Mitos Batu Tulis di Pandeglang, Melanggar Larangan, Pasangan Kasmaran Bisa Putus

  • Whatsapp
Batu Tulis Muruy di Pandeglang salah satu benda cagar budaya yang menjadi kawasan wisata di Banten.

REDAKSI24.COM –  Situs Batu Tulis Muruy di Kampung Muruy, Desa Muruy, Kecamatan Menes, Kabupaten Pandeglang, Banten merupakan Benda Cagar Budaya (BCB) peninggalan Kerajaan Pucuk Umun. Menurut sejarah,  tulisan arab di atas batu yang bila dilafalkan berbunyi “Atol Hamam Anabu Alwau Sanatun”,  diukir oleh Raja Pucuk Umun pada tahun 1161 Masehi.

Batu tulis itu sebelumnya ditemukan warga pada 1980-an. Kala itu, batu tulis terlilit akar pohon besar yang ada di lokasi tersebut. Namun kemudian batu tulis itu diangkat dari lilitan akar pohon. Pemkab Pandeglang lalu menjadikannya sebagai kawasan wisata.

Bacaan Lainnya

Menurut cerita warga setempat, batu tulis Muruy memiliki mitos yang tak boleh dilakukan pengunjung. Ada larangan bagi setiap pengunjung batu tulis agar tidak melakukan hal-hal sembarangan. Misalnya naik ke atas batu,  merusak lingkungan dan berbuat mesum.

Jika larangan tersebut dilanggar, pelaku akan terkena celaka danbala. Bahkan, konon bagi pasangan dan berbuat asusila di lokasi batu tulis,  maka ikatan cintanya tidak berlangsung lama alias bisa putus ditengah jalan.

Batu Tulis yang memiliki diameter tinggi sekitar 1,5 meter dan lebar 1 meter itu, dikabarkan menyimpan nilai mistis. Konon tidak sedikit warga yang mempercayai pengaruh dari keberadaan batu tulis tersebut. Bahkan tidak sedikit pengunjung yang datang memiliki tujuan tertentu. Seperti ingin mendapatkan barang yang memiliki unsur ghaib serta tujuan lainnya.

Dari cerita warga setempat, pada masa Kesultanan Banten, lokasi Batu Tulis l pernah menjadi tempat singgah Sultan Banten, Muhamad Sultan Sifa Jaenal Arifin, yang penyebar Agama Islam di Banten  sebelum Sultan Hasanudin.

Selain Muhamad Sultan Sifa Jaenal Arifin yang menjadikan Batu Tulis sebagi tempat singgah, ada juga Nyi Kamilah, yang pada masa itu, singgah ke Batu Tulis dalam upaya Syiar Agama Islam pada masa penjajahan Belanda.

BACA JUGA:

. Hilangkan Penat di Curug Putri Pandeglang, Layak Jadi Geopark Nasional

. Pandeglang Bakal Bangun Wisata Agri Park

. Diterpa Isu Gempa Tsunami, Wisata Kuliner Batako Pandeglang Sepi

Selain memiliki nilai sejarah dan mistis lainnya, banyak warga yang berpendapat keberadaan Batu Tulis juga menjadi sejarah asal usul nama Desa Muruy. Sebelum bernama Muruy, desa tempat Batu Tulis itu ditemukan bernama Desa Murni.

Hardi, seorang Juru Perawat (Jupel) Batu Tulis Muruy menjelaskan, Batu Tulis Muruy dibuat Raja Pucuk Umun pada tahun 1161 Masehi.  Situs itu juga menjadi tempat persinggahan para raja di Banten. Pada masa Kesultanan Banten, yang kerap singgah yakni Muhamad Sultan Sifa Jaenal Arifin.

“Sultan Banten Muhamad Sultan Sifa Jaenal Arifin, singgah di Batu Tulis Muruy dalam melakukan syiar Islam. Karena pada masa itu, warga sekitar mayoritas memeluk agama hindu dan budha,” ulasnya.

Menurutnya, Situs Batu Tulis sudah banyak diketahui masyarakat. Tidak sedikit warga baik dari dalam maupun luar Pandeglang berkunjung ke lokasi. Bahkan lokasi Batu Tulis juga sering dijadikan tempat observasi mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi.

“Sekarang lokasi situs banyak dikunjungi warga,  bahkan sering ada juga yang pengunjung yang memiliki maksud tertentu.  Karena konon batu tulis itu memiliki nilai mistis,” katanya.

Kepala Desa (Kades) Muruy, Kecamatan Menes, Kabupaten Pandeglang, Banten, Ahmad Afandi mengakui, situs Batu Tulis banyak dikunjungi wisatawan. Batu bertuliskan ejaan Arab tersebut, menurut dia, memiliki nilai sejarah yang tinggi.

“Sekarang di lokasi sudah ada bangunan. Sekeliling batu juga telah dipagar,  karena batu itu bagian dari kekayaan benda cagar budaya Banten,” tegasnya.(Samsul/Difa)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.