisah, Kepala Desa (Kades) Cigondang, Cepi mengaku, koordinator santunan asal desanya berinisial EJ sampai sekarang juga belum diketahui keberadaannya. Dia menegaskan, EJ harus ditindak secara hukum karena telah menimbulkan keresahan masyarakat.

“Pelaku harus bertanggungjawab atas perbuatannya. Karena sudah merugikan banyak orang khususnya para anak yatim,” tandasnya.(Samsul Fathoni/Difa)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.