Menjalankan Spiritualisme Tasawuf di Era Modern

  • Whatsapp
Prof Darwis Hude
Prof. Darwis Hude, M.SI, Direktur Pascasarjana PTIQ Jakarta saat membawakan materi Tasawuf tentang “Tasawuf Bagi Manusia Modern” di Nasaruddin Umar Office, Jakarta.

JAKARTA, REDAKSI24.COM—Tasawuf yang dikenal sebagai jalan penyucian jiwa bagi pegiat religius-spiritualis, selama ini diasumsikan hanya menempati wilayahnya pada lingkungan yang tradisional, puritan atau boleh dikatakan cenderung menghindar dari dunia luar. Dengan ajaran zuhudnya, tasawuf oleh sebagian kalangan diklaim telah menyebabkan Islam mundur. Hingga, peluang untuk mengamalkan ajarannya dianggap hanya pantas dilakukan oleh para hamba yang lanjut usia.

Jika demikian, maka apa makna tasawuf bagi orang-orang yang sudah berkelindan dengan dunia modern-materialisme, yang mana pada realitasnya, tajdid (modernitas) merupakan hal yang tidak bisa dihindarkan bagi mayoritas manusia saat ini. Terlebih dengan tibanya revolusi industri 4.0.

Bacaan Lainnya

Hal itu disampaikan oleh Direktur Pascasarjana Perguruan Tinggi Ilmu Qur’an (PTIQ) Jakarta, Darwis Hude dalam kegiatan rutin kajian Tasawuf di Nasaruddin Umar Office (NUO), Cipete Jakarta Selatan, Sabtu (12/10/2019).

Darwis mengatakan, tasawuf sebagai ilmu kerohanian bagi umat muslim yang berfokus pada penyucian jiwa tidak memandang batas tempat dan zaman dalam pengamalannya. Terlebih pada zaman modern seperti saat ini, tasawuf justru menemui masanya yang paling dicari bagi manusia modern yang haus akan spiritualitas.

“Ada paradigma antara orang-orang dahulu dengan orang-orang sekarang seperti (memahami) zuhud. Orang-orang dulu itu, yang namanya zuhud itu pergi uzlah (mengasingkan diri), pergi ke hutan, ke gunung, dan  sebagainya. Kalau sekarang uzlah tapi tidak perlu kesana-sana, tetap dia menyendiri dalam keramaian itu bisa. Nah jadi saya sebut di situ “Tasawuf Bagi Manusia Modern”,” ujar  guru besar besar Psikologi Islam PTIQ  Jakarta ini saat membawakan materinya.

Menurut Darwis, ajaran dalam tasawuf tidak meniscayakan hilang kegunaannya tatkala manusia dikelilingi dalam kesibukan aktivitas. Ajaran-ajaran akhlaknya tidak akan lekang dari atmosfir kehidupan manusia modern yang tak jarang dipacu hasrat duniawi. Malah dengan begitu, hawa nafsu manusia akan lebih terkontrol hingga tidak jatuh pada jiwa yang kering.

Ajaran tasawuf yang paling elementer  lanjut Darwis adalah, Tafakkur, .yakni, perenungan fenomena ciptaan Allah melalui mata hati. Objek yang menjadi perenungan, kata Darwis, adalah jejak-jejak ciptaan Allah di muka bumi yang dengannya manusia dapat memperoleh pengetahuan tentang supremasi Tuhan.

“Persoalannya, bagaimana mengetahui jejak-jejak Tuhan? Itulah yang tadi saya katakan, Allah itu memberikan dua ayat (tanda), satu ayat diletakkan dalam alam, satu lagi diletakkan di kitab suci,” ujarnya.

Dalam kaitannya dengan alam, Darwis memberikan contoh, “Coba nanti perhatikan, kalau ada pohon, lihat bekas tangkainya itu, tidak ada satu daun pun yang langsung nemplok persis di atas daun (lainnya) itu. Kenapa? Setiap daun yang baru, dia tidak akan menghalangi daun yang lain untuk mendapatkan sinar matahari.  Yang suka begitu tuh justru manusia, kalau perlu jangan dikasih peluang dia. Kalau ciptaan Allah (alam) ini, enggak.” terang pria yang juga menjadi Dewan Pakar NUO ini.

Proses tafakkur menurut Darwis, membutuhkan kesadaran waktu, manusia perlu berhenti sejenak dari kesibukan sehari-hari dengan melakukan evaluasi diri. Instrumen yang dipakai dalam tafakkur adalah pikiran dan hati. Dengan begitu, manusia mampu mengaktualkan setiap indera dan intuisinya dalam melihat isyarat alam sebagai tanda eksistensi Tuhan.

Di samping tafakkur, Darwis juga menyebut ajaran tasawuf lainnya yang tak kalah penting adalah, at-Tasyakkur, yakni menyatakan syukur atas nikmat Allah dengan sikap, ucapan, dan tindakan.

Ketiga adalah at-Tadzakkur, yakni mengingat Allah dalam suka dan duka, lapang dan sempit seraya juga mengingat-Nya saat dalam keadaan posisi berdiri, duduk, serta dalam pembaringan.

Keempat, dalam paparan Darwis adalah mengenai at-Tadabbur, yakni mengingat Allah melalui ciptaan-Nya dan akibat-akibatnya.

Di akhir, Darwis mengatakan, tasawuf sebagai sebuah ilmu kerohanian merupakan puncak dari tingkatan ilmu filosofis. Para filsuf yang selama ini dikenal sebagai rasionalis yang cenderung pada penalaran akal, pada ujungnya akan menemukan tasawuf sebagai puncak pegembaaraan jiwa.

Ia memberi contoh tokoh Tasawuf yang populer di kalangan umat muslim, Imam Ghazali. Pada masa hidupnya, Imam Ghazali dikenal sebagai intelektual sejati yang ahli dalam mantiq (logika) dan jadal (debat). Namun, pada penghujung kehidupannya ia justru menempuh jalan sufi dan mulai meninggalkan segala jabatannya dalam pemerintahan.

Begitu juga tokoh filsafat di Indonesia yang pernah menjabat rektor IAIN Jakarta, Prof. Harun Nasution, pada akhir hayatnya ia lari ke tasawuf hingga ia tidak hanya dikenal sebagai filsuf, tapi juga ahli tasawuf.

Darwis melanjutkan, dalam kehidupan modern seperti saat sekarang, manusia perlu mengimbangi hidupnya dengan spiritualitas, jika tidak, jiwa  akan hampa. Manusia tidak hanya memerlukan kecerdasan intelektual, tapi juga kecerdasan spiritual. Dan dalam Islam, kecerdasan spiritual ada dalam tasawuf.

“Itu sebabnya Howard Gardner, dia bukan muslim, sekarang (dia) menambahkan satu kecerdasan itu, (yakni) kecerdasan spiritualitas, karena ternyata spiritualitas itu bisa mengatasi problem-problem yang kita hadapi,”  imbuhnya.

Darwis mencontohkan tatkala manusia berada dalam keadaan krisis seperti gempa bumi, mereka akan mencari perlindungan dengan memohon pertolongan Tuhan. Di sini, kata Darwis, sisi spiritualisme manusia muncul. Ia menambahkan, bahwa dari saat manusia dilahirkan ke dunia, manusia sudah mempunyai naluri intuisi yang disebut spiritualisme itu.

“Jadi kita lahir itu, dalam hati kecil ada sebenarnya yang kita bawa, namanya teogenetis, jadi di awali tentang kebertuhanan. Cuma Karena diajarkan pada saat kita lahir bersentuhan dengan hal-hal, seperti, tidak mengenal Tuhan, jadi ateis dan sebagainya, akhirnya ini (spiritualitas) kerdil, tapi akan muncul lagi pada saat –saat manusia terbentur dalam persoalan-persoalan hidupnya,” pungkas Darwis. (Alfin/Hendra)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.