Merawat Hati Dengan Pendidikan Kebaikan, Istiqomah Dalam Kehidupan

  • Whatsapp
Merawat,Hati,Dengan,Pendidikan,Kebaikan,Istiqomah,Dalam,Kehidupan,mulia,manusia,qobil,surat,Al-Hasyr,ayat,18,Ibnu,Qoyyim,Al-Jauziyyah,dalam,kitabnya,Manajemen,Kalbu,

Oleh: Dr. Zulkifli, MA

Dosen FAI Universitas Muhammadiyah Tangerang (UMT)

Bacaan Lainnya

Sesuatu yang sangat berharga dan mulia dalam diri manusia adalah hati. Hati manusia yang merupakan cikal bakal mengetahuinya Allah SWT dalam melakukan sesuatu yang mendorong dan berbuat apa yang dia lakukan.

Dengan hati dia mampu mengenal diri dan sang pencipta, hati menjadikan anggota tubuh yang lainnya sebagai pelengkap dalam mengarungi kehidupan, sebagaimana seorang pejabat menjadikan bawahannya sebagai rekan dengan baik dalam menjalankan pekerjaan sehari-hari, kebalikannya ada juga hati para pejabat yang mati dengan prilaku buruknya (arogan dan sombongnya).

Sifat dari hal ikhwal manusia pada umumnya baik tetapi manusia mengotori hatinya dengan iri, dengki dan berbagai hal yang kerap merusak bahkan mengotori hatinya.

Ketika manusia melakukan kesalahan maka butiran kesalahan itu menempel istilahnya titik, semakin banyak titik-titik menempel di hati maka semakin keras dan sulit menerima kebenaran yang datang dari Allah SWT.

Maka Nabi Muhammad SAW berpesan untuk umatnya ada tiga sumber dari berbagai sumber perbuatan kesalahan atau dosa manusia yaitu;

  1. Hindarilah keangkuhan dan kesombongan dikarenakan kesombongan dan arogan sifat dari Iblis. Bagaimana tidak Iblis dengan sombongnya tak mau bersujud kepada Nabi Adam. Bahkan Firaun ditenggelamkan hidup-hidup oleh Allah karena keangkuhan dan kesombongannya.
  2. Hindarilah keserakahan karena keserakahan mengundang kehancuran dalam kehidupan. Bagaimana qorun ditelan oleh bumi bersama dengan harta bendanya dikarenakan serakah dan tamak.
  3. Hindarilah penyakit iri hati dikarenakan peristiwa pertumpahan darah pertama antara Qobil dan Habil timbul terjangkitnya iri hati.

Pesan singkat Nabi tentang bahayanya hati tersebut dikarenakan manusia sibuk mengurusi serta terlalu memperhatikan saudaranya sendiri dan tidak sadar dengan permasalahan diri sendiri.

Maka Allah dalam firmannya surat Al-Hasyr ayat 18 yang artinya Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat) dan bertakwalah kepada Allah, Sesungguhnya Allah maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.

Hakikat hidup dalam kehidupan manusia harus melihat diri pribadi atau muhasabah diri bercermin untuk untuk bekal hari esok. Berkaca kepada mata batin yang menuntun kearah jalan yang lurus dan benar.

Hati manusia terkadang bolak balik tidak tetap selalu merubah-rubah tergantung keimanan, tergantung pertemanannya dengan siapa, maka Nabi Muhammad SAW, mengajarkan doa untuk meneguhkan hati supaya tetap Istiqomah dalam kebaikan dan ketaatan kepada Allah SWT, yang artinya; Ya Allah aku memohon kepadamu keteguhan hati di dalam urusan agama ini dan kemauan dalam kebenaran . Didalam doa Nabi yang lain artinya Ya Allah engkaulah yang membolak-balikan hati manusia tetapkan dan teguhkanlah hati ini atas agamamu.

Ibnu Qoyyim Al-Jauziyyah dalam kitabnya Manajemen Kalbu telah mengklasifikasikan atau mengelompokan macam-macam hati manusia yaitu;

Pertama Hati yang bersih atau sehat dimana hati yang bersih itu selalu taat perintah Allah SWT menjauhi segala larangan Allah, sebutan lain adalah Qolbun salim atau hati yang bersih dan selamat. Sebagaimana Allah berfirman dalam surat Asy-Syuaro ayat 88-89 yang artinya Pada hari itu harta dan anak-anak tiada lagi berguna kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih. Makna hati yang bersih telah menyatu karena sifat bersih dan sehat gambaran kata Al-Alim, Al-Qodir yaitu Maha Mengetahui dan maha kuasa.

Kedua Hati yang mati, gambarannya tidak ada kehidupan didalamnya. Padahal ia mengetahui adanya sang pencipta, ia mengetahui tetapi didalam kehidupannya ia tidak taat dan tidak patuh. Dalam kehidupan yang fanah ini ia cendrung mengkedepankan hawa nafsu dan menuruti keindahan duniawi. Maka ibarat sebuah rumah kotor tak terawat, bagaikan hati yang keras tidak ada lagi kehidupan.

Ketiga Hati yang sakit, Hati yang masih ada tanda-tanda kehidupan tetapi cacat didalamnya terjadi tarik menarik antara kebaikan dan keburukan. Disaat ia memenangkan didalamnya bukti kecintaan yang tulus kepada Allah SWT, Didalamnya juga terdapat kecintaan yang berlebihan terhadap dunia yang isinya; harta benda, jabatan dan lain sebagainya. Hati yang sakit masih bisa sembuh dengan merawat menjaga kesetiaan dan kepatuhan kepada Allah.

Tiga kelompok hati tersebut ada di dalam kehidupan, lalu bagaimana merawat dan mendidik hati tersebut supaya perjumpaan kita dengan Allah SWT membawa hati yang bersih dengan cara;

  1. Merawat hati dengan berzikir kepada Allah SWT dikarenakan kebutuhan hati manusia ibarat ikan didalam air. Jika tidak ada air maka ikan tidak akan hidup, Nabi Muhammad SAW bersabda yang artinya Perumpaan manusia yang selalu ingat dengan Allah dan manusia yang tidak ingat dengan Allah bagaikan manusia yang masih hidup dan manusia yang telah mati. Disamping itu manusia yang ingat dengan penciptanya selalu diingat dan ada jikalau manusia itu membutuhkan, dikarenakan kedekatan manusia dengan Allah.
  2. Merawat hati dengan berteman dengan manusia yang baik-baik. Hati pasti akan terawat dengan baik jika sesama saudara saling mengajak dan berbuat kearah jalan yang benar istilah Qur’an berlomba-lomba dalam kebaikan. Ketika ada saudara kita berbuat kesalahan maka seharusnya kita ingatkan bukan sebaliknya kita mengikuti kearah jalan yang salah.
  3. Merawat hati dengan selalu menuntut ilmu dikarenakan ilmu adalah cahaya yang menyinari hamba-hamba yang sholeh dan sholehah kebalikan dari itu ilmu tidak akan diberikan kepada hamba yang selalu bermaksiat dan sombong tidak mau berusaha untuk bertobat. Dimana kondisi pandemi ini diperlukan hati yang selalu hadir pada ketaatan dan keistiqomahan serta terpancar hati dan jiwa yang memiliki rasa empati kepada sesama, hal itu cerminan sifat rahman dan rahimnya Allah SWT. Maka pada akhirnya beruntunglah manusia yang sadar dengan kekurangan diri pribadi berusaha untuk memperbaiki dan mengisi hari-harinya dengan beramal kebaikan kepada sesama sehingga usaha yang dilakukan berbuah manis diakhir hayatnya. Semoga tulisan ini bermanfaat untuk kita bersama wallahu a’lam bishawwab.(*)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.