Masih Banyak Orang Indonesia Anggap COVID-19 Rekayasa

oleh -
COVID-19 Rekayasa,Orang Anggap Rekayasa,Indonesia,Masih Banyak Orang,Kementerian Kesehatan,RI,Lembaga Survei,Parameter Politik
Ilustrasi - Masih Banyak Orang Indonesia menganggap COVID-19 Rekayasa/Antara

JAKARTA, REDAKSI24.COM–Kasus positif COVID-19 di Indonesia masih terus bertambah, data Kementerian Kesehatan RI mencatat, hingga Senin (22/2/2021) jumlah kasus positif COVID-19 sudah mencapai 1.288.833 kasus, dengan angka sembuh 1.096.994 orang, sementara angka kematian mencapai  34.691 orang.

Namun demikian, berdasarkan hasil survei yang dilakukan Parameter Politik Indonesia menunjukan, masih banyak orang Indonesia yang menganggap bahwa COVID-19 adalah konspirasi, dan hasil rekayasa manusia.

“Setelah hampir satu tahun COVID-19 masuk Indonesia, ternyata masih cukup banyak orang yang menganggap COVID-19 adalah konspirasi (20,3 persen) dan merupakan hasil rekayasa manusia (28,7 persen),” kata Direktur Eksekutif Parameter Politik Indonesia Adi Prayitno dalam keterangannya, di Jakarta, Senin (22/2/2021).

Menurut dia sosialisasi maupun edukasi terhadap masyarakat terkait COVID-19 masih penting untuk terus digencarkan.

“Survei menanyakan kepada responden apakah COVID-19 nyata atau konspirasi yang dibuat untuk tujuan tertentu,” jelasnya.

Hasilnya, lanjut dia, sebanyak 56,7 persen anggap  COVID-19 adalah nyata, 20,3 persen menganggap virus tersebut merupakan konspirasi, dan 23 persen tidak menjawab.

Adi menyebut, survei tersebut juga menanyakan kepada responden apakah COVID-19 terbentuk secara alami atau rekayasa buatan manusia untuk tujuan tertentu.

“Sebanyak 48,9 persen responden menilai  anggap COVID-19 terbentuk secara alami, 28,7 persen buatan manusia, dan tidak menjawab sebesar 22,4 persen,” ujarnya.

Dia menjelaskan, temuan lain data survei tersebut menunjukkan bahwa kondisi ekonomi masyarakat saat ini masih relatif belum membaik dibanding 10 bulan yang lalu saat virus corona baru menyerang Indonesia.

Kata dia, sebanyak 44,2 persen responden menilai kondisi ekonomi keluarga sama saja dibandingkan saat virus tersebut menyerang Indonesia pada bulan April 2020.

“Sebanyak 39,1 persen menilai kondisi ekonomi keluarga lebih buruk, 13,9 persen menganggap kondisinya lebih baik, dan 2,8 persen tidak menjawab,” ucapnya.

Kondisi itu, papar dia, memicu kejenuhan masyarakat sehingga bersikap kurang peduli terhadap wabah virus corona.

Dan ketika responden diminta memilih antara aktifitas ekonomi atau penanggulangan wabah, masyarakat terbelah.

“Responden cenderung lebih memilih pembebasan aktifitas ekonomi walaupun berpotensi meningkatkan penyebaran COVID-19 yaitu sebesar 39,1 persen, dan sebanyak 32,9 persen responden memilih membatasi aktifitas ekonomi masyarakat demi mengurangi penyebaran virus corona,” paparnya.

Survei Parameter Politik Indonesia tersebut dilakukan pada 3-8 Februari 2021 dengan melibatkan 1.200 responden, diambil dengan menggunakan metode simple random sampling dari 6.000 data target yang telah dipilih secara random dari kerangka sampel.

Pengumpulan data dilakukan dengan metode telepolling menggunakan kuisioner yang dilakukan oleh surveyor terlatih. Margin of error survei sebesar ± 2,9 persen pada tingkat kepercayaan 95 persen. (Imam Budilaksono/Ant/ejp)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.