Pasca Kebakaran Puluhan WBP Lapas Klas I Tangerang Diberikan Trauma Healing

oleh -
Salah seorang WBP Lapas Klas I Tangerang mengikuti trauma healing yang digelar Dinkes Kota Tangerang.

KOTA TANGERANG, REDAKSI24.COM– Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Tangerang, memberikan trauma healing kepada puluhan Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP) yang menjadi korban kebakaran di Blok C2 Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Klas I Tangerang, Kamis (16/9/2021). 

Hal itu dilakukan untuk menyembuhkan ketakutan WBP agar tidak mengalami trauma, pasca kebakaran yang menelan 49 korban jiwa beberapa waktu lalu.

Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) pada Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Tangerang, Indri Bevy mengatakan bahwa timnya sudah turun ke tempat kejadian perkara (TKP) sejak hari kedua pasca kejadian pada Rabu (8/9/2021) lalu.

Mulai dari pendekatan, penenangan dan pendalaman terkait gangguan psikis atau mental yang diderita korban selamat di Blok C. Tidak hanya kepada para WBP, trauma healing juga diberikan kepada para petugas Lapas yang berjaga pada waktu kejadian.

BACA JUGA: Pemkot Tangerang Buka Posko Bagi Keluarga Korban Kebakaran Lapas Tangerang

“Sebelum para napi bertemu dokter, Dinkes telah menyebar kuesioner dengan 29 poin pertanyaan. Hasilnya, baru ditentukan mereka membutuhkan penanganan psikiater atau psikolog dengan berbagai status traumanya,” jelasnya.

Kepala Bidang (Kabid) Pelayanan Medis dan Keperawatan pada RSUD Kota Tangerang, Amir Ali menjelaskan hasil kuesioner para WBP banyak yang mengalami kecemasan dan kesulitan tidur.

BACA JUGA: Korban Meninggal Kebakaran Lapas Klas I Tangerang Terus Bertambah dan Menjadi 49 Orang

“Maka, pada trauma healing ini belasan dokter psikiater dan psikolog diturunkan. Melakukan terapi kejiwaan dan terapi pengobatan. Sejauh ini belum ada yang naik pada tahap rujukan,” katanya.

Amir melanjutkan, proses terapi dilakukan secara person to person, sehingga sampai saat ini baru sekitar 83 napi yang ditangani. “Angka ini masih akan terus bertambah, jika trauma healing seperti ini tidak dilakukan dan tidak menutup kemungkinan, para napi dapat mengalami kecemasan yang lebih dalam atau depresi yang mendalam,” ungkapnya.

Menurut Amir, bilamana trauma healing ini selesai dalam waktu empat hari, pihaknya akan melakukan terapi rutin yang melibatkan jajaran dokter Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia (Kemenkumham). 

“Kami Dinkes dan pihak RSUD siap untuk memberikan obat-obatan dan menerima napi yang sekiranya membutuhkan penanganan rujukan yang lebih mendalam,” ucapnya.

Salah satu WBP di Blok C1 berinisial P menambahkan, sulit tidur dan kerap mengingat kejadian kebakaran beberapa waktu lalu menjadi keluhannya. “Cukup butuh juga penanganan dokter seperti ini. Seperti tadi kan ditanya, apa yang dirasa, keluhannya apa dan apa yang mengganggu. Jadi buat saya butuh, supaya saya bisa mengungkapkan perasaan saya, jadi lebih lega,” jelasnya.

Salah satu WBP lainnya dengan kasus narkoba berinisial H juga mengaku, ia mengalami trauma setelah kebakaran itu menelan korban jiwa salah seorang rekannya.

“Mungkin karena saya kepikiran dan mengingat-ngingat dia, jadi saya merasa dia datang ke saya. Tapi kalau sekarang, yang saya rasa lebih ke ingin suasana yang ramai, tidak mau sepi. Jadi pelayanan kesehatan seperti ini saya membutuhkannya untuk mengetahui kejiwaan saya,” pungkasnya. (Candra/Aan).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

No More Posts Available.

No more pages to load.