Minim Sarpas Orang Tua Siswa SDN1 Citorek Kidul Resah

oleh -
Siswa belajar berdesakan karena minimnya Sarpras sekolah.

LEBAK, REDAKSI24.COM – Minimnya sarana dan prasarana (Sarpras) serta tenaga pengajar di SDN 1 Citorek Kidul, Kecamatan Cibeber, Kabupaten Lebak, Banten membuat sebagian orang tua siswa merasa resah. Pasalnya, siswa yang belajar di SDN tersebut, banyak yang enggan masuk ke sekolah, karena terbatasnya ruang kelas di sekolah itu.

Kepala Desa Citorek Kidul, Narta mengatakan, banyak orang tua siswa yang resah lantaran anaknya tidak mau pergi ke sekolah. Hal itu dipicu karena minimnya ruang kelas, sehingga jawal brlajar siswa harus bergantian pagi dan siang.

“Saya merasa prihatin dengan keadaan sekolah itu. Selain jadwal belajarnya bergantian, dalam mengikuti Kegiatan Belajar Mengajar (KBM)-pun siswa harus duduk dibangku yang diisi oleh empat orang,” kata Narta kepada Redaksi24.com melalui telpon genggamnya, Minggu (3/11/2019).

Itu terjadi, kata Narta, karena sekolah tersebut hanya memiliki 6 kelas, termasuk ruang guru. Sementara siswanya yang belajar di sekolah tersebut terdapat 6 rombongan belajar (Rombel).

“Karena di sekolah itu kekurangan ruang, maka ada kelas yang bergantian jadwal belajar, yaitu pagi dan siang. Sehingga banyak siswa yang giliran masuk sekolah siang, malas pergi ke sekolah,’ ujarnya.

Samahalnga dengan Sekertaris Desa Citorek Kidul, Ata. Ia mengaku anaknya yang sekolah di SDN 1 Citorek Kidul,
sering tidak masuk karena jadwal belajar selalu bergantian. “ Iya, anak saya yang duduk di kelas dua, jadwal masuknya bergantian dengan kelas 1. Sehingga giliran masuk siang, ia malas untuj pergi ke sekolah,” kata dia.

BACA JUGA:

Siswa SDN 02 Pasir Kupa Lebak Belajar Dengan Mengampar Tikar Dan Terpal

Bupati Akui Lebak Masih Kekurangan 591 Ruang Kelas

Karena itu Narta dan Ata berharap kepada Pemkab Lebak, agar memperhatikan masalah tersebut. Bila tidak, dikuatirkan anak-anak usia sekolah tidak mau melanjutkan pendidikanya.

Selain itu, kata Narta jumlah dan satus guru juga diperhitungkan. Megingat di sekolah tersebut hanya Kepala Sekolah dan Guru Agama yang PNS, sedangkan empat orang lainnya guru honorer. (Yusuf/Aan)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.