LPA dan PPA Polres Pandeglang Sepakat Entaskan Kasus Kekerasan Anak

oleh -
Jajaran Komnas PA LPA Pandeglang, memberikan cindera mata kepasa Petugas Unit PPA Polres Pandeglang.

PANDEGLANG, REDAKSI24.COM – Komnas Perlindungan Anak Lembaga Perlindungan Anak (PA LPA) Kabupaten Pandeglang, bersama Unit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Polres Pandeglang, membuat kesepahaman dalam menuntaskan kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak di daerah yang berjuluk kota santri ini.

Tak hanya itu, kedua lembaga sepakat kasus kekerasan anak dan perempuan menjadi perhatian khusus. Karena sepanjang tahun 2019 lalu, setidaknya terjadi sebanyak 28 kasus kekerasan anak dan perempuan di Kabupaten Pandeglang.

Ketua Komnas PA LPA Pandeglang, Mu’jizat Gobang Pamungkas mengatakan, kesepahaman ini sudah terjalin dengan baik sejalan dengan sertifikat tingkat pratama yang diberikan pemerintah pusat kepada Pemkab Pandeglang sebagai kota layak anak.

Untuk itu, pihaknya bersama PPA Polres Pandeglang akan terus berupaya melakukan pencegahan terjadinya kasus kekerasan terhadap anak, serta berupaya untuk menuntaskan kasus tersebut secara hukum. Saat ini, kata dia, masih tersisa 7 kasus kekerasan anak yang masih dalam proses penanganan hukum di Polres Pandeglang.

BACA JUGA: Tinggal di Kandang Kambing, Sana Warga Jiput Pandeglang Tak Pernah Dapat Bansos

“Kami berupaya mencegah kasus-kasus anak di Pandeglang serta menuntaskannya secara hukum, bahkan saat ini menjadi atensi khusus Ketua umum Komnas PA Pusat. Terlebih Pandeglang, sudah mendapatkan rekomendasi untuk menjadi daerah layak anak,” ungkapnya, Kamis (9/7/2020).

Menurutnya, langkah tersebut juga mendapat respon positif serta atensi khusus dari Kapolres Pandeglang, untuk dapat menuntaskan kasus-kasus anak sesuai prosedur.

“Kerjasama ini agar terjalin lebih bagus lagi dalam pertukaran data dan informasi agar penanganan kasus anak lebih cepat dan lebih baik lagi di masa depan,” katanya.

BACA JUGA: SPBU Mobil Buka Lagi, Satpol PP Pandeglang ‘Tak Berdaya’

Kapolres Pandeglang, AKBP Sofwan Hermanto menuturkan, pihaknya berharap semua pihak bahu membahu dalam penanganan kasus kekerasan anak di Pandeglang, mulai dari keluarga dan lingkungan masing-masing bisa diterapkan dengan teori sosial bond.

“Dengan harapan agar anak yang akan menjadi generasi masa depan dapat mengisi bangsa dan negara ini dengan baik, tidak terganggu hal-hal negatif yang tidak diharapkan,” tandasnya. (Samsul Fathoni/Difa)