Neta S Pane di Mata Asro Kamal Rokan

oleh -
Ketika kami bersama Pak BJ Habibie (Alm) di IPTN, 1989. Sebelah kiri depan Pak Kosasih Kamil (Alm), Wakil Pemimpin Umum Merdeka), Pak Habibie, dan Pak Giri Suseno (BPIS). Belakang, Neta’spane (Redpel Merdeka), Triyono Wahyudi (Alm, wakil Redpel), Agus Salim Suhana (Pemred), Kiki Iswara (Redaktur Ekonomi), dan saya wakil Pemred.

NETA’SPANE JUGA PERGI …                                            Kenangan Asro Kamal Rokan

Net, sudah lama kita tidak bertemu. Kau pergi lebih dahulu, selamanya …Ya Allah, satu demi satu keluarga dan sahabat pergi, terasa lebih cepat dari yang diduga. Kematian pasti — tidak mundur sedetik pun — namun pandemi Covid-19 ini seakan mempercepat kepergian keluarga dan sahabat. Setiap orang seakan bergegas, saling mendahului menuju Maha Pencipta. Ya Allah, sungguh kami tidak memiliki daya apa pun, sama sekali tidak. Kami sebutir debu dalam gulungan badai: berterbangan dan hilang.

Inna lillahi wa inna ilaihi raaji’un. Neta’spane juga pergi. Rabu (16/06/ 2021), sekitar pukul 10.40 di RS Mitra Keluarga, Bekasi Barat, Neta’s — lahir di Medan, 18 Agustus 1964 — pergi selamanya, setelah dirawat sejak Sabtu (5/062021) karena Covid-19. Istri dan anak bungsunya juga terpapar Covid-19.

Dua hari setelah dirawat, dokter memasang ventilator karena pernafasan tidak stabil. Sehari kemudian, Selasa, Neta’s masih bisa menyampaikan kabar melalui akun facebooknya — yang beberapa kalimat seperti salah ketik.

Neta’spane mengabarkan oxigen tidak dapat masuk ke tubuhnya selama 15 menit. “Akhirnya kau memberi mukjizat mu untuk ku. Terima kasih Allah ..,” tulisnya, yang disertai fotonya dengan ventilator. Itulah kabar terakir dari Neta’s. Berikutnya, kabar dari para sahabat tentang perkembangan kesehatan hingga wafat.

Net, tentu kami pun akan pergi, menunggu waktu tiba — seperti sebutir debu dalam gulungan badai. Terbang dan hilang.

BERJUANG DARI BAWAH

Nama lengkapnya Neta Sahputra Pane, namun ia biasa menulis namanya Neta’spane. Kami bersahabat sejak Juni 1986 — awal pertama saya di Jakarta. Saya lebih dahulu mengenal ayahnya, Pak Endar Pane, penulis cerita bersambung di Harian Sinar Pembangunan, Medan (kini Medan Pos). Saat itu, saya wartawan koran tersebut, sekaligus koresponden Harian Merdeka Jakarta. Pak Endar sangat bangga pada Neta, yang sudah jadi wartawan di Harian Merdeka. Beritanya, dengan inisial “np” sudah sering saya baca. Begitu juga tulisannya.

Dua hari setelah saya tiba di Harian Merdeka di Jl AM Sangaji, Jakarta Pusat, seorang pemuda berkulit putih memperkenalkan dirinya Neta’spane. Kami cepat akrab, selain sesama Anak Medan, saya kenal baik ayahnya, juga kami memiliki kebiasaan yang sama, suka membaca dan menulis. Usia saya lebih tua empat tahun dari Neta, namun pengetahuan yang luas, kebiasaan, dan kehangatan, menghilangkan jarak usia kami.

Neta kost dekat pasar Grogol, di gang sempit dan padat. Di tempat kostnya, buku-buku berserakan. Tidak ada tempat tidur, hanya kasur yang dibentangkan ketika mau tidur. Air mandi harus bergantian dengan penghuni lain. Poster WS Rendra berlatarbelakang hitam, menempel di dinding kost yang berukuran sekitar 4×3 meter.

Saya kost di Jl Setiakawan, bersama wartawan Merdeka, Sudharsono Gunawan dan Yanto Uban, mantan wartawan Merdeka. Biaya kost Rp 25 ribu per bulan. Kamar mandi di dalam rumah, juga bergantian. Dari tempat kost ke tempat Neta, saya menyeberangi Kali Grogol, menggunakan getek.

Hampir setiap malam, kami pulang jalan kaki dari Harian Merdeka, sekitar satu kilometer, melewati pasar dan bioskop Roxy, kemudian makan roti bakar, minum susu telor di dekat rel kereta api depan Jl Setiakawan. Kawasan ini sering kami sebut Bronx karena rawan kriminalitas. ITC Roxy belum ada masa itu, hanya tanah kosong.

Neta adalah petarung. Bermodal nekat dan tekad, Neta merantau ke Jakarta. Awal merantau ke Jakarta, Neta mengasong gantungan baju dan sisir di Pasar Senen, padahal dia mempunyai tante yang tinggal di pemukiman mewah di Jakarta Utara. Itulah Neta, dia mandiri, tidak ingin menggantungkan hidup pada orang lain.

Di sela mengasong, Neta membaca berbagai buku dan rajin menulis. Dia membaca buku-buku Soekarno, novel-novel Pramudiya Ananta Toer secara sembunyi-sembunyi. Juga buku-buku Mochtar Lubis. Neta menyukai sajak-sajak protes WS Rendra.

Di Pasar Senen itu pulalah, Neta ikut kursus kewartawanan. Salah seorang pengajarnya adalah Ahmad Midjan, redaktur pelaksana Harian Merdeka. Melihat bakat besar Neta, Pak Ahmad Midjan membawa Neta menjadi reporter koran yang dimiliki tokoh pers BM Diah itu. Neta bertugas di desk Metropolitan. Pak Midjan tidak keliru. Neta dapat diandalkan. Berita-beritanya selalu menjadi berita utama di halaman Metropolitan, juga di halaman depan.

Salah satu beritanya yang menghebohkan — dikutip Reuters, Kantor Berita Inggris — Teluk Jakarta tercemar merkuri. Awalnya Neta memberitakan ribuan ikan mati. Berita ini berlanjut berhari-hari di halaman depan. Neta melakukan investigasi sendiri. Ternyata pencemaran itu serius. Pemda DKI Jakarta dan Pusat turun tangan. Dan, hasil penelitian menyebutkan pencemaran karena merkuri. Berita Neta itu tersebar luas melalui kantor berita asing.

Setiap libur Sabtu, kami selalu bersama. Pergi ke Pasar Senen membeli buku-buku loak, juga sembunyi-sembunyi ke toko buku Hasta Mitra, membeli novel Pramudya, yang dilarang saat itu. Kami ke Taman Ismail Marzuki latihan teater atau mengikuti diskusi-diskusi kebudayaan. Juga nonton Penembahan Reso WS Rendra di Istora Senayan, 1986.

Beberapa bulan kemudian, kami mengontrak rumah di Setiakawan. Lebih lega. Ada kamar mandi dan kamar. Kami bertiga dengan Zoel Lubis, yang kemudian menjadi wartawan Merdeka Minggu. Kemudian bergabung Adhie Mujabir dan Sugeng Satya Dharma, yang saat itu di Majalah Film. Sugeng dan istrinya mengontrak di sebelah. Amien Kamil, seniman, anak buah Rendra di Bengkel Teater, tak jarang datang dan berdiskusi sambil mendengarkan musik.

Di Harian Merdeka, wartawan muda — di antaranya Sudharsono Gunawan, Robert Manurung (alm), Bambang Kusuwanto (Mawan), yang pernah bertugas di New York, Neta, dan saya — bersaing untuk menghasilkan karya-karya bagus. Sudharsono, Robert, saya, dan Mawan sama-sama di desk olah raga. Neta di desk Metropolitan.

Kami bangga bila berita dimuat di halaman depan, yang dikomandani redaktur Pak Karim Paputungan. Pemimpin Redaksi saat itu Pak Ahmad Adirsyah (alm), wakilnya Pak Karim Paputungan.

Karier terus bergerak. Neta diangkat menjadi wakil redaktur pelaksana, sedangkan saya redaktur Kebudayaan dan Iptek.

Pak Kosasih Kamil, wakil pemimpin umum saat itu, membagi tugas sejumlah redaktur untuk mendekati simpul-simpul politik. Neta ditugaskan mendekati Menpen Harmoko, Syahdanur mendekati Ginandjar Kartasasmita, dan saya pada Menristek BJ Habibie. Tokoh-tokoh ini, termasuk Panglima ABRI Jenderal Feisal Tanjung, diperkirakan menjadi tokoh kunci pada tahun-tahun berikutnya.

Setiap informasi A1 (begitu kami menyebut informasi penting), kami bahas dalam rapat redaksi sore. Rapat kemudian membuat peta politik dengan berbagai perdebatan. Dalam rapat, Neta selalu kritis dan seringkalu tepat. Pak BM Diah dalam berbagai kesempatan mengajarkan pada kami, wartawan harus mendapatkan informasi dari sumber utama.

Saat itu, polarisasi politik mulai terasa antara kubu Pak Habibie (ICMI) dan kubu Benny Moerdani, mantan Panglima ABRI. Presiden Soeharto, yang sebelumnya dikenal tidak begitu dekat dengan kekuatan Islam politik, mulai berubah setelah kelahiran ICMI.

Seiring waktu, komposisi di Harian Merdeka juga berubah. Agus Salim Suhana diangkat menjadi pemimpin redaksi, saya wakil, Neta’spane redaktur pelaksana, dan wakilnya Triyono Wahyudi (alm). Polarisasi politik terasa berpengaruh juga di Merdeka. Belum setahun kami memegang amanah, pada 1990, keluar surat pemecatan kepada kami berlima, termasuk Pak Kosasih Kamil sebagai wakil pemimpin umum.

Ini sempat menimbukan kegoncangan. Sekitar 18 redaktur dan reporter memilih ikut kami. Mereka pun dipecat. Kami membuat posko di rumah Bang Amran YS di Johar Baru, Jakarta Pusat. Hampir setiap hari kami berkumpul di sana, sambil mencari media — dibuat sendiri atau bekerja di media lain. Neta bergabung ke Harian Terbit, Triyono ke Berita Buana, Agus Salim jadi wartawan media Jepang, Nikkei Shimbun. Saya ke Republika.

Harian Merdeka yang saat itu di Jl AM Sangaji, Jakarta Pusat, tetap terbit. Beberapa waktu selanjutnya, harian tertua ini bekerjasama dengan Dahlan Iskan. Dan, selanjutnya harian yang kemudian berkantor di Rawa Bokor, Tangerang, ini berubah menjadi Rakyat Merdeka, hingga kini.

Setelah beberapa kali berpindah media, Neta fokus di Indonesian Police Watch (IPW) bersama Data Wardhana, yang juga mantan wartawan Merdeka. Jabatan Neta, Ketua Presidium. Saya sering melihatnya diwawancarai televisi dengan bangga. Pernyataannya sering sekali keras menyikapi perilaku dan berbagai kebijakan Polri. Neta seperti tidak mengenal takut. Ini mengingatkan saya ketika Neta hampir saja berkelahi dengan dua pemuda, selepas nonton film Rambo di Tomang Plaza. “Pulang dari nonton, aku merasa jadi Rambo,” guraunya.

Hubungan kami terus berjalan, melalui whatsApp, meski jarang bertemu. Kami bergabung dalam sejumlah group whatsApp, menulis sejumlah buku — di antaranya Aku wartawan Merdeka dan Aku Anak Medan. Neta sahabat diskusi yang hebat. Pengetahuannya luas, mudah bergaul dengan siapa pun. Penampilan dan wajahnya seakan tidak pernah tua. Neta selalu gembira, kehidupan — dengan segala lika-liku — dia nikmati sebagai jalan yang harus dilalui. Tidak pernah saya dengar Neta mengeluh.

Kami selalu bersama, namun jalannya menemui Maha Pencipta, lebih cepat. Pergilah sahabat menemui Allah, Tuhan Yang Maha menentukan kehidupan. Pergilah. InshaAllah, jannatun naim menantimu. Aamiin yaa Robbal’Alamiin …

Jakarta, 17 Juni 2022

(Seperti dilansir Mimbarrakyat grup Siberindo.co)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

No More Posts Available.

No more pages to load.