Mantan Bendum Partai Demokrat M Nazaruddin Bebas

  • Whatsapp
M Nazaruddin
Terpidana kasus korupsi proyek Hambalang, mantan Bendum Partai Demokrat, M Nazaruddin, bebas murni setelah menjalani masa cuti menjelang bebas, di Balai Pemasyarakatan (Bapas) Bandung, Jalan Ibrahim Adjie, Kota Bandung, Kamis (13/8/2020).

BANDUNG, REDAKSI24.COM– Terpidana korupsi kasus proyek wisma atlet Hambalang, mantan Bendum  (Bendahara Umum) Partai Demokrat,  M Nazaruddin, dinyatakan bebas murni setelah menjalani masa cuti dua bulan menjelang bebas di Bapas (Balai Pemasyarakatan) Bandung, Jawa Barat.

Menurut Pembimbing Kemasyarakatan (PK) Madya Bapas Bandung, Budiana, Nazaruddin menjalani cuti menjelang bebas sejak 14 Juni 2020 dan selama itu telah melakukan wajib lapor sebanyak sembilan kali.

Bacaan Lainnya

“Saat menjalani bimbingan, Nazaruddin selalu komunikasi dengan PK, di mana pun keadaan yang bersangkutan. Selaku pembimbing, saya mengetahui secara pasti,”ujar Budiana di Bapas Bandung, Kota Bandung, Kamis.

Budiana memastikan Nazaruddin berperilaku baik selama dalam masa bimbingan cuti menjelang bebas. Dikatakan, mantan Bendahara Umum Partai Demokrat itu dibebaskan sesuai jadwalnya karena telah menaati aturan yang ditetapkan. “Hari ini saya akan menyerahkan surat selesai menjalani masa cuti menjelang bebasnya,”tuturnya.

Sementara itu Nazaruddin mengaku dirinya memetik hikmah setelah menghirup udara bebas. Diperoleh informasi, Nazaruddin seharusnya bebas pada tahun 2025 nanti, namun karena mendapat berbagai remisi, ia sudah keluar dari Lapas Sukamiskin sejak masa cuti menjelang bebas.

“Mungkin ini memang yang terbaik buat saya, ke depan semua pengalaman akan ada hikmahnya,”ungkap Nazaruddin.

Dalam kasus korupsi proyek wisma atlet Hambalang, Nazaruddin oleh pengadilan dinyatakan terbukti menerima suap Rp4,6 miliar dari mantan Manajer Pemasaran PT Duta Graha Indah (DGI) M El Idris. Setelah divonis hakim, hukumannya diperberat oleh Mahkamah Agung menjadi 7 tahun dan denda Rp 300 juta.

Kemudian vonis Nazaruddin ditambah 6 tahun penjara dan denda Rp 1 miliar karena terbukti secara sah dan meyakinkan menerima gratifikasi dan melakukan pencucian uang dari PT DGI dan PT Nindya Karya untuk sejumlah proyek yang jumlahnya mencapai Rp40,37 miliar.(Bagus/Ant/Jaya)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.