Membedah Teks “Dan Badai Menjadi Kekasihku” Gan-Gan R.A: Jejak Hasrat dan Pintu Sepi (Bagian 2-Penutup)

  • Whatsapp
Dr. Benny Johanes, S.Sn.,M.Hum.

Oleh Dr. Benny Johanes

Cinta tak mungkin terjelma tanpa medium tubuh. Dan jika tubuh dilihat sebagai manifestasi hasrat yang paling murni, maka seluruh sensasi ragawi yang tercetus dalam perjumpaan dua tubuh, sensasi ragawi itu telanjang tanpa dosa. Penyair Gan-Gan R.A mencoba member pandangan tentang hasrat tubuh yang harus dibebaskan dari stigma kitabiah.

Bacaan Lainnya

Bicara soal presisi puitik, sajak-sajak Gan-Gan R.A nampak disusun dengan seleksi majas dan plot kesadaran yang ketat.Bahan dasar sajaknya bersumber dari sisi-sisi aktualitas peristiwa, atau momen yang kualitatif bagi kesadarannya.Aktualitas dan momen itu, ditransformasi dengan stilistik pengucapan puitik, yang melakukan intensitas filosofis di satu sisi, dan pilihan ekspresi literal yang penuh parabel di sisi lainnya.Aksentuasi pengucapan romantik mewarnai caranya menumpahkan pengalaman subjektif itu.Bahkan, Gan-GanR.A secara tersurat juga mengabadikan key-word yang menjadi pencirian dan pencarian lanska promantik.  Bagian ke dua kumpulan sajak Gan-Gan R.A diberi judul :“Dan Badai Menjadi Kekasihku.” (DBMK).

***

DBMK secara khusus menyaring sejumlah sajak, yang mengutarakan pandangan penyairnya tentang Cinta.Pengalaman cinta itu melibatkan perjumpaan penyair dengan sejumlah sensasi pengalaman tubuh.Di sisi yang lebih sublimatif, pengalaman cinta dimaknai sebagai persaingan yang terus menerus tumbuh antara Eros(naluri kehidupan) dengan Thanatos (naluri kematian).“Cinta seperti sekelompok kuda putih/Berlari menerobos belantara padang-padang sepi.”Begitu petikan dari sajak “Simfoni Untuk Kerudung yang Tersingkap”.

Gan-Gan R.A melihat cinta seperti sumber enerji dalam lanskap yang bebas.Sekaligus, enerji itu juga merupakan keleluasaan atau petualangan yang sulit ditertibkan.“Aku mengembara ke relung batin perawan/Mencari buah dari pohon yang dulu terlarang/Dengan tubuhku/Dengan tubuhmu/Telanjang/Telanjang/Tak ada dosa/Tak ada dosa/Dari surgamu yang kau tawarkan untukku.”Begitulah petikan dari sajak “Ziarah Tubuh” bertarikh 2005.

Cinta tak mungkin terjelma tanpa medium tubuh.Dan jika tubuh dilihat sebagai manifestasi hasrat yang paling murni, maka seluruh sensasi ragawi yang tercetus dalam perjumpaan dua tubuh, sensasi ragawi itu telanjang tanpa dosa.Penyair Gan-Gan R.A mencoba memberi pandangan tentang hasrat tubuh yang harus dibebaskan dari stigma kitabiah.

Tetapi Gan-Gan R.A memahami dimensi yang lebih sublim dari cinta yang bersumber dari perjumpaan tubuh.Tubuh itu sendiri adalah pengalaman yang bertransformasi.Tubuh bukan flesh.Tubuh adalah korpus yang bisa dijelmakan kembali dalam paradigma cinta yang lebih sublim. Dua sajak Gan-Gan, “Terimalah Lelakimu”(2005) dan “Dendang Penyair Kepada Istrinya” (2005) merekam bagaimana pemahaman sublimatif atas nama cinta, dapat diterjemahkan oleh penyairnya, hampir-hampir seperti sebuah ode bagi perempuan.

Pada tingkat pemahaman yang sublimatif, Gan-Gan  R.Amemandang perempuan sebagai bagian dari tubuh alam, ketika dia menyebut frase ini kepada istrinya : “kulamar engkau pesona cakrawala.” Pada bagian lain, dia menulis “Dan seperti ibuku/Kau manjakan aku sepenuh hatimu.”Perempuan yang menjelma sebagai istri, merupakan sejenis pengalaman reinkarnasi bagi pemulihan cinta asali seorang ibu.

Dalam konteks pemahaman soal Cinta,  Gan-Gan R.A menampilkan wajah cinta dalam dua dimensi. Cinta dalam dimensi fisik dan dimensi metafisik.Cinta dalam dimensi fisik telah memberinya kekuatan menggugah, untuk menemukan kembali enerji cinta dari alam romantik.Dan kualitas cinta itulah yang dijumpainya saat si penyair masuk ke dalam kehidupan baru sebagai suami dan ayah.Cinta dalam dimensi metafisik telah memberinya pintu untuk menyentuh enerji cinta yang abadi.Dan untuk menyentuh enerji cinta yang abadi, si penyair mendapatkannya lewat momen sepi dan rindu, yang mengutuhkan pengalaman religiositasnya.

Puncak dari religiositas cinta itu dipahami Gan-Gan R.A sebagai sakralitas yang dapat dijumpai dalam relasi altruistik antar manusia. Itulah sebabnya, manifestasi cinta abadi yang paling luhur akan sedekat rahim, sedekat ibu. Ibu biografis dan ibu metafisik bersatu mewujudkan kualitas transenden di dunia sekulernya.Ibu adalah “Seharum surgawi/Pintu langit dan bumi.”

***

Bagian ketiga dari kumpulan sajak ini berjudul “Berlin Room.”Bagian ini merekam sejumlah kepahitan bersama tubuh, juga komentar liris atas dunia eksternal penyair, di mana keruntuhan nilai teralami oleh si aku-lirik.Pada bagian ini, sajak-sajak Gan-Gan R.A tampak menjadi lebih biografis.Narasi dalam sajak tumpah sebagai pengakuan.Kepahitan bersama tubuh, membawa Gan-Gan R.A pada situasi penolakan identifikasi dan negasi diri.Tubuh mengalami deklinasi, dan bersamaan dengan keruntuhan itu, penyair kehilangan parabelnya.Kepahitan bersama tubuh, membawa Gan-Gan R.A pada situasi penolakan identifikasi dan negasi diri.Tubuh mengalami deklinasi, dan bersamaan dengan keruntuhan itu, penyair kehilangan parabelnya.

Dalam sajak “Simfoni Rasta”, Gan-Gan R.Amenulis :“Jiwaku bukan lagi rajawali/Jiwaku serupa burung hantu../Terkutuklah tubuhku..”Ada kepahitan dan perasaan tersiksa.Tapi juga menggambarkan bayangan ketakutan pada dunia eksternal, yang telah menyuapkan toksik bagi jiwa.Tubuh lalu menjadi medium yang memerosok jiwa. Dan sang penyair kehilangan surga simboliknya.

Gan- Gan R.A memasuki wilayah alkohol; sensasi tubuh urban, dan cinta yang pecah menjadi ledakan hasrat libidinal.“Dengan sebotol bir hitam/Di tengah syahwat yang menyala/Dan rokok yang tidak pernah padam…/Melemparkan seorang penyair/Ke trotoar subuh yang dingin.”Itulah petikan dari sajak “Yang Tergerai”, bertarikh 2008.Ini momen disorder yang dihadapinya, dimana cinta yang sublim sedang memudar, berganti dengan toksik dan godaan urban.

Cinta memberi proteksi dan pemulihan, dan menjadi pintu untuk memasuki zona kenyamanan.Tapi toksik dan godaan urban, menggenjot hasrat, masuk ke dalam relasi sosial yang khaotik; dan eksplosi menjadi pintu kehampaan. Sosok-sosok yang ditemui penyair muncul sebagai topeng, dan sang penyair mencoba mengambil jarak, tapi sekaligus ingin tercebur dalam kegamangan itu. “Kau mendesah/Seperti bar atau diskotik yang menipu nurani” (Simfoni Rasta); “Mulutmu yang ramah bagai kamar hotel bintang lima.”(Senandung Red Wine); “Perempuan yang membunuhku dengan tarian…/Aku ingin meledakkan diriku/Dalam panas api tubuhmu.”( Yang Menari Dalam Badai).

Dalam bagian “Berlin Room”, lanskap malam Tangerang menjadi dominan.Gan-Gan R.A menghirup wilayah-wilayah sensasinya, lalu menangkap berbagai momen kematian sosial.Tetapi ini jenis kematian yang telah menyeretnya ke dalam sisi radikal, yang justru menghidupkan, meskipun penuh kontradiksi.

“Ketika handphone berdering/Neraka itu indah/Dan Lucifer mengangkat gelas/Merayakan khianat yang paling laknat.”(Sajak “Ketika Handphone Berdering). “Seratus sketsa tubuh wanita telanjang berserakan di kamar batinku/….Mengirim kesakitan-kesakitan bagi geletar rindu.” (Sajak “Di Persimpangan Jalan Rindu”.) Dari petikan  dua sajak itu, kita diajak menangkap dua wajah dosa : Dosa membuatmu terhukum, sekaligus membuatmu hidup. Hidup itu mereproduksi hukuman, membuatmu terus hidup meski terhukum.Sebuah eksistensialisme yang remuk, tapi tidak sentimental.

Lanskap malam Tangerang telah menepikan sang penyair pada dua realitas wajah, yang akan terus hadir dalam pengalaman kontradiktifnya. Wajah yang imanen adalah wajah penyair itu sendiri.Wajah yang berusaha memahami esensi. Wajah yang lain adalah diri transaksional; diri yang menghadapi realitas keras, yang mengancam dunia esensi. Dan ancaman itu makin akrab, menjadi bagian kontaminatif, tapi tak tertolak. Gan-Gan memotret realitas itu melalui sajak “Di Lobby Hotel” :“…setelah deal disepakati/Sebuah biasa;/Musik, wanita sexy dan minuman Eropa/Menjadi penutup penat kerja/Di Lobby hotel/Di room karoke/Rasa muak menggelegak/Bersekutu dengan angka-angka.”

Dalam “Berlin Room” Gan-Gan menemukan aneka kontradiksi yang tak pernah habis.Kontradiksi antara jiwa murni yang terperangkap dalam lanskap kontaminasi.Atau pertentangan eksistensial antara kekosongan dan ledakan gairah binal.Itu semua menjadi “badai”, tetapi yang ingin dicumbunya sebagai kekasih.Dalam diri si penyair telah terbentuk permukaan padat, tempat moralitas dan kesadaran dapat tumbuh kukuh.Tetapi ada lapisan tektonik yang terus bergerak di bawah permukaan padat itu.Dan dari lapisan itulah sejumlah pintu menyeruak. Pintu itu menuju sepi, pintu lain membawa jejak ke petualangan hasrat.

Sajak-sajak penyair Gan-Gan R.A telah ditulis dengan tenang dan terukur; meruapkan nafas romantik dalam pilihan majas; dan percaya pada cinta yang bisa memulihkan keruntuhan.

*Benny Johanes (BenJon) adalah seorang dramawan, akademisi & pakar ilmu filsafat.

  • Whatsapp

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.