Merasa Terancam, Warga Balaraja Desak Camat Tutup PT SLI

oleh -
Merasa Terancam, Warga Balaraja Desak Camat Tutup PT SLI kabupaten tangerang limbah B3
Salah satu warga Kampung Cengkok, Desa Sentul, Obing mengatakan, kedatangan warga ke kantor kecamatan untuk menuntut penutupan pabrik peleburan logam yang dinilai sudah merugikan warga.

KABUPATEN TANGERANG, REDAKSI24.COM – Sejumlah warga Kampung Cengkok, Desa Sentul, mendatangi Kantor Kecamatan Balaraja, Kabupaten Tangerang, Banten. Mereka mendesak camat untuk menutup PT Sukses Logam Indonesia (SLI).

Salah satu warga Kampung Cengkok, Desa Sentul, Obing mengatakan, kedatangan warga ke kantor kecamatan untuk menuntut penutupan pabrik peleburan logam yang dinilai sudah merugikan warga.

Obing menyebut, sejak awal warga sudah menolak keberadaan pabrik itu. Bahkan, PT SLI sempat ditutup, namun kini beroperasi lagi.

“Pernah ditutup tahun 2019, tapi sudah tiga bulan ini beroperasi lagi. Itu juga tidak ada izin dari pemerintah setempat,” ujar Obing, kepada Redaksi24.Com, Senin, (3/1/2022).

Menurut Obing, awal kesepakatan dengan warga, pendirian pabrik ini adalah gudang. Tapi pada prakteknya menjadi tempat produksi peleburan logam.

“Jadi dulu warga suruh tanda tangan,¬†kami mengiyakan karena katanya hanya gudang, nyatanya buat produksi, dan limbah debu membahayakan warga,” ungkapnya.

BACA JUGA: Gara-Gara Limbah, Kades Cisereh Tigaraksa Didemo Warganya

Aktivitas peleburan logam itu yang dinilai sangat membahayakan bagi warga. Dari dari aktivitas peleburan itu menghasilkan limbah berbahaya dan beracun (B3) berupa debu hitam.

“Debu yang dihasilkan dari pabrik itu terhirup warga, serta menempel di tembok, lantai, susah dihilangkan pakai air,” kata Obing.

Tokoh masyarakat Desa Sentul, Muhkam Hudaya menjelaskan, warga pernah meminta PT SLI untuk membenahi Amdalnya. Namun, kata dia, PT SLI mengabaikan permintaan warga tersebut. Akhirnya warga menutup paksa PT SLI.

“Setelah lebih dari setahun, PT SLI buka lagi. Karena itu kami menuntut PT SLI untuk ditutup lagi, dengan alasan limbahnya berupa zing sangat membahayakan warga dan lingkungan,” jelasnya.

Selain itu, kata Muhkam, PT SLI tidak bisa lagi mengurus perizinannya. Karena warga sudah tidak memberikan izin apapun. Karena itu, kata dia, PT SLI seharusnya sudah berhenti operasional.

Terakhir, lanjut Muhkam, warga mendatangi kuasa hukum PT SLI pada 21 Desember 2021. Hasilnya, pihak perusahaan menerima adanya penolakan warga yang disertakan surat pernyataan dari perusahaan.

“Dalam surat pernyataannya PT SLI menyatakan sudah stop produksi dan artinya tidak ada lagi perizinan baru,” imbuh Muhkam.

Sementara itu, Kepala Seksi (Kasi) Perekonomian dan Pembangunan Kecamatan Balaraja, Hasbullah mengungkapkan, hasil sidak bersama Seksi Ketentraman dan Ketertiban pada Jumat (31/12/2021) lalu, pihaknya tidak menemukan adanya kegiatan operasional di pabrik tersebut.

“Mereka sedang melakukan kegiatan pembersihan, seperti potong rumput dan sebagainya,” kata Hasbullah.

Saat disinggung perizinan PT SLI, Hasbullah menjelaskan, pihak perusahaan pernah mendatangi kantor kecamatan dengan membawa dokumen perizinan dan Amdal. Setelah dicek, kata dia, perlu dikaji kembali, khususnya terkait dampak dari aktivitas produksi kepada masyarakat.

“Secepatnya kami akan sidak lagi ke PT SLI,” tandasnya.(Deri/Difa)

No More Posts Available.

No more pages to load.