Miris, Anak Usia Sekolah SD Jadi Gelandangan di Lampu Merah Pandeglang

oleh -
Pandeglag Dinsos KPA

PANDEGLANG, REDAKSI24.COM – Dua orang anak kecil seusia Sekolah Dasar (SD) berjenis kelamin perempuan, berkeliaran menjadi gelandangan di kawasan Lampu Merah tepatnya di bundaran Tugu Jam Kota Pandeglang, kedua anak kecil itu nampak meminta-minta ketiap para pengendara yang berhenti di lampu merah tersebut.

Pantauan redaksi24.com sambil memegang gelas plastik, kedua anak kecil perempuan dengan kondisi pakaian lusuh itu, kerap menyodorkan gelas plastik ketiap para pengendara roda empat (R4) maupun pengendara motor yang berhenti di lampu merah itu.

Dengan posisi berseberangan pada pinggir jalan raya Alun-alun Pandeglang, kedua anak kecil itu nampak tidak ragu-ragu menyodorkan gelas plastik untuk meminta-minta kepada pengguna jalan saat lampu merah menyala.

Saat lampu merah kembali berwarna hijau, mereka (anak kecil, red) itu kembali duduk di trotoar jalan sekitaran Alun-alun tepatnya di depan Gedung Mall Pelayanan Publik (MPP) Pandeglang.

Entah mereka masih memiliki orang tua atau suruhan orang lain, atau asal mereka dari mana dan tempat tinggalnya dimana, belum diketahui secara pasti. Akan tetapi, kedua anak kecil yang diperkirakan masih duduk di kelas 2 atau kelas 3 SD itu tidak seharusnya berkeliaran di pinggir jalan raya menjadi gelandangan dan meminta-minta.

BACA JUGA: Ketua DPRD Pandeglang Minta Satpol PP Tutup Sementara Tambak Udang di Tegalpapak

Nampaknya, mereka tidak menghiraukan teriknya panas matahari dan debu jalanan. Harusnya bukan di sana (lampu merah, red) tempat bermain kedua anak kecil itu, dan seusia mereka itu belum waktunya untuk mencari nafkah.

Jika mengulas informasi ke belakang, bahwa Kabupaten Pandeglang, digembar-gemborkan akan dijadikan Kota Layak Anak, bahkan dulu aturannya tengah digodok. Akan tetapi hingga saat ini, masih ada anak-anak seusia SD yang menjadi anak jalanan, sehingga hal itu terkesan bertolak belakang dengan konsep KLA.

Ketika dihampiri dan ditanya apakah mereka (kedua anak kecil) itu masih sekolah atau tidak. Namun kedua anak di bawah usia belasan itu menghindar dan tidak memberikan jawaban apapun. Mereka hanya menggelengkan kepala sambil jalan menghampiri pengendara yang tengah berhenti di lampu merah Alun-alun Pandeglang tersebut.

Menanggapi hal tersebut, Ketua Komnas Perlindungan Anak Kabupaten Pandeglang, Gobang Pamungkas mengaku, merasa sangat prihatin atas kondisi masih adanya anak-anak yang menjadi gelandangan di pusat Kota Pandeglang. 

Pihaknya melihat, sepertinya belum ada keseriusan yang ditunjukan oleh Pemda atau dinas terkait di Pandeglang, untuk bagaimana melindungi hak-hak anak.

“Dalam menangani persoalan itu sudah ada lembaga yang ditunjuk secara konstitusi, seperti Dinas Sosial, DP2KBP3A dan P2TP2A. Makanya kita harus pertanyakan keseriusannya dalam menangani masalah perlindungan anak ini,” ungkap Gobang melalui sambungan telepon, Rabu (24/2/2021).

Menurutnya, memang sebetulnya persoalan itu adalah pekerjaan rumah yang belum bisa dituntaskan oleh pemerintah. Dan memang pula, dalam menangani persoalan anak itu tidak hanya bisa mengandalkan satu institusi atau satu elemen saja. Akan tetapi, harus dilakukan oleh semua pihak.

Karena kata Gobang, jika berbicara anak itu adalah bicara soal amanah yang harus dijaga oleh semua. Oleh karenanya, pihaknya menginginkan semua pihak bersama-sama menangani persoalan tersebut. Supaya hak-hak anak terjaga, dan memiliki masa depan terbaik.

“Ini persoalan sosial yang seharusnya menjadi tanggungjawab bersama. Jika pemerintah sendiri masih memandang sebelah mata, apalagi masyarakat secara luas, maka dari itu harus ada keseriusan pemerintah dalam menangani persoalan itu,” Harapnya.

Saat ditanya instansi mana yang memiliki peran lebih dalam penanggulangan anak jalan tersebut. Gobang mengaku, secara konstitusional yaitu Dinas Sosial (Dinsos) Pandeglang, baik itu penanganan maupun pemulihan. 

Oleh karena itu, pihaknya juga mempertanyakan kinerja Dinas Sosial terkait perlindungan anak. Terlebih Kabupaten Pandeglang ini diwacanakan menjadi Kota Layak anak, bahkan Perdanya juga kalau tidak salah sudah disahkan.

“Adanya anak jalanan itu dikhawatirkan terjadi eksploitasi anak juga. Makanya saya harapkan mari kita berembuk baik itu Dinsos, DP2KBP3A, serta pihak terkait lainnya untuk menanggulangi persoalan anak di Pandeglang,” tandasnya. (Samsul/Hendra).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.