Pelajar Jadi Pecandu Akibat Lemahnya Pengawasan Iklan dan Peredaran Rokok di Tangerang

oleh -
Iklan rokok dengan bentuk baliho marak di Tangerang.

KOTA TANGERANG, REDAKSI24.COM – Iklan rokok di wilayah Tangerang Raya tak terbendung. Kendati di daerah penyangga Ibu Kota Jakarta tersebut, terdapat peraturan daerah yang mengatur penerapan iklan rokok. Seperti tidak boleh menampilkan rokok serta menyematkan peringatan bahaya dalam iklannya, namun hal itu tetap saja sulit mengurangi hasrat produsen rokok untuk memasang iklannya. 

Akibat dari itu  tidak sedikit pecandu rokok berasal dari anak dibawah umur. Penyebaran rokok yang paling terlihat mencolok ada di bagian utara wilayah Kabupaten Tangerang. Iklan rokok di wilayah Kabupaten Tangerang yang disebut Pantai Utara (Pantura) tersebut sangat masiv. Tidak sedikit pula rokok merek lokal yang belum dapat dipastikan izinnya kerap menampilkan rokok dalam iklannya. 

Kemudian, di Kota Tangerang dan Kota Tangerang Selatan juga banyak iklan rokok yang terpampang di jalan, mulai dari spanduk, reklame hingga billboard. Kendati, iklan tersebut tidak semarak yang terdapat di Kabupaten Tangerang. 

Meski bukan produsen tembakau, di Tangerang Raya banyak terdapat rokok dengan merk lokal. Biasanya tembakau itu mereka datangkan dari wilayah Jawa dan Sumatera, kemudian dikemas dengan merek lokal. Rokok-rokok merek lokal itu banyak ditemui atau dijual di toko kelontong.

Rata-rata tembakau tersebut dijual dalam bentuk rokok kretek 12 batang per bungkus. Ada juga yang berbentuk tembakau asli dengan berat 20 hingga 100 gram. Harga yang mereka tawarkan pun murah mulai dari Rp. 5.000 hingga Rp. 12.000. Harga yang murah bila dibandingkan dengan tembakau mainstream lainnya. 

Bagi pekerja kasar dan masyarakat menengah ke bawah tembakau tersebut menjadi rekomendasi di saat harga tembakau mainstream yang kian melambung. Tak ada batasan usia untuk dapat membeli tembakau di wilayah tersebut. Hal inilah yang rentan tatkala ada anak usia dibawah umur membeli dan mengkonsumsi rokok tersebut. 

Kebanyakan anak di usia dini menghisap tembakau yang dikemas menjadi rokok untuk mengikuti gaya hidup. Namun tidak sedikit dari mereka yang hanya ikut-ikutan. Bahkan di wilayah ini rokok sudah menjadi identitas diri. 

Para pelajar di Kabupaten Tangerang menganggap jika dirinya tak merokok akan dirundung karena dinilai tak jantan.  Hal Tersebut diungkapkan oleh salah satu pelajar di Kabupaten Tangerang. 

“Ya kalau tidak merokok nanti kita bakal disebut tidak jantan,” ungkap Fikri salah seorang pelajar kelas 10 di salah satu SMK di Kabupaten Tangerang.

Bahkan dari pengakuannya dia sudah mulai mencandu rokok sejak  usianya 10 tahun. Saat dia masih duduk di bangku Sekolah Dasar (SD). Padahal, saat itu pengawasan orang tua sangatlah ketat.  Kata Fikri selain lingkungan iklan rokok juga menjadi salah satu faktor keinginan dia untuk menghisap tembakau petani Indonesia ini.  “Ya penasaran, dulu di wilayah saya banyak sekali iklan dari spanduk, billboard dan reklame. Jadi coba sekali pas sekolah di kamar mandi, ga taunya nagih,” ucapnya. 

Menjadi pecandu di usia dini bukanlah hal baik bagi Fikri, dirinya mengaku sempat terkena serangan paru-paru. Namun hal tersebut tidak membuat dirinya berhenti untuk menghisap rokok. “Ya sempat berhenti tapi cuma satu minggu saja. Selanjutnya sampai sekarang saya masih merokok,” tukasnya. 

Hal senada diungkapkan oleh FR. Bocah yang masih duduk di bangku kelas 2 Sekolah Menengah Pertama (SMP) di Kabupaten Tangerang ini menganggap bahwa merokok merupakan hal yang wajar bagi seorang laki-laki. “Wajar aja sih. Namanya juga laki-laki, wajarlah ngerokok,” katanya. 

Bahkan dirinya mengetahui sejumlah merek rokok ternama di Indonesia melalui iklan rokok yang terpampang di Tangerang. Meskipun, pada iklan merek ternama itu tak memperlihatkan rokok atau tembakau. “Ya, tetep aja itu ketauan iklan rokok,” katanya. 

FR mengungkapkan untuk memperoleh rokok  sangat mudah, Ia bisa beli di warung hingga toko swalayan. Meskipun, usianya masih belia, FR mengaku tak ada kesulitan saat membeli rokok di tempat tersebut. “Nggak pernah sih ditanya umur berapa. Ya kalau mau beli ya beli aja gak dilarang juga,” katanya. 

Kendati demikian, FR mengaku masih takut bila merokok di tempat umum. Biasanya dia merokok di tempat-tempat yang jauh dari pengawasan orang tua. Hal itu dilakukan karena takut dimarahi bila ketahuan. “Belum bebas. Kalo ketauan orang tua nanti bisa dimarahi,” katanya. 

Kecanduan merokok juga dialami oleh WD yang tinggal di Kota Tangerang. Remaja kelas 2 Sekolah Menengah Atas (SMA) ini mengaku mulai menghisap rokok sejak duduk di bangku SMP. Hal itu terjadi karena teman-teman di lingkungannya juga menghisap rokok. “Lihat temen ngerokok ikutan ngerokok,” katanya. 

WD mengaku sehari dapat menghabiskan satu bungkus rokok dengan isi 16 batang. Jumlah rokok yang dihisap dalam sehari sebenarnya tidak tentu. Tergantung lamanya dia nongkrong. “Kalo nongkrong mah sebungkus bisa. Tapi kalo lagi di luar. Kalo di rumah gak berani. Belum boleh kan (sama orang tua),” katanya. 

WD biasanya menghisap rokok filter yang harga per bungkus Rp26 ribu. Untuk membeli rokok tersebut biasanya dia menyisihkan uang jajan yang diperoleh dari orang tua. “Kalo ada duit mah beli sebungkus. Kalo nggak ada, ya setengah bungkus,” katanya. 

WD mengaku penyebab paling tinggi menjadi pecandu bukan hanya karena maraknya iklan rokok, melainkan didukung pula oleh lingkungan. “Gaga-gara liat temen ngerokok sat nongkrong ya ikut ngerokok juga,” ungkapnya.

Lebih jauh WD menjelaskan, adanya  iklan rokok yang mempromosikan dengan harga murah, juga membuatnya tertarik untuk membeli rokok tersebut. Karena selain penasaran dengan rasanya, harganya pun sangat terjangkau bagi pelajar. “Ada yang harganya sepuluh ribu isi 12 batang. Itu juga saya suka beli. Karena murah dan rasanya standar,” katanya.

 

Minimnya Pengawasan, Iklan Rokok Banyak Diminati Konsumen 

Iklan yang bertebaran di wilayah Tangerang membuat rokok banyak menyasar kaum remaja dan ekonomi menengah ke bawah. Hal itu terjadi, karena minimnya pengawasan dari pemerintah setempat.

Bahkan distributor rokok di wilayah tersebut, memanfaatkan media baliho, spanduk, billboard dan  Sales Promotion Girl (SPG) sebagai pemasaran rokok. Salah seorang sumber yang juga sales marketing perusahan rokok WH menyebut iklan rokok ini sangat digemari. 

Apalagi untuk wilayah Pesisir Utara (Pantura) Kabupaten Tangerang. Menurut dia, setiap warung atau agen banyak mengincar iklan rokok ini untuk promo spesial. “Kalau spanduk itu biasanya kita memang ada promo. Jadi kalau dia mau pasang spanduknya nanti dapat hadiah 300 ribu, tapi dalam bentuk rokok bukan uang,” jelasnya. 

Kata dia selain menggunakan media visual pemasaran produk rokok di wilayah Tangerang juga banyak yang menggaet sales promotion girl (SPG). Tujuannya untuk menarik minat masyarakat agar membeli atau menghisap produk yang dipasarkan. 

“Ya banyak distributor rokok yang menggunakan jasa SPG. Selain SPG itu cantik, juga bisa merayu konsumen untuk membeli produk rokok yang dipasarkan,” jelasnya.

WH mengatakan, pada dasarnya menggunakan jasa SPG tidak efektif. Namun untuk menggedor pasar pada langkah awal mempromosikan produk rokok baru tersebut sangatlah diperlukan. “Kalau dibilang untung enggak, karena SPG itu hanya bisa memasarkan berapa bungkus rokok dalam sehari, sementara honornya cukup besar. Jasa SPG dipakai, hanya untuk menarik pembeli agar kecanduan dengan rokok tersebut,” papar dia.

WH juga mengatakan, saat ini peredaran rokok di wilayah Tangerang sudah banyak. Bahkan tidak sedikit rokok tanpa Bea dan Cukai beredar di wilayah tersebut. “Banyak itu. Meskipun rokok ini dari wilayah Jawa, tetapi di Tangerang banyak juga yang mengolah,” ujarnya. 

Dia menambahkan kalangan perokok bukan hanya dari kelas ekonomi menengah ke atas saja. Namun kalangan masyarakat dengan ekonomi kebawah juga banyak yang menjadi pecandu rokok. “Jangankan pelajar yang sudah dewasa. Yang masih di bawah umur juga banyak, apalagi untuk nelayan itu kalau beli nggak nanggung- nanggung,” tandasnya. 

 

Menjadi Pasar Strategis Peredaran Rokok 

Minimnya pengawasan peredaran rokok tersebut, membuat Kota Tangerang dan Kabupaten Tangerang yang berdekatan dengan Bandara Internasional Soekarno – Hatta  menjadi wilayah strategis dalam peredaran rokok. 

Terbukti baru-baru ini Kejaksaan Negeri (Kejari) Kota Tangerang memusnahkan sebanyak 16.350 bungkus rokok ilegal yang sudah inkrah atau berkekuatan hukum tetap. “Jadi ini salah satu kegiatan pemusnahan dari penyidikan tindak pidana dari penangkapan rokok ilegal yang tidak dilengkapi cukai,” kata Kepala Bea Cukai Tangerang, Guntur Cahyo Purnomo, Selasa (7/9 2021) lalu. 

Guntur menuturkan Kota Tangerang merupakan wilayah sentra peredaran rokok ilegal dari daerah Jawa. Peredaran itu pun disita melalui jalur darat seperti angkutan umum dan jasa pengiriman. “Di Kota Tangerang itu pasar strategis peredaran rokok ilegal. Paling banyak didatangi dari Jawa Timur dan Jawa Tengah. Kalau peredaran ini bisa dari pos, bisa juga dari angkutan umum,” katanya. 

Menurut Guntur selain menjadi pemasaran rokok ilegal, Kota Tangerang juga menjadi wilayah transit sebelum di sebar ke pulau Sumatera. Selain itu, di Kota Tangerang tidak ada home industri rokok ilegal. “Di Kota Tangerang industri enggak ada ilegal, semua legal. Tangerang itu bukan daerah untuk produksi rokok. Tangerang selain untuk daerah pemasaran, juga daerah distribusi dari Jawa Timur mau dikirim ke pulau Sumatera melalui penyebrangan Pelabuhan Merak,” katanya

Kendati begitu, Guntur enggan berkomentar terkait pengawasan atau pengendalian peredaran rokok tersebut. Alasannya, kebijakan itu ada di tangan Pemerintah Kota Tangerang dan Kabupaten Tangerang.

 

Kontrol Iklan Rokok di Indonesia Lemah, Jutaan Anak Usia Dini Jadi Pecandu Rokok 

Menurut  Ketua Lentera Anak, Lisda Sundari, para generasi muda di Indonesia saat ini banyak yang kecanduan rokok, karena lemahnya pengawasan dan  aturan yang mengikat dalam iklan rokok di Tanah Air.

Ironisnya lagi, kata Lisda, tidak sedikit di wilayah Tangerang iklan rokok terpampang di dekat sekolah, sehingga berpengaruh terhadap siswa di sekolah tersebut untuk mencoba rokok itu.

“Tentu pengaruhnya cukup besar. Kami punya studi, iklan rokok adalah salah satu strategi perusahaan rokok untuk menargetkan anak kita jadi perokok.  Modus ini juga dilakukan di negara lain, terbukti saat ini sudah tiga juta lebih anak di Indonesia jadi perokok, ini harus disikapi dengan serius,” tandasnya.

Dikonfirmasi masalah tersebut, Kabag Humas dan Protokoler Pemkot Tangerang, Buece Gartina mengatakan, Pemda Kota (Pemkot) Tangerang telah memiliki aturan soal kawasan bebas merokok di fasilitas umum atau tempat pelayanan umum, seperti yang tertuang di Perda nomor 5 tahun 2010.

Namun demikian, Buece tidak dapat menjelaskan soal aturan dan sanksi iklan rokok yang dipampang  di kota seribu satu industri dan sejuta jasa tersebut.  “Jadi aturannya hanya pelarangan merokok di fasilitas umum atau tempat pelayanan umum, sehingga pengelola di pelayanan tersebut harus menyediakan ruang khusus untuk para perokok,” katanya dengan singkat. (Muhammad Iqbal/Aan)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

No More Posts Available.

No more pages to load.