Nestapa Kakek Yang Perjuangkan Hidup Sejak Jaman Soekarno

  • Whatsapp
Penjual perabotan tradisional.

KOTA TANGERANG, REDAKSI24.COM – Suharta, (82) asal Cicayur, Kecamatan Pagedangan Kabupaten Tangerang, Banten, terus mengayuh sepeda tua ditengah Pembatasan Sosial Bersekala Besar (PSBB). Ia terpaksa keluar rumah dan melintasi sepanjang jalan untuk menjual perabotan rumah tangga demi mencari nafkah.

Dimasa lansia yang seharusnya lebih banyak di rumah bersama keluarga, Suharta terus berusaha. Semangatnyapun tak pupus untuk menjajakan peralatan rumah tangga tradisonal yang terbuat dari anyaman bambu, walau saat ini perabotan tersebut sudah banyak tidak digunakan lagi oleh masyarakat.

Bacaan Lainnya

Saat ditemui Redaksi24.com di Jalan KH Hasyim Ashari, Kota Tangerang, Suharta mengaku sejak pagi hari menjajalan barang dagangannya itu belum ada yang laku. Namun ia tetap berusaha membawanya keliling keluar masuk wilayah.

” Setiap hari saya keluar rumah untuk keliling jualan perabotan seperti ini,” kata Suharta, Sabtu (18/4/2020).

Dan setiap hari pula, sepedah tua yang dimilikinya dipenuhi dengan produk anyaman bambu dagangan, sehingga ia kesulitan untuk dapat menggoesnya. “Kalau dagangan masih penuh seperti ini, sepeda saya tuntun. Tapi kalau sudah ada yang laku, baru bisa dinaiki,” kata dia.

Dengan bermandikan peluh, Suharta terus berupaya untuk mendapatkan rezeki demi memenuhi kebutuhan hidup keluarganya. Ia yakin Tuhan akan memberikan rezeki kepada umatnya yang senantiasa berusaha, walaupun terkadang tak satupun barang dagangannya ada yang laku.

“Pernah ga laku sama sekali. Ya mau gimana lagi namanya juga ikhtiar,” papar Suharta yang mengaku menjalankan usahanya itu sejak jaman orde lama dengan Presiden Soekarno.

BACA JUGA:

Dampak Covid-19, Nasib Masyarakat Kecil Semakin Terhimpit

Namun ia merasakan, di jaman sekarang, khususnya ditengah Pandemi virus corona, penghasilan semakin sulit diperoleh. Kendati demikian, ia harus tetap berusaha untuk mendapatkan nafkah bagi istrinya yang menunggu di rumah.

” Kalau tidak berusaha gimana, bantuan dari pemerintah juga nggak ada. Karenanya, saya harus tetap bergerak untuk hidup. Sebab bila tetap tinggal di rumah mau makan apa,” kata Suharta yang mengaku tinggal di rumah bersama istri. Sedangkan kedua anaknya sudah berkeluarga dan tinggal di wilayah Bogor, Jawa Barat.

Lebih jauh Suharta menjelaskan, dalam kondisi merebaknya virus corono, ia mengaku tidak takut untuk keluar rumah. Justru yang paling ia takuti hanyalah pulang tak membawa uang. “Penyakit itu hanya datang dari Gusti Allah. Tapi kalau mati karena kelaparan itu Allah akan murka karena kita tidak berusaha,” pungkasnya. (Iqbal/Aan)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.