Musim Paceklik, Nelayan Karangantu Minta Pemkot Serang Cairkan Bantuan Stimulus

  • Whatsapp
nelayan serang
Nelayan KArangantu, Kota Serang sudah tiga bulan tidak bisa melaut karena faktir cuaca.

KOTA SERANG, REDAKSI24.COM – Nelayan Karangantu meminta Pemerintah Kota (Pemkot) Serang, Banten, untuk segera mencairkan dana stimulus bagi nelayan yang terdampak covid-19. Bantuan itu saat ini sangat dibutuhkan para nelayan.

Saat ini, banyak nelayan Karangantu yang tidak melaut, karena terkendala cuaca yang terang bulan. Dengan dasar itu, para nelayan mengaku membutuhkan dana stimulus untuk menyambung kebutuhan hidup sehari-hari.

Bacaan Lainnya

“Belum cair sampai sekarang, nelayan mah sudah ramai. Pendataan sudah, cuma persoalannya lambat begini nelayan sudah lama mennunggu,” kata Ketua Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) Kota Serang, Didin Samsudin kepada wartawan, Rabu (5/8/2020).

Padahal, sambung Dindin, momentum saat ini sangat tepat jika bantuan itu dicairkan. Karena, kata dia, banyak nelayan yang tidak melaut dan hanya melakukan pengecekan terhadap peralatannya, seperti jaring, mesin dan lainnya.

“Butuh, sangat butuh. Karena biasanya kalau musim terang bulan begini nelayan libur. Jadi uang itu untuk perbaikan perahu dan mesin, bukan buat beli beras,” imbuhnya.

BACA JUGA: Setelah 41 Hari Jalan Kaki, Ratusan Petani Deli Serdang Tiba di Kota Serang

Dindin mengaku mendapat informasi dari dinas terkait yang menyebutkan bantuan stimulus itu aku disalurkan sebelun tanggal 10 Agustus ini. Karena itu, dia juga berharap tidak ada penundaan lagi.

“Kami mennunggu, mudah-mudahan sebelum 10 Agustus sudah cair,” harapnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Pertanian Kota Serang, Edinata Sukarya membenarkan bantuan stimulus bagi nelayan akan mulai dicairkan pada awal Agustus ini. “Iya, rencanaya tanggal 10 (Agustus) dicairkan, simbolis oleh wali kota,” ungkapnya.

Bantuan yang akan diberikan, kata Edinata, sebesar Rp500 ribu yang akan disalurkan kepada sebanyak 1.527 nelayan. Dana stimulus disalurkan langsung ke rekening masing-masing nelayan.

“Jumlahnya 1.527 orang nelayan, ajuannya 2.500 orang, tapi begitu diteliti dibawah hanya 1.527 yang asli nelayan. Yang lain itu usaha di laut,” imbuhnya.

Dikatakan Editana, bantuan itu memang diprioritaskan untuk modal nelayan kembali melaut setelah terhenti karena Covid-19. Sehingga, kata dia, sudah seharusnya bantuan itu digunakan untuk BBM kapal, biaya perbaikan kapal atau jaring yang rusak.

“Kalau untuk beras itu ada bantuan sembako. Tapi itu mah urusan mereka setelah menerima dananya,” tandasnya.

Sementara itu, kesulitan ekonomi jelang kemerdekaan ke 75 dirasakan nelayan tradisional di Karangantu, Kota Serang.  Yusuf (59), mengaku sudah 3 bulan belakangan tidak melaut. Sebab saat ini masuk pada musim paceklik, ikan sulit didapatkan.

“Kami sudah tiga bulan tidak melaut, kalau kami pergi, kehabisan ongkos. Karena yang mahal solarnya, kalau buat makan mah ada,” katanya kepada wartawan di Karangantu, Rabu (5/7/2020). “Jadi perhitunganya kalau berangkat terus pulangnya tidak dapat ikan, itu kan rugi, terus berangkat lagi jadi rugi dua kali. Lama kelamaan uang simpanan juga pasti habis,” sambung Yusuf.

BACA JUGA: Lewat Webinar,  Sejumlah Tokoh di Kota Serang Gelorakan Nasionalisme

Kesulitan mendapatkan ikan, dikatakan Yusuf, karena faktor cuaca yang terang bulan. Pasalnya nelayan di Karangantu merupakan nelayan perahu congkel yang mengandalkan lampu dari perahu dan jika cahaya bulan lebih terang susah mendapatkan ikan.

“Mungkin nanti atau lusa kalau bulannya sudah redup kami baru berangkat lagi melaut. Selama tidak melaut kami ngeberesin perahu, ngebetulin mesin, beresin jaring,” imbuhnya.

Untuk memenuhi kebutuhan keluarganya selama tidak melaut, menurut Yusuf, nelayan meminjam uang kepada para tengkulak yang biasa mereka sebut bos. Pinjaman itu akan dilunasi setelah mendapat tangkapan dari hasil melaut.

“Kalau untuk pendapatan sehari harinya buat keluarga kami terpaksa pinjam ke bos, nanti kalau sudah ada pengasilan lagi baru kami kembalikan pinjamannya,” ungkapnya.

Tidak hanya nelayan, menurut Yusuf, para pedagang ikan juga mengeluhkan hal yang sama. Sebab para pedagang ikan di Karangantu tergantung pada hasil tangkapan ikan dari nelayan. “Karena kan mereka juga tergantung dari hasil tangkapan kami. Sekarang kami sudah tidak melaut pasti pasokannya juga kurang, jadi harga ikannya juga mahal,” ucapnya.

Yusuf bersama para nelayan lainnya di Karangantu berharap pemerintah hadir dalam situasi sulit saat ini untuk memberikan solusi agar mereka memiliki penghasilan untuk memenuhi kebutuhan keluarganya.

Yusuf juga mengaku belum menerima bantuan dari pemerintah. Namun dia mengaku ada pendataan para nelayan yang akan mendapatakan bantuan dari pemerintah pada masa pandemi Covid-19.

“Kalau bantuan kami belum menerima, tapi kalau didata sudah. Sudah nyerahin persyaratan. Tapi saat ini belum menerima bantuan itu,” ujarnya.

BACA JUGA: Soal Kapal Hibah Menhub, Wali Kota Serang Tidak Mau Disalahkan

Semantara itu, kesulitan ekonomi juga dirasakan pedagang ikan di Karangantu, Heru (24). Harga ikan saat ini, kata dia, mengalami kenaikan sebesar Rp1.000 hingga Rp2.000 perkilogram.

“Seperti ikan tuna perkilogramnya Rp38.000 dari harga Rp35.000. Untuk ikan kembung menjadi Rp35.000 dari Rp33.000,” ungkapnya.

Dikatakan Heru, kenaikan harga ikan telah terjadi sejak tiga bulan terakhir sejak para nelayan tidak pergi melaut. Sehingga pasokan ikan sudah tidak ada. Menurut Heru, para pelanggannya juga mengeluhkan kenaikan harga tersebut.

“Cuma kami gak bisa apa-apa karena susah juga ikannya,” imbuhnya seraya berharap kondisi kembali normal agar nelayan bisa melaut lagi.(Adi/Difa)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.