,

Limbah Batu Bara dan Sawit Ternyata Memiliki Nilai Ekonomi Tinggi

oleh -
limbah batu bara,faba,pabrik sawit,pltu,b3
Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Bengkulu berkapasitas 2x100 megawatt/Antara.

JAKARTA, REDAKSI24.COM–Peneliti Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) menyatakan Fly Ash dan Bottom Ash (FABA) atau limbah padat yang dihasilkan dari proses pembakaran batu bara pada PLTU dan pabrik sawit memiliki nilai ekonomi tinggi karena dapat dimanfaatkan untuk penunjang infrastruktur.

Peneliti LIPI menyebut saat ini tidak satu pun negara yang mengategorikan limbah batu bara dan pabrik sawit sebagai bahan berbahaya dan beracun (B3).

“Komposisi dari FABA ini sudah kami analisa dan sebagainya, tidak ada yang berbahaya. Limbah batu bara PLTU dan pabrik sawit ini dapat dimanfaatkan, seperti untuk bahan baku pembuatan jalan, conblock, semen hingga bahan baku pupuk,” ujar Nurul Taufiqu Rochman, Peneliti Pusat Penelitian Metalurgi dan Material LIPI, di Jakarta, Selasa (23/3/2021).

Menurut dia, limbah batu bara dan sawit justru menjadi bahaya ketika tidak digunakan atau ditumpuk dalam jumlah banyak.

“Jadi, kerugian besar jika limbah itu tidak dimanfaatkan,” kata Nurul.

Direktur Eksekutif Asosiasi Perusahaan Batubara Indonesia (APBI) Hendra Sinadia mengatakan pemerintah sudah tepat menghapus FABA dari daftar limbah berbahaya atau B3. Indonesia harus meniru negara maju dalam mengelola FABA.

“Ini bisa dimanfaatkan secara umum. Ini best practice di banyak negara, seperti China, Jepang, Vietnam. Sebagai bangunan semen dan jalanan. Di Jepang, Bendungan Fukushima itu bahan bakunya dari limbah batu bara. Jadi kenapa kita tidak belajar dari itu,” ucap Hendra.

Sejumlah perusahaan batu bara, termasuk perusahaan pembangkit listrik tenaga uap telah melakukan kajian tentang pemanfaatan FABA yang menyatakan bahwa bahan baku dari FABA aman digunakan.

“Tapi untuk pemakaian massal memang belum, karena masih harus ada clearence,” ujar Hendra.

Di Indonesia, pemanfaatan FABA masih skala kecil, padahal produksi FABA dari PLTU mencapai belasan juta ton per tahun. Selama ini limbah itu hanya ditimbun tanpa pengelolaan.

“Timbunan yang serampangan ini malah yang membuat risiko buruk kepada lingkungan. Kalau bisa dimanfaatkan ini malah mempunyai nilai tambah,” katanya.

Executive Vice President Komunikasi Korporat dan CSR PLN, Agung Murdifi menyatakan PLN tidak akan membuang limbah batu bara dan akan bekerja sama dengan banyak pihak untuk memanfaatkannya.

PLN telah melakukan berbagai uji coba dan mengembangkan limbah hasil pembakaran PLTU agar bisa dimanfaatkan.

Di PLTU Tanjung Jati B yang berlokasi di Kabupaten Jepara, Jawa Tengah, limbah pembakaran batu bara diolah menjadi batako, paving dan beton pracetak.

”Hasil olahan dari limbah itu kami manfaatkan untuk merenovasi rumah di sekitar PLTU Tanjung Jati B,” jelasnya.

Kemudian di PLTU Asam Asam memanfaatkan FABA sebagai road base (lapisan jalan) dalam pembuatan akses jalan.

PLTU Suralaya memanfaatkan FABA sebagai bahan baku batako dan bahan baku di industri semen.

Sementara, PLTU Ombilin memanfaatkan FABA menjadi campuran pupuk silika.

Sebelumnya, FABA dikategorikan menjadi Non-B3 sesuai Peraturan Pemerintah (PP) 22 Tahun 2021 tentang Penyelenggaraan Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup.

Berdasarkan hasil uji laboratorium independen atas Toxicity Characteristic Leaching Procedure (TCLP) dan Lethal Dose 50 (LD50) yang sampelnya berasal dari beberapa PLTU, FABA yang dihasilkan tidak mengandung unsur yang membahayakan lingkungan (bukan B3). (Antara/ejp)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.