Pakar: Perlu Disediakan “TPS mobile” Lansia di Pilkada Masa Pandemi

  • Whatsapp
Syamsul mendorong KPU dan Bawaslu menyediakan TPS ‘mobile’ bagi lansia di pilkada
Guru Besar Ilmu Kesehatan Masyarakat Fakultas Kedokteran Universitas Lambung Mangkurat, Prof Dr dr Syamsul Arifin MPd.

BANJARMASIN, REDAKSI24.COM— Anggota Tim Pakar ULM (Universitas Lambung Mangkurat) untuk Percepatan Penanganan Covid-19 Prof Dr dr Syamsul Arifin MPd mendorong perlunya KPU dan Bawaslu mempertimbangkan adanya TPS (Tempat Pemungutan Suara) “mobile” bagi warga lansia ( lanjut usia) di Pilkada Serentak 2020 pada masa pandemi.

“TPS mobile diperlukan untuk para lansia dan penderita dengan banyak komorbid atau penyakit bawaan yang rawan jika terpapar Covid-19. Penyelenggara pemilu baik KPU dan Bawaslu perlu mempertimbangkan ketersediaan prasana itu,” ujar Syamsul di Banjarmasin, Sabtu.

Bacaan Lainnya

Kata Guru Besar Ilmu Kesehatan Masyarakat Fakultas Kedokteran ULM itu, jika sistem TPS berjalan tersebut tak bisa diterapkan, maka disarakan tersedianya waktu tersendiri satu hari atau paling awal saat pemungutan suara sebelum jadwal warga lainnya datang.

Menurutnya, agar transmisi virus dapat terkendali seharusnya jenis-jenis tempat pemilihan khusus perlu juga disiapkan, antara lain TPS khusus orang dengan kontak erat, TPS khusus suspek, TPS khusus probable dan TPS khusus terkonfimasi positif Covid-19.

Sehingga, kata Syamsul, sebelum masuk ke area pemilihan, setiap pemilih disarankan dilakukan pengecekan suhu badan. Jika ada yang bersuhu badan lebih dari 37,5°C atau yang menunjukkan gangguan pernapasan diarahkan ke TPS khusus dengan sarana pengamanan yang lebih tinggi.

Syamsul menuturkan, “Selama proses pemungutan suara nanti akan terjadi interaksi antar pemilihan maupun pemilih dengan petugas. Jika selama interaksi tidak dilakukan pemisahan antara pemilih sehat, suspek, probable maupun terkonfirmasi maka semakin meningkatkan transmisi Covid-19 di kelompok masyarakat,”

Sedangkan untuk menekan kerumunan yang banyak, perlu pembatasan jumlah pemilih hanya 50% dari jumlah normal pemilih dalam satu tempat pemilihan.

Dengan cara itu, menurut dia, diharapkan konsistensi jaga jarak 1,5 meter dapat terjaga.

“Penerapan protokol kesehatan saja masih dianggap belum mampu untuk mencegah terjadinya transmisi Covid-19. Oleh karena itu, melalui pendekatan komprehensif ini diharapkan klaster pilkada dapat dihindari,”pungkas Syamsul yang juga Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Palangka Raya itu.(Firman/Ant/Jaya)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.