Pancasila Vaksin Tepat Tangkal Radikalisme

  • Whatsapp
pancasila
Wakil Direktur Eksekutif International Conference of Islamic Scholars (ICIS), KH Khariri Makmun Lc, MA.

JAKARTA, REDAKSI24.COM – Pancasila sebagai dasar negara merupakan vaksin yang tepat bagi bangsa Indonesia. Pancasila dapat menguatkan imunitas diri dari virus-virus pemahaman radikal terorisme. Hal tersebut dikarenakan, apabila Pancasila diistilahkan ke dalam bahasa agama ada sila Ketuhanan Yang Maha Esa yang sama artinya dengan tauhid dalam Islam.

Menurut Wakil Direktur Eksekutif International Conference of Islamic Scholars (ICIS),  KH Khariri Makmun Lc, MA, sila-sila dalam dasar negara Pancasila sesungguhnya sudah tercermin nilai-nilai agama, khususnya agama islam. Karena itu, menurut dia, tidak semestinya agama dan Pancasila dibentur-benturkan.

Bacaan Lainnya

“Di dalam Pancasila ada sila Ketuhanan Yang Maha Esa yang itu sebetulnya tauhid, kemudian sila Kemanusiaan Yang Adil dan Beradab itu ‘al insaniyah’, kemudian sila Persatuan Indonesia yang di dalam Al-Quran disebut ‘wa’tasimu bihablillahi jami’an wala tafarraqu’ yang artinya kita bersatu jangan tercerai berai. Lalu sila keempat itu permusyawaratan perwakilan itu ‘as-syura’ yang dalam Al-Quran itu artinya Musyawarah. Juga sila Keadilan Sosial adalah ‘al adalah’ yang artinya keadilan,” ujar KH. Khariri Makmun Lc, MA, Jumat (26/6/2020).

BACA JUGA: Anggota DPR RI Ananta Wahana Sosialisasikan 4 Pilar, Membumikan Pancasila Hingga Tekankan Gotong Royong

Khariri mengatakan, dengan adanya penjelasan di dalam Al-Quran rumusan-rumusan Pancasila sudah sejalan dengan maqashidu asy-shyariah dengan tujuan-tujuan agama. “Kalau masyarakat bisa memahami agama itu dengan benar, tentunya tidak akan ada tuduhan antara Pancasila dengan agama atau dengan Al-Quran itu sendiri,” ungkap Khariri Makmun.

Pria yang pernah menjadi Rais Syuriah NU di Jepang pada tahun 2004-2006 ini juga menuturkan, bila seseorang dapat memahami agamanya dengan baik, maka otomatis akan bisa menerima Pancasila itu dengan benar.

“Saat ini yang terjadi adalah dalam memahami ajaran agama saja, seseorang banyak memiliki permasalahan dalam memahaminya. Sehingga ketika agama disandingkan dalam konteks bernegara dan berpolitik ada sesuatu yang hilang dari pemahamannya. Karena itu, saat ini muncullah bibit-bibit intoleransi radikalisme,” katanya.

Itulah mengapa saat ini agama dan Pancasila selalu dibenturkan, karena kurangnya pemahaman tersebut. Disinilah diperlukan peran para tokoh agama atau ulama-ulama moderat guna memberikan pemahaman yang benar kepada masyarakat.

Cara untuk mengatasi permasalahan tersebut, menurut pria peraih Doktoral dari Averup University, Rotterdam, Belanda ini, mereka harus sesering mungkin diajak berdialog dan juga perlu adanya tokoh-tokoh yang bisa menjelaskan secara runut kepada kelompok-kelompok ini.

“Orang-orang ini ini sebetulnya adalah korban dari indoktrinasi jadi perlu diajak dialog. Saya sendiri sebagai dosen, saya mengajarkan mulai dari mahasiswa di semester pertama ada materi tentang intoleran lalu bagaimana kita menghadapi intoleran itu sehingga kita bisa menjadi toleran. Kita juga berikan kepada mereka bagaimana pemahaman yang benar. Khususnya dalam konteks beragama di Indonesia,” paparnya.

BACA JUGA: Bermasker dan Hindari Kerumunan, Bentuk Implementasi Nilai Pancasila Di Tengah Pandemi

Khariri juga menjelaskan, kelompok-kelompok radikal tersebut biasanya menggunakan alasan kalau mereka orang yang referensinya adalah Al-Quran dan sunnah. Jadi seolah-olah mengatakan ijtihad pendapat-pendapat ulama itu bukan berasal dari Quran dan Sunnah.

“Makanya mereka yang mengambil langsung dari sumbernya Al-Quran dan hadist akan berhadapan dengan masalah yang lebih sulit. Karena kemampuan mereka di dalam mamahami al quran dan hadist saja sebetulnya tidak sampai tapi dia memaksakan diri,” jelas Wakil Direktur International Conference of Islamic Scholars (ICIS) itu.

Menurut Direktur Halal Care Indonesia ini, hal tersebut tentunya berbeda dengan kalangan aswaja yang mencari dari kitab-kitab kuning dulu. Karena hal itu adalah hasil dari pendapat ulama yang dianggap lebih kredibel dan punya kemampuan.

“Makanya kita runut, jadi pendapat ulama dalam hal ini apa? Kalau tidak ketemu baru kita ke Al Quran dan hadist. Tapi tahapannya dari pendapat ulama dulu, kalau sudah ketemu disana, ya kita akan lebih cenderung mengambil pendapat ulama terdahulu yang kredibilitas keilmuannya melibihi kita,” katanya.

Lebih lanjut pria yang meraih gelar Master dari Universitas Ulum Islamiyah Wal Arabiyah Damaskus, Syria ini pun menyampaikan bahwa perlunya moderasi beragama untuk memberi ruang kepada orang lain yang berbeda agama atau berbeda paham dengan kita.

“Dengan berpikir moderat, kita akan memberi ruang kepada orang lain untuk berbeda dengan kita. Kalau mereka yang radikal itu dia tidak memberi ruang bagi orang lain untuk berbeda dengan dia. Sehingga siapapun yang berbeda dengan dia dianggap sesat,”  ujarnya.

BACA JUGA: Peringati Hari Pancasila Secara Online, Wali Kota Serang Minta Pejabat Perkokoh Birokrasi

Karena itu pria yang juga menjadi Direktur Rahmi (Rahmatan Lil Alamin) Center ini  juga mendorong kepada pemerintah untuk terus mengerahkan upaya lebih dalam mencegah penyebaran paham radikal terorisme ditengah kemajuan teknologi.

“Untuk mencegah penyebaran paham radikal terorisme, saya kira Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) perlu untuk mengawasi pergerakan kelompok radikal di media online. Karena  sekarang dengan adanya aplikasi seperti zoom, mereka bisa saja membuat kelas-kelas online untuk menyebarkan pemahaman mereka dan saya kira itu perlu diwaspadai juga BNPT,” paparnya.(Agung/Difa)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.