Mendorong Warga Jakarta Gemar Mengkonsumsi Sayuran

  • Whatsapp
Budidaya tanaman sayuran banyak ditekuni warga Jakarta selama pandemic Covid-19
Seorang petani kota Abdulrahman (58) melakukan perawatan tanaman sayuran di kebunnya di atas rumahnya, di kawasan Cipete, Jakarta Selatan, beberapa waktu lalu. Konsep pertaniaan perkotaan atau "urban farming" menjadi solusi masyarakat Jakarta untuk budidaya tanam atau berkebun di tengah-tengah situasi pandemi Covid-19 dan tingginya harga lahan di Ibu Kota.

JAKARTA, REDAKSI24.COM– Budidaya tanaman sayuran memang sudah banyak ditekuni warga Jakarta selama pandemi Covid-19, mulai dari komunitas, kalangan akademisi hingga karang taruna sudah banyak yang menggemarinya, bahkan banyak warga Jakarta memanfaatkan atap rumah selain lahan sempit untuk budidaya sayuran dengan sistem hidroponik atau polybag.

Namun yang menjadi pertanyaan saat ini apakah kegemaran bertanam sayuran ini sejalan dengan kegemaran masyarakat mengonsumsi sayuran?

Bacaan Lainnya

Apabila keduanya bisa berjalan beriringan, dapat dipastikan petani, baik yang ada di perkotaan maupun di perdesaan, akan merasakan manfaatnya dari segi ekonomi. Hanya saja faktanya ternyata sebaliknya.

Konsumsi sayuran masyarakat Indonesia masih sangat rendah terlihat dari data Organisasi Pangan dan Pertanian Dunia (Food and Agriculture Organization/ FAO) yang menyebutkan hanya 180 gram per kapita per hari padahal seharusnya 400 gram per kapita per hari.

Sejauh ini kebanyakan masyarakat masih menganggap apa yang disebut sayuran itu adalah bayam, kangkung, packoy, sawi, wortel, timun, kacang panjang, paria, tomat dan sebagainya. Padahal ternyata melon, semangka, jagung manis, labu, kentang juga termasuk sayuran.

Oleh karenanya, bila konsumsi nasi sebagai sumber karbohidrat dapat digantikan dengan sayuran seperti pada kentang, labu, jagung. Maka target 400 gram per kapita per hari dapat tercapai. Bahkan di sejumlah negara, warganya dengan kesadaran untuk hidup sehat lebih memilih untuk mengonsumsi sayuran.

Kondisi demikian seharusnya bisa dilaksanakan di Indonesia mengingat produksi hortikultura sayuran di Indonesia sangat mencukupi.

Persoalannya kesadaran masyarakat sejauh ini masih rendah, sayuran dianggap sebagai makanan pendamping saja.

Bahkan menurut Prof Ujang Sumarwan, Dekan Fakultas Ekologi Universitas Pertanian Bogor (IPB) dari hasil surveinya, konsumsi rokok di Indonesia masih lebih tinggi dibandingkan konsumsi sayuran.

Padahal di negara-negara maju, soal kesehatan pangan ini menjadi persoalan yang sangat penting. Bahkan dalam debat-depat pemilihan kepala negara, persoalan keamanan dan kesehatan pangan menjadi topik utama.

Kesadaran masyarakat

Persoalan masih rendahnya konsumsi sayuran di Indonesia bukan disebabkan terbatasnya pasokan. Tetapi lebih disebabkan kesadaran masyarakat yang masih rendah terhadap pentingnya mengonsumsi sayuran.

Hal ini diakui Dirjen Hortikultura Kementerian Pertanian, Prihasto Setyanto, yang menyebutkan kalau berbicara ketersediaan hortikultura sayuran di Indonesia sangat luas mencapai 1.000 hektare di berbagai kabupaten.

Persoalannya, dengan luas sebesar itu seharusnya siap untuk ditampung pasar terutama di kota-kota besar seperti Jakarta. Saat ini mayoritas restoran-restoran terkemuka di Jakarta selalu mencantumkan sayuran dalam menunya.

Menurut Prihasto, dalam menghadapi pandemi Covid-19 selain gencar menerapkan gerakan 3M, seharusnya penting juga digiatkan untuk mengonsumsi makanan-makanan yang sehat untuk menjaga daya tahan tubuh.

Pemerintah, lanjut Prihasto, sangat mendukung dengan langkah yang diambil PT East West Seed Indonesia (Ewindo) yang memproduksi benih sayuran super mini (micro green) yang merupakan sayuran super untuk meningkatkan daya tahan tubuh.

Marak

Pemprov DKI Jakarta menyadari banyaknya warga yang selama pandemi ini mulai bercocok tanam dengan memanfaatkan lahan-lahan terbatas di rumahnya atau lahan-lahan kosong yang belum dibangun.

Hal ini diakui Kepala Bidang Pangan Dinas Ketahanan Pangan, Kelautan, dan Pertanian (KPKP) Pemprov DKI Jakarta, Mujiati yang mengatakan banyak masyarakat yang meminta melalui suku dinas di Pemkot dan Pemkab untuk diajarkan cara budidaya atau cara bercocok tanam.

Mujiati mengakui, sementara ini masyarakat Jakarta masih bertanam sayuran yang lebih mudah dalam perawatannya seperti bayam, sawi, pakcoi, meskipun beberapa sudah ada yang berani bertanam tomat dan cabai.

Kegemaran baru masyarakat Jakarta bertanam sayuran ini membuat beberapa wilayah Jakarta udaranya menjadi lebih bersih dan segar. Kemudian apabila dipanen, setidaknya produksi sayuran ini dapat mendukung ekonomi keluarga karena tidak perlu beli lagi.

Namun dalam budi daya sayuran ini Pemprov DKI juga diminta untuk mewaspadai cara pemeliharaannya. Mengingat banyak warga yang memanfaatkan tanaman sayuran ini di atas saluran air, patut juga diperhatikan kondisi saluran tersebut.

Seperti diketahui air di Jakarta sebagian besar telah tercemar logam berat. Jangan sampai tanaman sayuran itu disiram menggunakan air yang sudah tercemar tersebut. Karena kalau sampai dikonsumsi masyarakat juga tidak bagus bagi kesehatan dalam jangka panjang.

Sudah menjadi tugas dari Dinas KPKP Pemprov DKI Jakarta untuk melakukan pendampingan dan bimbingan kepada masyarakat. Setidaknya dengan pendekatan yang baik mengenai cara bertanam yang sehat akan menghasilkan panen yang sehat juga.

Saat ini Pemprov DKI juga terus memperluas lahan-lahan abadi yang dapat dimanfaatkan untuk pertanian. Lahan tersebut berada di lokasi-lokasi yang selama ini memang belum ada bangunan. Luasannya sangat besar bahkan beberapa sudah ada yang ditanami padi.

Harapannya ke depannya kesadaran masyarakat untuk budidaya tanaman sayuran ini tidak hanya berhenti sampai pandemi Covid-19 saja. Namun bisa berlanjut dalam jangka panjang serta lebih ahli untuk bertanam sayuran yang lebih bervariasi, termasuk sayuran buah/umbi.

Kemudian pekerjaan rumah lainnya bagi Pemprov DKI Jakarta adalah bagaimana menyehatkan warganya agar lebih gemar lagi untuk mengonsumsi sayuran dan buah-buahan.(Jay De Menes/ANTARA)

 

 

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.