Menelisik Makna Integritas dalam Kepemimpinan

oleh -
ILUSTRASI

Oleh: Ajeng Astriyani, Novi Saraswati, Willy Wigia Sofyan*

PROSES pemilu Pilpres dan Pileg yang telah dilalui selama 10 bulan, akhirnya telah usai. Jalan panjang menuju demokrasi yang selama ini dikonsepkan telah dilalui. Banyak hal yang dipertaruhkan dan dijanjikan dalam prosesnya. Rekam jejak, kredibilitas dan integritas adalah beberapa yang menjadi isu utama yang digulirkan. Lalu, apa langkah selanjutnya? Siapkah pemimpin terpilih untuk merealisasikan semua program dan janji-janji pada saat kampanye? Hal tersebut akan menjadi tantangan dan sorotan publik selama 5 tahun mendatang.

Integritas menjadi salah satu indikator penilaian pemimpin terpilih. Hal tersebut tidak hanya sekedar diucapkan, tetapi pemimpin terpilih harus berani membuktikan. Integritas memiliki makna luas, sehingga pemaknaannya sendiri kadang menjadi tidak jelas. Ketidakjelasan ini kemudian berakibat dengan banyaknya sesuatu yang dapat diberikan atribut integritas, mudah menetapkan sesuatu integritas padahal makna integritas lebih dalam, bukan hanya sekedar definisi.

Secara etimologis, kata integritas (integrity), integrasi (integration) dan integral memiliki akar kata Latin yang sama, yaitu “integer” yang berarti “seluruh” (“whole or entire”) atau “suatu bilangan bulat” (“a whole number”). Jadi, sesuatu yang berintegritas merupakan sesuatu yang utuh dalam keseluruhannya, sesuatu yang tidak terbagi, dimana nuansa keutuhan atau kebulatannya tidak dapat dihilangkan.

Keutuhan pada kepemimpinan berintegritas adalah menyatunya perkataan dan perilaku yang terbentuk dari perkembangan diri manusia, sehingga dapat menghasilkan kepemimpinan yang bermoral tinggi, jujur, dan adil. Dan ketika kita berbicara tentang integritas saat ini, secara tidak langsung, kita juga berhubungan dengan nilai etika, moralitas, keontetikan dan komitmen nyata.

Tetapi, permasalahan yang sering terjadi pada pemimpin-pemimpin di negeri ini adalah pertentangan antara integritas dengan konflik kepentingan. Keduanya menjadi bertolak belakang jika integritas yang diyakini mengutamakan kepentingan tertentu. Hal inilah yang kemudian menjadi awal mula korupsi yang mencederai integritas seseorang.

Bukan sebuah hal yang aneh bagi kita jika banyak bermunculan pemimpin yang mengatasnamakan integritas di atas segalanya, tapi sayang, pada kenyataannya ketika mereka dipilih dan dimasukkan ke dalam kolam politik yang begitu keruh, ibaratnya ikan-ikan itu tiba-tiba mati atau mereka bermutasi dari makna integritas yang sesungguhnya agar dapat bertahan hidup. Kondisi ini dapat terlihat dengan banyaknya kasus-kasus yang ditangani oleh aparat penegak hukum yang melibatkan para pemimpin negeri ini berkaitan dengan korupsi atas jabatan dan kekayaan yang menguntungkan kepentingan golongannya, sehingga mengabaikan kepentingan rakyat yang lebih luas.

Kini, Indonesia tercatat sebagai peringkat ke 89 negara bersih korupsi di dunia. Namun, hal ini bukanlah sebagai prestasi yang patut di banggakan, karena hal ini justru terus menjadi tantangan yang beratPR bagi Indonesia agar tidak berhenti untuk melawan praktek-praktek penyelewengan wewenang beberapa oknum. Lantas, bagaimana kita memaknai sebuah integritas? Apakah perwujudan/ngejewantahan atas integritas hanya untuk pemimpin dalam jabatan tertentu sebagai bagian dari pertanggung jawabannya?

Menurut Dale Carnegi (1990), The Leader in You ada jiwa kepemimpinan di dalam setiap diri manusia, artinya perwujudan jiwa kepemimpinan yang berintegritas diwujudkan melalui tahapan yang panjang, melalui proses mental yang terjadi dan akan membentuk karakter seseorang ke depannya.

Memaknai sebuah integritas tidak hanya diucapkan, kemudian didengar, dan dilihat tetapi dibuktikan dengan komitmen dan perilaku yang baik. Dan itu tidak bisa dibuktikan hanya dengan satu atau dua contoh, karena bagaimana pun kata integritas bukan hanya dimaknai secara harfiah. Integritas . Integritas seseorang akan terbukti dari karakter yang terbangun, yang diimplementasikan dalam segala hal yang berkaitan dengan tanggung jawabnya maupun kehidupan sehari-hari.

Melihat begitu sakralnya definisi integritas, bukankah integritas tampak utopis untuk dilaksanakan? Integritas tampak sebagai karakter ideal untuk disematkan, tetapi bukan hal yang tidak mungkin dilakukan. Dalam mencapai tampuk kepemimpinan apalagi dengan kondisi proses pencarian pemimpin saat ini, kepentingan akan pihak tertentu dan pendukung atas pemimpin tertentu bisa jadi menentukan berhasil tidaknya ia menduduki jabatan itu. Lantas apakah pemimpin harus tersandra dengan kepentingan-kepentingan di belakangnya hingga abai dengan tanggung jawab yang harus diembannya?

Tidak bisa dipungkiri bahwa akan imbal balik yang kemudian akan diberikan. Tetapi justru bahwa dengan hal tersebut, integritas pemimpipn diuji dengan meletakkan nurani dan akal sehatnya di porsi paling tinggi dalam hal menentukan kebijakan bagi rakyat banyak. Jika saja para pemimpin kita saat ini, tahu betul bahwa integritas juga dapat dikatakan sebagai lawan dari kemunafikan, tentu hal ini bukanlah hal yang sulit untuk dilakukan.

Tidak dibutuhkan kebijakan populis yang hanya menyenangkan hati rakyat secara temporer. Kebijakan yang mengutamakan kepentingan negara dan masa depan adalah buah atas integritas pemimpin. Akan ada hitung-hitungan politik, akan ada persepektif pro dan kontra, akan ada pengorbanan dari setiap keberhasilan. Bahwa integritas tidak dapat dikalkulasi dan hanya bisa diteladani adalah ungkapan lama yang bisa kita revisi.

Komunikasi dalam penentuan kebijakan yang baik hendaknya menjadi dasar dalam menerjemahkan integritas dalam pengambilan keputusan seorang pemimpin. Pada akhirnya integritas menjadi tolak ukur bersama atas konsep penilaian seseorang, baik itu ia sebagai pemimpin atau bukan. Tidak hanya sekedar sebuah definisi dan kata sifat, integritas menjadi cerminan dalam suatu tindakan. Entah itu akan terlihat dan ternilai pada saat itu juga, atau tahunan kedepan untuk dapat menilainya. Seseorang akan mudah melupakan apa yang dikatakan seorang pemimpin, namun rakyat tidak akan mudah melupakan bagaimana sang pemimpin itu hidup.

Seandainya pemerintah dan seluruh warga negara saat ini paham betul tentang konsep integritas yang sesungguhnya, tentu kita telah berhasil membekali anak dan cucu kita dengan sebuah etika moralitas yang tinggi yang akhirnya akan memberikan perubahan budaya nyata di Indonesia. Kini, harapan kita sebagai warga negara Indonesia, semoga para pemimpin yang terpilih saat ini memiliki moral dan integritas yang baik. Mampu menjalankan amanah, tidak hanya pada saat mereka memimpin, tetapi dapat terus tercermin di dalam kehidupan sehari-hari. Pemimpin yang amanah dipercaya akan memiliki integritas di dalamnya. Pemimpin yang berintegritas akan memberikan contoh, bahwa tanggungjawab besar akan membutuhkan integritas yang besar pula. Hal ini mejadi cerminan atas pribadi individu yang juga harus menanamkan sifat integritas, setidaknya jujur terhadap diri sendiri.

*Mahasiswa Magister Manajemen Universitas Paramadina

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *