Membedah Teks “Dan Badai Menjadi Kekasihku” Gan-Gan R.A: Jejak Hasrat dan Pintu Sepi (Bagian 1)

oleh -
Dr. Benny Johanes, S.Sn.,M.Hum.

Oleh Dr. Benny Johanes, S.Sn.,M. Hum

Pengalaman puitik itu sejenis revolusi diam-diam. Sajak tidak memiliki sifat iklan atau buku ideologis di dalam dirinya.Sajak bukan kata yang diberi mikropon.Puisi adalah meraih kenduri dari sepi; dan melepaskannya kembali lewat presisi.

***

Tahun 2004, di tanah Tangerangyang hawanya panas dan bikin keringat gampang lengket di tubuh, penyair Gan-Gan R.A menulis sajak “IBU” : Seharum surgawi/ Pintu langit dan bumi. Sajak dua larik ini pendek, tidak royal ornamen, tapi lengkap sudah. Ibu yang jadi judul sajak ini, bisa merujuk pada ibu biografisnya, juga bisa menjadi asosiasi untuk ibu konseptualnya. Sajak “IBU” akan menjadi tanah padat di sekitar sanubarinya. Juga semacam gerbang kembar, lintasan kesadaran yang membuatnya lalu-lalang diantara berbagai fragmen; dari mana sajak-sajaknya akan mengalir dan mencari akhir. Di tanah Tangerang, Gan-Gan R.A hidup layaknya pekerja; dan berumah-tangga. Tapi ada pintu lain yang mau dibukanya : jejak jiwanya.

“Hidup adalah lingkaran perang”, kata penyair kelahiran Bandung, 23 Agustus 1976 pada tulisan Jejak Jiwa Seorang Penyair sebagai sikap kepenyairannya. Senjatanya imajinasi, dan kata-kata menjadi amunisi. Tapi itu bukan teori, konsep atau kredo. Semua itu bagi penyair Gan-Gan R.A  adalah dewa kematian bagi seorang kreator. Menulis puisi, menurut pengakuan Gan-Gan R.A, adalah pengembaraan pikiran dan jiwa; memahami yang tersembunyi. Tapi siapakah Gan-Gan R.A, dalam dirinya yang tersembunyi ?

Lewat sajak-sajaknya dalam bagian “Mozaik Tak Bernama” (MTB), Gan-Gan R.A  mengidentifikasi dirinya lewat penampakan sejumlah parabel binatang. Parabel untuk peristiwa positif, ditunjukkan lewat sosok elang, rajawali, kuda putih. Sedang pengalaman yang secara moral negatif, diasosiasikan lewat sosok srigala, burung hantu, anjing liar, gagak hitam. Metafor-metafor seperti itu kerap muncul dan berulang dalam sejumlah sajaknya, khususnya sajak-sajak yang mencoba menggambarkan kontradiksi moral yang dialami si aku-lirik. Parabel itu dipakai sebagai pilihan untuk menajamkan kontras antara pengalaman yang bernuansa romantik, dengan suasana hati yang elegis.

Sajak-sajak Gan-Gan R.A, secara impresi, adalah grafik inklinasi dan deklinasi, sebuah gelombang antara order dan disorder; gulungan yang terbuka diantara momen orientasi dan disorientasi.“Berabad-abad rindu/Badai menempuh sepi goamu./ Matahari pecah…/ Di tengah reruntuhan cinta/ Tak ada yang abadi kecuali sunyi.” Itulah irisan mood  penyair, yang dicetuskan lewat dua sajaknya : Ziarah Sepi (1999) dan Mayapada Sunyi (1997). Bagian pertama kumpulan sajaknya “Mozaik Tak Bernama” dikuasai suasana murung; identifikasi yang menyeruakkan penyesalan dan ketidaksampaian; dan alam luar yang selalu muncul sebagai kekuatan yang mengancam. “Senja telah membunuhku/Dengan takdir sang waktu…/Aku sunyi meringkik sendiri…/Hatiku menjelma anjing-anjing jalanan.”  Ada nuansa paranoia yang memberi siluet kelabu pada sejumlah sajak-sajaknya yang menorehkan kesuraman jiwa. Inilah fase disorientasi yang dialami si penyair. Lewat sajak “Orkestra Mata Srigala”, Gan-Gan R.A menampilkan corak pengalaman disorientasi itu dengan cara yang elegis : “Sepasang srigala liar dari matamu/Mencabik-cabik surga di jiwaku.”

Sajak-sajak Gan-Gan R.A dalam bagian MTB menjadi semacam momen interogasi diri. Di sana ada rangkaian pengaduan, aroma pengakuan, sekaligus letupan situasi kritis yang mencerminkan kegelisahan personal penyairnya. “Hatimu terkapar diperkosa hidup yang porakporanda,” demikian ungkapan sajak “Lelaki di ujung Malam.” Malam digunakan sebagai petanda untuk secara tipikal menggambarkan ujung krisis dari disorientasi psikologisnya. Dan ujung malam juga diserupakan dengan munculnya kekosongan spiritual, di mana diri berada dalam kesadaran yang kerontang, tanpa oase jiwa. Dalam sajak “Ziarah Debu” Gan-Gan R.A memotret suasana kekosongan spiritual itu : “Mayat-mayat bisu bangkit menuding kalbu/Tak ada Tuhan di situ.”

Sajak di atas ditulis di sebuah lokasi, bernama Keroncong Permai, Tangerang, tahun 2005.  Lokasi di mana sajak dicipta, menjadi sebuah teks kontras antara wilayah eksternal dengan dunia internal penyair. Teks kontras itu semacam kenihilan yang memicu impresi akhir si penyair tentang keadaan batinnya saat itu; sebuah keadaan di mana relasi dengan yang transendental juga tampak nihil : tak ada Tuhan di situ. Motif alam luar sebagai pengancam, kembali muncul.

Tetapi alam tidak sepenuhnya menjadi realitas negatif bagi diri. Tahun 2000, si penyair mendatangi candi Cangkuang, dan mampu melihat realitas hipnotik dari lanskap tersebut. Sajak tentang candi Cangkuang itu ditulis dengan aksen romantik, dan diberi judul “Orkestra di Tepi Danau.” Penyair menggambarkan suasana agony  melalui larik berikut : “Ketika senja terkapar di puncak gunung/Kematian…/Merampas tarian burung rajawali.” Kali ini, penyair tidak lagi teringkus oleh ancaman alam. Ada kebangkitan personal; ditemukannya sebuah order, atau harapan simbolik, seperti larik sajaknya yang kemudian : “…seorang ibu/Bangkit dari liang lahat kesunyianku.”

Kebangkitan personal itu bukan motif baru dari jejak jiwa sang penyair. Jauh di tahun sebelumnya, 1997, Gan-Gan R.A sudah mampu merasakan efek sakralitas dan sublimasi yang ditampakkan alam. Dalam sajak “Ziarah Rajawali”, dia mencoba menggambarkan dunia ideal penyair sebagai sebentuk penyatuan antara potensi imanen dengan potensi mistis dari kesunyian alam, yang menghasilkan sebuah rumah tanpa kematian. Dalam sajaknya, Gan-Gan R.A menulis : “Tidak ada kematian/Aku bersatu dengan semesta/Jiwaku telanjang dan murni/Keagungan cinta dipeluk misteri.” Pada titik ini, Gan-Gan R.A mencoba membawa disorientasi personalnya dinaikkan ke lanskap yang lebih spiritual.

Maka yang ditemukkannya bukan lagi jenis kesepian yang banal dan fisikal. Justru ada kualitas baru dari kesepian itu, yang mampu memberi terapi dan empati spiritual. Dua tahun setelah lahir sajak “Ziarah Rajawali”, tahun 1999, dia menulis sajak dengan judul “Ataraxia” dan dalam lariknya, dia memberi kesaksian : “…kesepianku bukanlah patung-patung bisu/Kesepianku adalah tungku../Lapar jiwaku mencari kesejatian/Di sebuah akhir pada titik awal yang kekal.”  Sang penyair menyadari, bahwa akhir kesepiannya bukanlah ujung krisis, tapi justru merupakan jejak terjauh yang memungkinkannya bersentuhan dengan medan kesepian yang lebih transenden. Dalam  medan kesepian transenden itu, krisis diubah menjadi soliditas; dan kesepian berubah menjadi tungku.

Namun soliditas psikis, yang dihasilkan lewat penyatuan diri dengan medan transenden, bukanlah sebuah inklinasi perjalanan yang aman. Tanah Tangerang kembali memberinya kegelisahan, dan motif kekosongan spiritual kembali mengisi jejak jiwa si penyair. Konflik spiritualitas itu kini menjadi basis lain untuk menguji religiositasnya. Sajaknya tahun 2004, dengan judul “Rubuh”, meruapkan nuansa puitik Amir Hamzah.

Tetapi dalam realitas jiwa Gan-Gan R.A, menyeru kembali pada yang transenden, tidak melulu berisi lolongan kerinduan metafisik. Kerubuhan diberi arti yang lebih kontradiktif; dalam bentuk persaingan sikap yang selalu berganti, antara sujud dan berontak, atau antara taqwa dengan sejenis ateisme personal. Kontradiksi dan persaingan sikap hati yang tidak selesai itu, diutarakan lewat kalimat : “…doa-doaku tak lagi berarti/…sunyi yang menjadi kekasih para penyair/Kini berkhianat seperti pedang /Yang diayunkan tangan-tangan laknat/Tuhan,aku rubuh bersama firmanmu yang bergemuruh/Dalam jiwaku yang berulangkali mengutukmu.”

Lolongan kerinduan metafisik untuk lebih dekat ke wilayah dunia transenden, yang disertai keberanian untuk mengutarakan potensi ateisme personal diantara hasrat taqwanya, telah memberi kemampuan menampilkan ironi halus soal Tuhan. Lewat sajak “Senjakala Penyair”, Gan-Gan R.A mengajukan hipotesisnya : “…sepasang mata anjing liar/Menatap tajam ke jantungku/Saat senja tenggelam/…seorang penyair bergumam :/Tuhan, kita kesepian.”  A ha!, sebuah paralelisme yang ironis agaknya. Tuhan yang transenden menjadi serupa dengan individu yang imanen. Keduanya berjumpa dalam satu momen : Kesepian.

Ada kode tersirat yang turut membersit dari sajak “Senjakala Penyair”. Kode itu semacam pergeseran sudut pandang si penyair, dalam memahami esensi kegelisahan dan substansi kepenyairan. Bahwa jejak inklinasi dan deklinasi; rentang perjalanan antara order dengan disorder; antara situasi bermakna dan kekosongan selalu akan mewarnai hidup penyair; menjadi semacam medan perburuan yang tak bernama.

Puisi terakhir dalam bagian MTB berjudul “Mozaik Tak Bernama”, dan Gan-Gan R.A mencoba menegak dalam pergulatan :“Tak ada filsuf malam ini/Kekosongan memeluk detik yang berkarat/ Dan jelaga malam/Tidak mengirimkan Tuhan untukku/ Wajah masa lalu mendongak/Matanya berkilat seperti mata burung elang/Mencabik-cabik jiwa/Mengembara/Mengembara dalam diam.”

Sajak memang tidak ditulis.Sajak itu dilahirkan.Dan penyair adalah sebentuk kesadaran yang mencoba menangkap pengalaman dari berbagai mozaik peristiwa, termasuk peristiwa yang gagal ditangkap maknanya. Kegagalan atau keberhasilan melahirkan sajak , pada akhirnya menghadirkan jenis pengalaman puitik juga. Pengalaman puitik itu sejenis revolusi diam-diam. Sajak tidak memiliki sifat iklan atau buku ideologis di dalam dirinya.Sajak bukan kata yang diberi mikropon.Puisi adalah meraih kenduri dari sepi; dan melepaskannya kembali lewat presisi.

Bicara soal presisi puitik, sajak-sajak Gan-Gan R.A nampak disusun dengan seleksi majas dan plot kesadaran yang ketat.Bahan dasar sajaknya bersumber dari sisi-sisi aktualitas peristiwa, atau momen yang kualitatif bagi kesadarannya.Aktualitas dan momen itu, ditransformasi dengan stilistik pengucapan puitik, yang melakukan intensitas filosofis di satu sisi, dan pilihan ekspresi literal yang penuh parabel di sisi lainnya.Aksentuasi pengucapan romantik mewarnai caranya menumpahkan pengalaman subjektif itu.Bahkan, Gan-Gan R.A secara tersurat juga mengabadikan key-word yang menjadi pencirian dan pencarian lanskap romantik. Bagian ke dua kumpulan sajak Gan-Gan diberi judul :“Dan Badai Menjadi Kekasihku.” (DBMK).

*Benny Johanes (BenJon) adalah seorang dramawan, akademisi & pakar ilmu filsafat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *