Pandemi Corona Hantam Sektor Industri, Ada Korban PHK Sampai Nekat Bunuh Diri

  • Whatsapp
Ilustrasi covid-19 hantam dunia industri

Oleh Endang JP, Pemred Redaksi24.com

REDAKSI24.COM,–Pandemi virus corona atau COVID-19 dalam sekejap saja telah meluluhlantakan perekonomian negara kita. Sektor Industri pun bertumbangan tak berdaya mengahadapi hantaman virus ini, cadangan bahan baku habis dan rantai perdagangan terhenti. Industri berada dalam kondisi sulit tak mampu lagi membayar upah karyawan hingga harus dirumahkan, bahkan pemutusan hubungan kerja (PHK) harus terjadi, tak lagi bisa dihindarkan.

Bacaan Lainnya

Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPSI) menyebutkan, secara nasional sudah ada sekitar 685 ribu buruh yang kena PHK, dan 1,8 juta lainnya dirumahkan. PHK massal tersebut terjadi dikarenakan tidak adanya bahan baku untuk produksi, terlebih sektor industri di Indonesia sangat tergantung dengan bahan baku dari luar negeri.

“Bisa kita bayangkan kalau penyebaran ini sampai di Bulan Juli, Agustus, September pasti akan banyak pabrik yang stop produksi dan akan banyak lagi buruh yang di PHK,” kata Presiden KSPSI, Andi Gani Nena Wea usai memberikan bantuan APD kepada RSUD Balaraja, Kabupaten Tangerang, pada Jumat (1/5/2020).

Andi berharap, anggaran negara untuk penanganan Covid-19 yang sekitar 451 triliun mencakup stimulus -stimulus ekonomi, bantuan sosial, dan sebagainya bisa tepat sasaran.Termasuk anggaran untuk kartu prakerja yang awalnya diperuntukan bagi pengagguran, tetapi dalam situasi seperti ini presiden sudah menginstruksikan bahwa kartu prakerja diberikan kepada korban PHK.

“Anggarannya itu 5,5 juta kartu tapi kalau sekarang calon penerima sudah mencapai 8,7 juta orang, berarti ada kelebihan 3 juta bahkan bisa tambah terus semakin banyak pabrik yang tutup,” ujarnya

BACA JUGA:

Ditengah Kondisi Ekonomi Yang Sulit, Kasus Bunuh Diri di Tangerang Terus Terjadi

Mahasiswa Minta Pemkab Serang Cegah PHK Massal

.

Sementara di Provinsi Banten gelombang PHK akan terus terjadi terutama di wilayah-wilayah kantung industri. Data Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Banten mencatat sebanyak 9.180 karyawan pabrik terdampak wabah COVID-19. Dari jumlah itu, sebanyak 3.000 lebih terkena Pemutusan Hubungan Kerja (PHK).

Kepala Disnakertrans Banten Al Hamidi mengatakan, pihaknya memperkirakan kasus PHK akan terus bertambah jika wabah corona di Banten belum mereda. Bahkan dia memastikan jumlah buruh yang terdampak akan bertambah dari angka sebelumnya.
“Data kita, 5 ribu lebih dirumahkan, dan 3 ribu lebih mengalami PHK,” kata Al Hamidi.

Di Kota Tangerang Selatan (Tangsel), sebanyak 1.582 orang warga telah melapor terkena pemutusan hubungan kerja berasal dari 27 perusahaan. Perusahaan yang terpaksa melakukan PHK bergerak di bidang ritel, outsourcing, restoran, dan lain sebagainya.

“Data tersebut sesuai by name by address (nama lengkap dan alamat),” ujar Sekretaris Disnaker Kota Tangsel, Yantie Sari.

Untuk Kabupaten Tangerang hingga 21 April 2020 setidaknya ada 35 perusahaan tumbang dan telah melakukan PHK. Dengan rincian dirumahkan berjumlah 6.083 dan PHK mencapai 2.905 karyawan.

Kepala Disnaker Kabupaten Tangerang, Jarnaji mengatakan, gelombang PHK dan merumahkan karyawan ini akan terus berlangsung mengingat wabah virus ini belum diketahui kapan akan berakhir. Dinas Tenaga Kerja masih terus melakukan pendataan melalui laporan perorangan maupun perusahaan.

Di Kota Tangerang sedikitnya 6.000 karyawan dirumahkan. Data ini disebukan Disnaker setempat belum menyeluruh karena tidak semua perusahaan melaporkan persoalan tersebut. Seperti di Bandara Soekarno Hatta, banyak perusahan yang tidak beroprasi dan karyawannya di rumahkan, tapi belum lapor.

“Transparansi sangat penting. Supaya peningkatan angka pengangguran di Kota Tangerang diketahui” ungkap Sekertaris Disnaker Kota Tangerang, Sri Soeprapti.

Adapun perusahaan yang PHK karyawannya secara besar- besaran yaitu PT Shyang Yao Fung yang memproduksi sepatu ekspor sebanyak 2500 Karyawan, selain itu di Kota Tangerang juga terdapat 48 peruhahaan lainnya yang mem-PHK karyawannya.
“Sebanyak 2500 karyawan PT Shyang Yao Fung di PHK,” kata Wakil Ketua Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (SPSI) Kota Tangerang Hardiansyah.

Korban PHK Nekat Bunuh Diri

Ratusan ribu korban PHK kini hidup dalam tekanan, penghasilan tak ada uang pun tak punya. Sementara kebutuhan dasar hidup harus tetap terpenuhi, cicilan kendaraan, kontrakan rumah tak sanggup lagi dibayar. Diantaranya ada yang terpaksa hidup menggelandang, bahkan ada yang putus asa menghadapi kenyataan hingga mengakhiri hidup dengan cara bunuh diri.

Peristiwa tragis itu menimpa Hartono, karyawan PT Shyang Yao Fung, di kawasan industri Jatiuwung, Kota Tangerang, Banten. Laki-laki yang tinggal di Kampung Ceplak, RT01/02, Desa Sukamulya, Kecamatan Sukamulya, Kabupaten Tangerang tersebut, memilih mengakhiri hidupnya pada Kamis (30/4/2020) dengan cara memotong urat nadi dengan pisau, lantaran khawatir di PHK dari pekerjaannya.

”Sepertinya almarhum depresi mendengar perusahaan yang akan mem-PHK ribuan karyawan. Dia takut duluan, karena saat perusahaan dalam kondisi sehat, sering cuti,” kata salah seorang kerabat kerja korban tanpa menyebut nama.

Sementara Polsek Balaraja dalam keterangannya yang diterima Redaksi24.com, korban nekat bunuh diri karena faktor ekonomi. Pasalnya, satu hari sebelum mengakhiri hidupnya, korban mengeluh banyak hutang pada adik Iparnya Husen. Dalam kondisi seperti itu, istri korban juga harus dirawat di rumah sakit karena kecelakaan. ” korban diduga bunuh diri karena faktor ekonomi,” kata Kapolsek Balaraja,” Kompol Feby Heriyanto.

Nasib naas juga menimpa Saruji alias Joy (46) nekat gantung diri di pohon ceri Kamis (30/4/2020) malam di Kapling Kejaksaan, Kelurahan Karang Mulya, Kecamatan Karang Tengah, Kota Tangerang.

Korban yang diketahui memiliki dua orang istri ini berprofesi sebagai pembawa acara (MC) dangdut di pesta-pesta perkawinan. Namun semenjak virus corona mewabah dan pemerintah melarang keras adanya kerumunan untuk memutus mata rantai penyebaran Covid-19, korban terlihat tidak pernah mendapat tawaran kerjaan alias sepi job.

”Semenjak kondisi seperti ini, saya tidak pernah melihat dia (Joy) bekerja. Bahkan jarang keluar rumah,” kata Nyonya Siah (48) tetangga korban.

Serangan wabah virus corona ini telah merubah kehidupan kita. Selain ancaman PHK, kelaparan, dan tertular virus, juga telah menimbulkan kecemasan mendalam di masyarakat. Peristiwa itu pun telah menyadarkan kita, betapa isu pandemik Covid-19 ini bukan saja bisa menimbulkan sakit secara fisik berujung kematian lantaran tertular. Juga dapat menimbulkan depresi berujung kematian lantaran bunuh diri, tidak kuat menerima kesulitan hidup akibat kehilangan mata pencaharian.(*)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.