Masih Sakit, Bank Banten Berusaha Menyelamatkan Diri

  • Whatsapp
bank banten
Direksi Bank Banten menggelar RUIPS beberapa waktu lalu.

KOTA SERANG, REDAKSI24.COM – Jajaran pengurus manajemen Bank Banten masih mencoba melakukan penyelamatan perseroan secara mandiri sesuai dengan keinginan Pemprov Banten. Untuk itu, manajemen akan kembali melakukan aksi korporasi atau Penawaran Umum Terbatas (PUT) VI.

Sebelum melaksanakan PUT VI, sebagai perusahaan terbuka, Bank Banten akan terlebih dahulu melakukan Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPS-LB) yang direncanakan akan melaksanakan pada tanggal 2 Oktober 2020.

Bacaan Lainnya

PUT VI ini sendiri awalnya direncanakan dilaksanakan pada bulan Agustus 2020 ini. Sebelum pelaksanaanya, jajaran direksi Bank Banten mengatakan sudah ada investor yang stanby buying berasal dari Timur Tengah yang mengaku sudah siap berinvestasi di Bank Banten.

Selain dari investor luar negeri, ada juga investor lokal yang mengaku sudah siap membeli saham Bank Banten. Namun belakangan, direksi mengumumkan PUT VI tidak jadi dilaksanakan pada bulan Agustus.

BACA JUGA: Pemprov Banten Enggan Kembalikan Lagi RKUD ke Bank Banten

Menurut informasi yang dihimpun, penundaan PUT VI tersebut dikarenakan tidak ada investor yang berniat menanamkan investasinya di Bank Banten. Sementara investor yang dikatakan jajaran Direksi Bank Banten sudah standby buying itu, diduga bodong.

Direktur Utama Bank Banten Fahmi Bagus Mahesa dalam rilisnya yang Redaksi24.com dapatkan menyebut, dalam Penawaran Umum Terbatas (PUT) VI ini pihaknya akan menerbitkan tipe saham baru yakni saham seri C dengan nominal Rp50/lembar dengan jumlah saham yang akan diterbitkan sebanyak 60.820.296.033 lembar melalui Penambahan Modal dengan Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (PMHMETD)

“Penggabungan tersebut dalam upaya memenuhi persyaratan Bursa Efek Indonesia (BEI) terkait harga minimum penerbitan saham dalam melaksanakan PUT VI dan VIII PMHMETD, dengan rasio 10 saham menjadi satu dengan nilai yang baru,” imbuhnya.

Sehingga kemudian, kata dia, dengan reverse stock ini nilai saham seri A yang semula Rp100/lembar menjadi Rp1.000/lembar, sedangkan untuk saham seri B yang semula Rp18/lembar menjadi 180/lembar. Penggabungan saham ini akan berdampak pada kepemilikan saham dalam bentuk pecahan atau kurang dari 1 saham.

BACA JUGA: HMB Jakarta Minta Penyertaan Modal Bank Banten Dikaji Ulang

Fahmi melanjutkan, aksi korporasi ini juga sebagai bentuk dukungan terhadap rencana penambahan modal dari Pemprov Banten sebesar Rp1,55 triliun yang tertuang dalam Perda nomor 1 tahun 2020 tentang Perubahan Atas Perda Banten Nomor 5 Tahun 2013 tentang Penambahan Penyertaan Modal Ke Dalam Modal Saham PT Banten Global untuk Pembentukan Bank Pembangunan Daerah Banten.

“Penguatan modal yang berasal dari hasil dana PMHMETD tersebut akan kami gunakan untuk melakukan pengembangan bisnis Bank Banten terutama di sektor penyaluran kredit serta penguatan struktur keuangan Perseroan sesuai dengan ketentuan Perbankan,” ungkapnya.

Sebagai informasi, reverse stock split adalah aksi emiten untuk mengendalikan harga saham, dilakukan dengan menggabungkan saham-sahamnya dan menghasilkan sejumlah kecil saham yang dianggap lebih bernilai dari sebelumnya. Ini kebalikan dari aksi korporasi stock split, pemecahan nilai nominal saham.

Ada tiga mekanisme penyelamatan Bank Banten yang ditawarkan kepada Pemprov Banten. Pertama penyelamatan secara mandiri, yakni lewat penambahan penyertaan modal dan aksi korporasi.

Hal yang pertama sudah dilakukan Pemprov Banten melalui skema penambahan penyertaan modal dari dana Kasda yang mengendap di Bank Banten sebesar Rp1,55 triliun, 50 persen dari total nominal yang direkomendasikan OJK untuk menyelamatkan dan menyehatkan Bank Banten.

Sementara untuk aksi korporasi kini tahapannya sedang dilakukan oleh jajaran direksi Bank Banten. Sedangkan skema kedua yakni melalui marger dengan bank BJB Syariah. Yang terakhir diserahkan kepada Lembaga Penjamin Simpanan (LPS). (Luthfi/Difa)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.