Nenek Wiwin Asal Pandeglang Sulap Limbah Plastik Jadi Barang Ekonomi

  • Whatsapp
limbah plastik
Nenek Wiwin menunjukan tas dan tikar buatannya yang terbuat dari limbah plastik minuman ringan.

PANDEGLANG, REDAKSI24.COM – Wiwin (56), seorang warga Kampung Pojok, Desa Pagelaran, Kecamatan Pagelaran, Kabupaten Pandeglang, Banten, mampu mengubah limbah plastik menjadi barnag bernilai ekonomi.

Limbah plastik itu dijadikan barang berharga berupa tikar, tas, serta berbagai jenis barang lainnya yang memiliki nilai ekonomis. Limbah plastik yang didaur ulang, rata-rata plastik bekas bungkus minuman ringan, seperti kopi dari berbagai jenis merk.

Bacaan Lainnya

Dari plastik itu, perempuan yang biasa disapa Nenek Wiwin itu, bisa membuat tikar, tas, tapal meja serta barang lainnya dengan berbagai jenis ukuran. Hasilnya dijual kepada warga sekitar maupun mereka yang berminat membelinya.

Sudah hampir satu tahun Nenek Wiwin mengolah limbah plastik menjadi barang bernilai ekonomi. Meski mulanya coba-coba mengimpelementasikan kreativitasnya, namun tak disangka ternyata banyak barang berharga yang diciptakannya dari limbah plastik tersebut.

“Tadinya cuma iseng dari pada menganggur tidak ada aktivitas dan jenuh, saya kumpulkan plastik untuk membuat tikar,” ungkap Nenek Wiwin saat ditemui di kediamannya, Rabu (13/5/2020).

Lanjut Wiwin, setelah berhasil membuat tikar, ia mencoba untuk membuat barang lainnya, seperti tas dan tapal meja. Kemudian ia punya ide lagi untuk membuat sarung galon air, dari coba-coba itulah, Nenek Wiwin akhinya banyak mendapat pesanan dari berbagai pihak yang tertarik dengan karyanya.

“Saya tidak pernah belajar atau kursus menjadi pengrajin plastik. Karena mulanya hanya iseng, tapi sekarang banyak warga yang pesan, baik tikar maupun tas plaatik,” ujarnya.

Saat ditanya berapa tikar atau tas yang dihasilkan dalam satu hari, Nenek Wiwin mengaku, tergantung bahan bakunya, karena untuk membuat satu tikar atau tas, dia membutuhkan cukup banyak plastik bekas bungkus minuman ringan.

“Harus mengumpulkan plastiknya dulu. Setelah terkumpul dirapihkan dengan gunting, kemudian baru diraancang untuk dijadikan tas maupun barang lainnya,” katanya.

Saat ditanya lagi, berapa harga jual barang yang dihasilkan dari tangan kreatifnya itu, ia mengaku tergantung jenis barang dan ukurannya, ada yang seharga Rp50 ribu dan ada juga yang dijual senilai Rp100 ribu untuk tikar.

“Kalau tas dan barang lainnya seperti tapal meja dan sarung galon air, nenek jual 20 sampai 30 ribu,” tuturnya.

Ketika ditanya lagi kemana saja dipasarkannya barang hasil kerjainan itu, Wiwin mengaku, hanya kepada warga yang berminat saja. Karena ia tidak punya akses untuk memasarkan hasil kerajinan itu sampai keluar daerah.

“Meski terbatas tapi ada saja yang beli,  datang ke rumah, bahkan memesan langsung,” ungkapnya lagi.

Seorang warga pemesan tikar, Mulyanah mengaku baru mengetahui Nenek Wiwin mampu mengolah limbah plastik menjadi barang berharga. Karena menurutnya, hasil kerjainan itu unik dan bagus. Ia memesan satu buah tikar dengan ukuran 1 x 2 meter persegi.

“Saya tertarik dengan hasil kerajinan Nenek Wiwin. Saya pesan tikar yang lebar dengan berbagai motif,” akunya. (Samsul Fathoni/Difa)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.