Mahasiswa Cilegon Cabut Laporan ke Propam Polda Banten

oleh -
demo ricuh
Sejumlah mahasiswa Front Mahasiswa Cilegon berdialog dengan KApolres Cilegon, AKBP Yudhis Wibisana, Rabu (26/2/2020) .

CILEGON, REDAKSI24.COM – Sejumlah elemen mahasiswa yang tergabung dalam Front Mahasiswa Cilegon (FMC) yang terdiri atas berbagai organisasi kemahasiswaan di Kota Cilegon, memenuhi panggilan Kepala Kesatuan Intelkam (Kasatintel) Polres Kota Cilegon, Rabu (26/2/2020) malam.

Pemanggilan mahasiswa menyusul aksi unjukrasa memperingati satu tahun kepemimpinan Edi Ariadi sebagai Wali Kota Cilegon yang berakhir ricuh, Kamis (20/2/2020) lalu.

Informasi yang dihimpun  Redaksi24.com, panggilan tersebut rupanya ajakan audiensi dengan Kapolres Cilegon AKBP Yudhis Wibisana. Pasalnya, ada beberapa mahasiswa yang menjadi korban tindakan refresif polisi. Sehingga pada Jumat (21/2/2020), mahasiswa melaporkan tindakan represif petugas Polrses Cilegon ke Propam Polda Banten.

Audiensi digelar di Ruang Tamu Kapolres Cilegon secara tertutup. Hasil audiensi membuahkan hasil kesepakatan. Pihak mahasiswa memutuskan untuk mencabut laporan yang sempat dilayangkan ke Propam Polda Banten.

Koordinator Lapangan (Korlap) aksi Mahasiswa Cilegon, Sabawi yang juga korban pada kericuhan mengatakan, kedua belah pihak, baik FMC dan Polres Cilegon menyepakati permohonan maaf masing-masing atas kericuhan yang terjadi saat aksi unjukrasa Kamis lalu. Keduanya bersepakat damai dengan jalan kekeluargaan.

“Kami selaku mahasiswa, aksi kemarin subtansinya belum kena. Jadi kami rekonsiliasi masalah pelaporan ke Propam dengan beberapa catatan. Dari Polres Cilegon sudah meminta maaf. Artinya kami juga sudah meminta maaf. Jalan kekeluargaan,” kata Sabawi usai Audiensi di Ruang Tamu Kapolres Cilegon, Rabu (26/2/2020).

Lanjut Sabawi, pihaknya sesegera mungkin akan mencabut laporan tersebut. Selain itu, pihak kepolisian juga berjanji, akan menjembatani mahasiswa untuk bisa bertemu dengan kepala daerah di Kota Cilegon.

“Karena jujur waktu itu kami terbawa emosi dan nggak berpikir panjang. Nanti pihak kepolisian akan menjembatani kami bertemu dengan wali kota,” ujarnya.

Ia juga menceritakan, maksud awal unjukrasa untuk menyuarakan aspirasi terkait refleksi satu tahun kepemimpinan Edi Ariadi sebagai Wali Kota Cilegon. Pihaknya menilai, masih banyak permasalahan sosial di Cilegon yang belum bisa dituntaskan.

Sejak dilantiknya Edi Ariadi menjadi wali kota, menurut mahasiswa, justru menimbulkan masalah baru, diantaranya pengangguran dan banjir.

Lanjut Sabawi, ditengah aksi unjukrasa kemudian terjadi kericuhan antara mahasiswa dengan kepolisian. Dia mengaku, ingin membantu rekannya, Arifin yang ditarik paksa petugas. Saat bersamaan, ia juga berniat membantu rekannya, Rizki. Namun Arifin sudah dibawa polisi. Saat ingin membantu, ia justru mendapat perlakuan refresif dari petugas.

“Saya langsung turun dari mobil komando. Niatnya mau menolong Rizki, Ketua IMC. ternyata ada Arifin yang sudah dibawa polisi. Terus saya lari, niatnya mau mengamankan, ternyata justru didorong dan dibanting, ditendang,” tuturnya.

Sementara itu, Kabagops Polres Cilegon, Kompol Kamarul Wahyudi menyatakan, permasalahan kedua pihak sudah selesai. Pertemuan kedua belah pihak membuahkan hasil yang positif. “Itu sudah cair. Ada hikmah positif dari peristiwa ini,” ujarnya.

Kamarul berjanji akan menjembatani setiap aspirasi mahasiswa kepada pemerintah dalam setiap aksi unjukrasa. “Kami siap menfasilitasi semua pihak, termasuk mahasiswa selama penyampaian aspirasi dilakukan sesuai prosedur,” tandasnya. (Firasat/Difa)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.