Masa Pandemi, Pihak Sekolah Harus Punya Formula Belajar Yang Mudah Diadaptasi Siswanya

oleh -
PTM di salah satu sekolah di Kota Tangerang.

KOTA TANGERANG, REDAKSI24.COM – Pengamat Pendidikan Universitas Islam Syekh Yusuf (Unis) Kota Tangerang, Eny Suhaeni mengungkapkan pola perilaku pelajar tingkat SD hingga SMP di Kota Tangerang, Banten, mengalami perubahan selama Pandemik COVID-19.

Pandemik yang memaksa sekolah menerapkan kegiatan belajar mengajar (KBM) via daring selama dua tahun terakhir, menjadi salah satu faktornya. Apalagi para pelajar tersebut juga tidak melakukan aktivitas bersosialisasi, di sekitar tempat tinggalnya.

“SMP, SD, SMA paling beberapa yang saya lihat dari di wilayah Kota Tangerang. Ada yang plonga-plongo jadi bingung, seperti mereka biasa menghadapi teknologi laptop dan handphone serta tidak pernah bertatap muka dengan gurunya,” ungkapnya kepada Redaksi24.com, Sabtu (22/1/2022).

Eny mengatakan beberapa pelajar itu juga lupa dengan ritual sekolah, saat pembelajaran tatap muka (PTM) kembali digelar. Tidak hanya itu para pelajar juga kehilangan etika dalam bersosialisasi di sekolah, baik sesama pelajar maupun dengan gurunya.

BACA JUGA: PTM SD di Kota Tangerang Wajib Laksanakan Prokes

“Etika bergaul, sopan santun terhadap guru seperti apa,  mereka kehilangan itu. Bahkan ada sekolah yang khusus membina secara kerohanian anak-anak yang mengalami itu, ya semacam mereka ada syok edukasi,” ujarnya.

Secara sosial, kata dia, siswa-siswi tersebut  juga mengalami perubahan. Biasanya mereka sosialisasinya bagus dan rileks, sekarang nampak  kaku. 

Selain itu, tambah Eny, belajar via daring juga berdampak buruk terhadap pola belajar. Para pelajar yang terbiasa menggunakan teknologi dalam mencari informasi jawaban,  nampak gagap ketika mendapat soal yang diberikan oleh gurunya.

“Ketika para siswa itu belajar langsung dan diuji oleh guru tampak Gagap karena  mereka terbiasa googling. Jadi kalau menjawab itu gampang megang handphone, ketika handphonenya diambil  sama sekali  itu tidak mengerti atau, blank (bingung),” jelasnya.

Karenanya, kata Eny, saat ini pihak sekolah harus melakukan pendekatan psikologis kepada para pelajar, dan mencari formula belajar agar dapat diadaptasi oleh para muridnya.

“Kemudian setiap pagi ada sekolah yang melaksanakan tausiah, diberikan siraman rohani supaya anak-anak kembali lagi seperti dahulu. Lalu supaya otaknya dirangsang kembali untuk belajar sebagaimana dua tahun lalu, dan ini juga memerlukan waktu,” pungkasnya. (Candra/-Aan).

No More Posts Available.

No more pages to load.